KOMPAS.com - Sebagian besar perusahaan memajukan inisiatif keberlanjutan mereka selama setahun terakhir meski regulasi terus berubah, menurut survei baru yang dirilis oleh penyedia solusi data bisnis dan pelaporan, Workiva.
Kendati demikian, lebih dari 40 persen perusahaan menyatakan mereka tetap melakukannya sembari lebih berhati-hati dalam berkomunikasi secara eksternal mengenai keberlanjutan.
Baca juga:
Studi Workiva’s 2026 Executive Benchmark Report ini dilakukan dengan menyurvei hampir 1.500 profesional di organisasi global dari berbagai fungsi, termasuk departemen keuangan dan akuntansi, keberlanjutan, audit internal, operasional, dan hukum.
Survei juga menyertakan lebih dari 300 investor institusional di seluruh Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada, dilansir dari ESG Today, Kamis (12/2/2026).
"Mencapai keseimbangan yang baik antara keuntungan bisnis dan mitigasi risiko kini menjadi tantangan yang dihadapi oleh tim keberlanjutan global, saat mereka berhadapan dengan tekanan yang saling bertentangan dan lingkungan regulasi yang tidak pasti," ucap Wakil Presiden Strategi Regulasi di Workiva, Andromeda Wood.
Survei Workiva pada 1.500 profesional global menunjukkan 40 persen perusahaan lebih hati-hati mengomunikasikan keberlanjutan di tengah ketidakpastian.Di antara temuan utama terkait keberlanjutan, survei menemukan adanya pergeseran signifikan dalam strategi komunikasi keberlanjutan perusahaan-perusahaan yang menghadapi tekanan yang sering bertentangan, dari ketidakpastian regulasi, retorika politik, hingga tuntutan investor.
Studi mengindikasikan bahwa 43 persen perusahaan melaporkan menjadi lebih berhati-hati dalam berkomunikasi mengenai keberlanjutan secara eksternal selama setahun terakhir, tapi tetap terus memajukan insiatif tersebut secara internal.
Sementara itu, 47 persen perusahaan melaporkan bahwa mereka menjadi lebih terbuka dalam mengomunikasikan upaya keberlanjutan secara eksternal.
Hal yang perlu diperhatikan, hanya tiga persen perusahaan yang disurvei mengatakan bahwa mereka telah menghentikan atau mengurangi komunikasi atau inisiatif keberlanjutan.
Sementara itu, hanya enam persen yang menyatakan bahwa komunikasi mereka tentang keberlanjutan tetap tidak berubah selama setahun terakhir.
Baca juga:
Survei Workiva pada 1.500 profesional global menunjukkan 40 persen perusahaan lebih hati-hati mengomunikasikan keberlanjutan di tengah ketidakpastian.Survei tersebut juga menemukan bahwa upaya berkelanjutan perusahaan dalam mengejar inisiatif dan komunikasi keberlanjutan didukung oleh pertimbangan bisnis dan permintaan informasi dari investor.
Lebih lanjut, studi mencatat pula kinerja keuangan dan profitabilitas saat ini menjadi pendorong utama yang paling sering disebut dalam upaya keberlanjutan perusahaan, dengan hanya 12 persen yang melaporkan mitigasi risiko sebagai pendorong utama.
Selain itu, 94 persen investor institusional yang disurvei menyatakan bahwa mereka mempertimbangkan faktor-faktor ESG (Environment, Social, Governance) dalam keputusan investasi mereka.
Kemudian, ada 97 persen yang setuju bahwa data keuangan dan data non-keuangan sangat penting untuk menilai risiko jangka panjang.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya