Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

IPBES: Baru 1 Persen Perusahaan yang Ungkap Dampak Lingkungan

Kompas.com, 11 Februari 2026, 20:13 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Laporan Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystems Services (IPBES) mengungkapkan kurang dari 1 persen perusahaan terbesar di dunia yang menghitung atau melaporkan bagaimana operasional mereka berdampak pada keanekaragaman hayati.

Hal ini bisa menjadi celah terhadap risiko finansial yang sangat besar. Misalnya saja, investor dan pemegang saham tidak mendapatkan gambaran utuh mengenai kesehatan jangka panjang perusahaan tersebut.

Temuan tentang minimnya laporan dampak alam tersebut disusun berdasarkan masukan dari 79 ilmuwan lingkungan terkemuka di seluruh dunia.

Melansir Edie, Senin (9/2/2026) IPBES menyebut bisnis saat ini memiliki berbagai metodologi untuk mengukur dampak operasional dan rantai pasokan mereka terhadap alam.

Kualitas dan ketersediaan data di bidang ini juga meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Baca juga: Jumlah Perusahaan AS yang Publikasi Kebijakan DEI Turun Tajam

Namun, kenyataannya kurang dari 1 persen perusahaan yang menerbitkan laporan tahunan publik dan menyebutkan tentang keanekaragaman hayati.

Kenapa bisa begitu?

Profesor Stephen Polasky menjelaskan bahwa terlalu sering perusahaan menghabiskan lebih banyak waktu untuk mencoba menguraikan kerangka kerja kepatuhan dan pelaporan yang rumit serta saling tumpang tindih, daripada melakukan tindakan yang berarti.

Survei terhadap berbagai bisnis juga mengungkap adanya kurangnya kepercayaan terhadap data, ditambah kebingungan mengenai model dan skenario mana yang harus digunakan.

Ketika mereka mencoba untuk menghitungnya, kurangnya pengetahuan lokal yang mendasari analisis mereka menyebabkan adanya celah informasi, demikian temuan para peneliti IPBES.

Panduan bagi bisnis

Laporan IPBES ini memberikan panduan bagi perusahaan yang ingin menguraikan kerangka kerja pelaporan mana yang harus digunakan.

Laporan menekankan pula bahwa langkah tindakan yang tepat akan berbeda-beda antar organisasi dengan ukuran dan sektor yang berbeda, namun pendekatan yang kuat akan selalu berpusat pada akurasi yang tinggi dan cakupan yang luas.

Laporan juga menegaskan bahwa perusahaan seharusnya melakukan pelaporan bukan demi kepatuhan semata melainkan untuk membangun ketangguhan dan mengurangi risiko.

Baca juga: Mana yang Lebih Ramah Lingkungan: Perusahaan Keluarga ataukah Publik?

Pelaporan harus memungkinkan bisnis untuk mendeteksi dan menindaklanjuti setiap perubahan. Misalnya perubahan harus bisa melihat perubahan kecil di alam dan mengambil tindakan korektif sebelum hal ini menjadi bencana finansial.

Namun IPBES juga menjelaskan bahwa pengungkapan terkait alam saja tidak akan menghasilkan perubahan transformatif yang dibutuhkan untuk menghentikan degradasi alam oleh sektor swasta.

Sebaliknya, diperlukan pengalihan aliran keuangan secara besar-besaran dari sumber publik maupun swasta. Hal ini akan mengharuskan para pembuat kebijakan untuk mereformasi dan mengalihkan subsidi, serta mengirimkan sinyal jangka panjang yang mendukung konservasi dan restorasi alam.

“Hilangnya keanekaragaman hayati adalah salah satu ancaman paling serius bagi bisnis, namun kenyataan yang ironis adalah seringkali tampak lebih menguntungkan bagi bisnis untuk merusak keanekaragaman hayati daripada melindunginya,” ungkap Profesor Polasky.

Sebelumnya, PBB menyatakan bahwa 7,3 triliun dolar AS dana publik dan swasta disalurkan ke kegiatan yang merusak alam pada 2023. Angka tersebut 30 kali lebih besar daripada tingkat pendanaan untuk solusi berbasis alam.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Pemerintah
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Pemerintah
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
Pemerintah
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Pemerintah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Pemerintah
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pemerintah
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
Pemerintah
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Swasta
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
Pemerintah
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Pemerintah
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Swasta
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
Pemerintah
Potensi Bioetanol Limbah  Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
Potensi Bioetanol Limbah Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau