KOMPAS.com - Perubahan iklim bisa mengancam rantai pasok. Fenomena cuaca ekstrem, dari banjir dan kekeringan hingga gelombang panas yang berkepanjangan, bisa mengganggu produksi, menghambat pengiriman, dan menaikkan biaya bagi perusahaan di seluruh dunia.
Para ahli memperingatkan bahwa risiko lingkungan di seluruh jaringan pasokan global dapat merugikan bisnis hingga 120 miliar dollar Amerika Serikat (sekitar Rp 2.019,9 triliun) pada tahun 2026, dilansir dari KnowESG, Jumat (13/2/2026).
Baca juga:
Bagi banyak organisasi, perdebatan pun kini telah bergeser dari "apakah perlu bertindak" menjadi "seberapa cepat dapat memperkuat ketahanan rantai pasok" mereka.
Perubahan iklim bisa mengancam rantai pasok. Satu peristiwa bisa berdampak besar bagi perusahaan di seluruh dunia.Peristiwa baru-baru ini menunjukkan betapa cepatnya gangguan rantai pasok menyebar.
Pada tahun 2023, banjir besar di Slovenia menghantam pemasok otomotif utama, termasuk produsen tingkat satu (Tier-1) yang melayani produsen mobil besar Eropa.
Kerusakan tersebut memicu efek domino di seluruh industri, yang menyebabkan hilangnya produksi sekitar 150.000 kendaraan secara global.
Produsen mobil seperti Volkswagen bahkan terpaksa mengurangi operasional mereka karena kekurangan komponen.
Kasus-kasus seperti itu mengungkapkan betapa rapuhnya rantai pasokan global modern. Satu peristiwa cuaca di satu wilayah dapat menyebabkan penundaan berminggu-minggu di hilir, tarif pengiriman yang lebih tinggi, dan persediaan yang lebih ketat.
Bagi perusahaan yang beroperasi dengan margin tipis, dampak finansialnya bisa langsung dan parah.
Meskipun guncangan jangka pendek ini mahal, gambaran jangka panjangnya bahkan lebih mengkhawatirkan.
Analis memperkirakan bahwa risiko iklim yang tidak terkendali dapat menyebabkan kerugian global kumulatif sebesar 25 triliun dollar Amerika Serikat (sekitar Rp 420.820 triliun) pada pertengahan abad ini.
Sistem energi mungkin menjadi kurang andal, bahan baku mungkin lebih sulit didapatkan, dan jaringan transportasi menjadi lebih tidak stabil. Tekanan ini dapat memicu inflasi yang berkelanjutan dan membebani perdagangan global.
Ada juga biaya kemanusiaan. Hampir setengah dari populasi dunia mengalami tambahan 30 hari panas ekstrem hanya dalam satu tahun, yang memengaruhi keselamatan pekerja, hasil pertanian, dan produktivitas.
Ketika manusia tidak dapat bekerja dengan aman atau tanaman gagal panen, kelangsungan bisnis pasti berisiko.
Baca juga:
Perubahan iklim bisa mengancam rantai pasok. Satu peristiwa bisa berdampak besar bagi perusahaan di seluruh dunia.Selama bertahun-tahun, banyak perusahaan menganggap masalah iklim hanya sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Pendekatan tersebut saat ini dinilai sudah ketinggalan zaman. Saat ini, manajemen risiko ESG (Environment, Social, Governance) menjadi inti dari strategi perusahaan.
Pembuat regulasi, perusahaan asuransi, dan investor semakin menuntut bisnis untuk memahami titik-titik kerentanan di seluruh basis pemasok mereka, bukan hanya pada mitra tingkat utama (Tier 1) saja.
Visibilitas sering kali menjadi celah terbesar. Sebuah perusahaan mungkin telah memeriksa pemasok langsungnya dengan sangat teliti, tapi mengabaikan mitra di tingkat kedua (Tier 2) atau tingkat ketiga (Tier 3) yang berada di wilayah berisiko tinggi.
Jika salah satu dari pemasok tersebut gagal, seluruh rantai pasok bisa terhenti. Itulah sebabnya banyak perusahaan saat ini berinvestasi dalam pemetaan pemasok dan pemantauan real-time.
Perencanaan berbasis data pun muncul sebagai kunci utama untuk bertindak.
Baca juga:
Dengan mengintegrasikan strategi pengadaan dengan data ESG dan iklim, perusahaan dapat mengidentifikasi titik-titik rawan, mendiversifikasi sumber pasokan, melakukan uji stres pada rute pengiriman, dan menyiapkan rencana darurat.
Pemodelan skenario juga memungkinkan para pemimpin untuk mengantisipasi gangguan, alih-alih panik mencari solusi setelah masalah terjadi.
Pesan bagi para pemimpin bisnis jelas: Ketahanan iklim bukanlah pilihan. Organisasi yang memasukkan risiko iklim ke dalam keputusan inti, memperkuat kolaborasi pemasok, dan meningkatkan transparansi di semua tingkatan akan lebih siap menghadapi masa depan yang tidak pasti.
Di dunia yang semakin bergejolak, ketahanan mungkin menjadi aset paling berharga yang dapat dimiliki oleh rantai pasokan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya