Jika melebihi ambang batas yang diizinkan, keberadaan pestisida di Sungai Cisadane tentu berbahaya.
Bila tumbuhan air, seperti enceng gondok, bermunculan di sepanjang Sungai Cisadane, akan menjadi sarana yang baik untuk mengurangi kandungan pestisida.
Bermunculannya tumbuhan-tumbuhan lain di tepi atau pinggir Sungai Cisadane juga akan menjadi sarana yang baik untuk mengurangi kandungan pestisida.
"Juga adanya bakteri-bakteri pengurai itu nantinya akan bekerja untuk menguraikan pestisida ini," tutur Ganden.
Baca juga:
Sungai Cisadane yang masih terlihat ikan mati dan mengapung terbawa arus pada Rabu (11/2/2026). Telanjur Makan Ikan Mati di Sungai Cisadane, Apa yang Harus Dilakukan?Di sisi lain, tindakan cepat untuk menghilangkan cemaran pestisida di Sungai Cisadane juga tetap harus dilakukan.
Contohnya, mengoptimalkan proses adsorpsi menggunakan adsorben tertentu atau material yang berfungsi menyerap dan menahan bahan lain dalam bentuk cairan dan gas ke dalam strukturnya.
Zeolit dan karbon aktif dalam bentuk granul dapat menjadi adsorben. Caranya, menyebarkan zeolit dengan ukuran partikel tertentu atau karbon aktif dalam bentuk granul ke permukaan air Sungai Cisadane.
Harapannya, pestisida yang berada pada fase air di Sungai Cisadane bisa diadsorpsi oleh adsorben tersebut dan kemudian dibawa turun ke bawah ke dalam sedimen.
"Karena adsorben tersebut umumnya mempunyai berat jenis yang lebih besar dari air sehingga begitu disebarkan maka adsorben itu bisa kontak dengan pestisida dan mengadsorpsi pestisida tersebut, kemudian bersama-sama akan turun ke bawah ke bagian sedimen sungai," jelas Ganden.
Sementara itu, Guru Besar dari Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB, Indah Rachmatiah Siti Salami mengatakan, tidak mudah membersihkan air Sungai Cisadane dalam waktu relatif pendek atau sekitar dua minggu saja. Pestisida yang mencemari air Sungai Cisadane juga dapat terbawa ke air tanah dan terakumulasi pada organisme, termasuk ikan.
Oleh karena itu, manusia yang mengonsumsi ikan dari Sungai Cisadane akan terpapar pestisida melalui makanan.
"Seberapa bahayanya, tergantung besarnya konsentrasi pada makanan atau sumber-sumber lain tersebut, yang dikonsumsi manusia dan seberapa banyak manusia menggunakannya," tutur Indah.
Ia menggarisbawahi pentingnya mengetahui seberapa besar dispersi dan konsentrasi pestisida di Sungai Cisadane. Ia juga menegaskan pentingnya memperkirakan risiko yang kemungkinan sudah terjadi dalam masyarakat dengan mempertimbangkan paparan terhadap korban.
"Apabila sudah melebihi nilai ambang batas, pengendalian, termasuk pengolahan dan penurunan pestisida akan diperlukan. Untuk teknologi penurunan konsentrasi pestisida tersedia beberapa alternatif. Namun, saya bukan ahlinya untuk pengolahan ini," ucapnya.
Gudang pestisida di Taman Tekno, Serpong, Tangsel, yang sempat terbakar, kini dipasangi segel pada Jumat (13/2/2026).Sementara itu, pakar pencemaran dan ekotoksikologi IPB University, Etty Riani menilai, sangat tidak mungkin bisa "membersihkan" seluruh dampak pestisida di Sungai Cisadane hanya dalam waktu dua minggu.
Sebab, pestisida yang tumpah sangat banyak, khususnya pestisida jenis cypermethrin yang bersifat mudah terikat pada partikel tanah meski sulit larut dalam air.
"Ya (pestisida) bisa mengendap dan berakumulasi dalam sedimen. Waktu (pestisida yang tumpah) hilang hanya dalam air, begitu air berganti langsung hilang dua minggu (itu) cukup, tetapi yang di dasar dan pinggir sungai enggak mungkin bisa cepat. Butuh waktu panjang, bisa tahunan baru benar-benar hilang dari ekosistem sungai," ucap Etty kepada Kompas.com, Sabtu (14/2/2026).
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya