"Kepekaan terhadap isu-isu sosial itu terpantik gara-gara aktif waktu dulu dapat beasiswa. Makanya sampai sekarang, saat sudah jadi alumni pun, saya masih aktif di kegiatan-kegiatan sosial dan kemanusiaan," ungkap Faris.
"Kalau saya flashback, salah satu momentum yang membangkitkan insting saya untuk punya kepekaan sosial ya di program Tanoto Scholar," imbuh dia.
Dengan dukungan beasiswa Tanoto Foundation, gelar master diraihnya pada 2017. Setahun kemudian, Faris mulai mengajar ilmu komunikasi di Universitas Paramadina.
Komitmen untuk menjadi pengajar dilandasi keyakinan Faris bahwa pendidikan mampu meningkatkan kualitas hidup manusia. Apalagi dari sejumlah pengalaman, ia menyaksikan sendiri perjuangan seseorang untuk mengangkat harkat hidup lewat pendidikan ketika masih mengajar di Gorontalo.
"Masuk kampus jadi salah satu medium saya buat berbagi ilmu dengan banyak orang, baik itu mahasiswa maupun kolega lainnya. Ilmu yang bermanfaat bisa dipakai buat kerja, dapat penghasilan, terus improve-lah kehidupannya. Pendidikan salah satu bentuk katalis untuk menaikkan level kehidupan seseorang," katanya.
Tak hanya di kelas, kiprah Faris menjangkau kalangan akar rumput yang lebih luas. Dari komunitas bersama alumni penerima beasiswa, Faris mendapatkan informasi kebutuhan peneliti terkait pendidikan anak usia dini (PAUD) di Kepulauan Seribu.
Dia menyatakan, Indonesia masih punya banyak pekerjaan rumah dalam menghadapi tantangan kesehatan ibu dan anak. Orangtua di perkotaan maupun pelosok dinilai perlu mendapatkan edukasi yang lebih banyak soal stunting.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya