KOMPAS.com - EY, perusahaan jasa profesional mengumumkan peluncuran EY Sustainable Operating Blueprint terbaru.
EY Sustainable Operating Blueprint merupakan panduan yang bertujuan memberikan kerangka kerja bagi perusahaan-perusahaan untuk menanamkan prinsip keberlanjutan ke dalam strategi inti bisnis mereka, dilansir dari ESG Today, Jumat (20/2/2026).
Baca juga:
Menurut Pemimpin Global Layanan Perubahan Iklim dan Keberlanjutan (CCaSS) di EY, Alexis Gazzo, panduan baru ini dibuat untuk memberikan peta jalan bagi perusahaan dalam menghadapi tantangan utama yaitu menyatukan prinsip keberlanjutan ke dalam seluruh area fungsional organisasi guna menciptakan nilai tambah.
Tujuannya agar keberlanjutan tidak lagi dianggap sebagai hal terpisah, seperti yang saat ini masih terjadi di banyak perusahaan.
“Di banyak organisasi, keberlanjutan masih menjadi tugas tim spesialis saja, terputus dari bagian perencanaan, pengadaan, desain produk, atau manajemen kinerja," kata Gazzo.
"Kesenjangan itu dapat membatasi kemampuan bisnis untuk mengelola risiko, menangkap peluang, dan mengubah ambisi menjadi hasil nyata,” tambah dia.
Baca juga:
EY meluncurkan Sustainable Operating Blueprint. Panduan berbasis AI ini bantu perusahaan menyatukan strategi keberlanjutan ke seluruh fungsi bisnis.Gazzo menambahkan, layanan baru ini menyediakan peta jalan terstruktur berbasis AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) untuk mempercepat transisi sebuah organisasi.
Layanan ini memberikan langkah-langkah jelas yang disesuaikan untuk setiap organisasi, dari menetapkan ambisi dan arah strategis, membantu organisasi menilai posisi mereka saat ini dan mengidentifikasi kekurangan, hingga menentukan dan memprioritaskan tindakan untuk mewujudkan transformasi tersebut.
Lebih lanjut, panduan tersebut dikatakan dibangun di atas dua pilar utama.
Pertama adalah Kejelasan Strategis, yang memandu organisasi tentang cara memprioritaskan keberlanjutan melalui pengambilan keputusan, pelibatan pemangku kepentingan, dan kesiapsiagaan.
Kedua adalah Keterikatan Operasional, untuk mengubah ambisi menjadi sistem dan proses melalui kunci, seperti kemampuan dan keterampilan, proses dan teknologi, produk dan layanan, desain organisasi dan tata kelola, serta pemantauan dan evaluasi.
"Pada titik ini, keberlanjutan harus bergeser dari sekedar laporan di atas kertas menjadi penggerak nilai strategis," kata Gazzo.
Jika perusahaan bisa memasukkan prinsip lingkungan ke dalam cara kerja sehari-hari, langah tersebut dinilai dapat membuka inovasi, membangun ketahanan, dan lebih siap menghadapi masa depan.
"Ini tentang memanfaatkan keberlanjutan, bukan hanya untuk alasan moral dan etika tetapi sebagai komponen penting untuk kelangsungan bisnis," tambahnya.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya