Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

EY Luncurkan Kerangka Kerja untuk Integrasi Keberlanjutan Bisnis

Kompas.com, 20 Februari 2026, 13:36 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber ESG Today

KOMPAS.com - EY, perusahaan jasa profesional mengumumkan peluncuran EY Sustainable Operating Blueprint terbaru.

EY Sustainable Operating Blueprint merupakan panduan yang bertujuan memberikan kerangka kerja bagi perusahaan-perusahaan untuk menanamkan prinsip keberlanjutan ke dalam strategi inti bisnis mereka, dilansir dari ESG Today, Jumat (20/2/2026).

Baca juga:

EY luncurkan Sustainable Operating Blueprint terbaru, apa itu?

Menurut Pemimpin Global Layanan Perubahan Iklim dan Keberlanjutan (CCaSS) di EY, Alexis Gazzo, panduan baru ini dibuat untuk memberikan peta jalan bagi perusahaan dalam menghadapi tantangan utama yaitu menyatukan prinsip keberlanjutan ke dalam seluruh area fungsional organisasi guna menciptakan nilai tambah.

Tujuannya agar keberlanjutan tidak lagi dianggap sebagai hal terpisah, seperti yang saat ini masih terjadi di banyak perusahaan.

“Di banyak organisasi, keberlanjutan masih menjadi tugas tim spesialis saja, terputus dari bagian perencanaan, pengadaan, desain produk, atau manajemen kinerja," kata Gazzo.

"Kesenjangan itu dapat membatasi kemampuan bisnis untuk mengelola risiko, menangkap peluang, dan mengubah ambisi menjadi hasil nyata,” tambah dia. 

Baca juga:

Peta jalan berbasis AI

EY meluncurkan Sustainable Operating Blueprint. Panduan berbasis AI ini bantu perusahaan menyatukan strategi keberlanjutan ke seluruh fungsi bisnis.freepik EY meluncurkan Sustainable Operating Blueprint. Panduan berbasis AI ini bantu perusahaan menyatukan strategi keberlanjutan ke seluruh fungsi bisnis.

Gazzo menambahkan, layanan baru ini menyediakan peta jalan terstruktur berbasis AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) untuk mempercepat transisi sebuah organisasi.

Layanan ini memberikan langkah-langkah jelas yang disesuaikan untuk setiap organisasi, dari menetapkan ambisi dan arah strategis, membantu organisasi menilai posisi mereka saat ini dan mengidentifikasi kekurangan, hingga menentukan dan memprioritaskan tindakan untuk mewujudkan transformasi tersebut.

Lebih lanjut, panduan tersebut dikatakan dibangun di atas dua pilar utama.

Pertama adalah Kejelasan Strategis, yang memandu organisasi tentang cara memprioritaskan keberlanjutan melalui pengambilan keputusan, pelibatan pemangku kepentingan, dan kesiapsiagaan.

Kedua adalah Keterikatan Operasional, untuk mengubah ambisi menjadi sistem dan proses melalui kunci, seperti kemampuan dan keterampilan, proses dan teknologi, produk dan layanan, desain organisasi dan tata kelola, serta pemantauan dan evaluasi.

"Pada titik ini, keberlanjutan harus bergeser dari sekedar laporan di atas kertas menjadi penggerak nilai strategis," kata Gazzo.

Jika perusahaan bisa memasukkan prinsip lingkungan ke dalam cara kerja sehari-hari, langah tersebut dinilai dapat membuka inovasi, membangun ketahanan, dan lebih siap menghadapi masa depan.

"Ini tentang memanfaatkan keberlanjutan, bukan hanya untuk alasan moral dan etika tetapi sebagai komponen penting untuk kelangsungan bisnis," tambahnya.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pencabutan IUP Harus Disertai Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan
Pencabutan IUP Harus Disertai Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan
LSM/Figur
Sandiaga Uno: Indonesia Punya Prospek Cerah di Ekonomi Hijau
Sandiaga Uno: Indonesia Punya Prospek Cerah di Ekonomi Hijau
Pemerintah
Tanoto Foundation Fellowship Dibuka untuk Lulusan S1 dan S2, Cek Syaratnya
Tanoto Foundation Fellowship Dibuka untuk Lulusan S1 dan S2, Cek Syaratnya
LSM/Figur
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pemerintah
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Efek 'Burnout' Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Efek "Burnout" Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Pemerintah
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Pemerintah
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Pemerintah
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Swasta
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Pemerintah
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
BUMN
'Sustainability' Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
"Sustainability" Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
Pemerintah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
LSM/Figur
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
Swasta
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau