Sebagian besar jejak karbon industri ini berasal dari proses produksi Tier 2, seperti pewarnaan dan penyempurnaan kain yang sering kali bergantung pada jaringan listrik berbahan bakar batu bara di negara-negara pemasok utama.
Tanpa investasi cepat dalam energi terbarukan dan peningkatan efisiensi, para pemasok mungkin akan menghadapi lonjakan biaya bahan bakar dan penalti regulasi yang pada akhirnya bisa dibebankan kepada merek-merek pakaian.
Baca juga: Eropa Larang Pemusnahan Pakaian Tak Laku, Industri Fashion Wajib Kelola Stok
Industri fashion adalah penyumbang utama emisi global. Sektor ini menyumbang 2 persen atau lebih dari emisi karbon dunia, dengan 99 persen emisi merek pakaian diklasifikasikan sebagai Scope 3 termasuk manufaktur, pengadaan bahan baku, dan perakitan pakaian yang paling sering terjadi di Asia.
Laporan pun menekankan bahwa investasi dini dalam dekarbonisasi di tingkat pemasok termasuk elektrifikasi dan adopsi energi terbarukan dapat memitigasi atau mengurangi risiko finansial jangka panjang.
Laporan juga mendesak para pemimpin bisnis di berbagai sektor untuk menyadari risiko finansial yang terkait dengan penundaan mitigasi iklim, serta mengambil langkah-langkah untuk memperkuat ketahanan dan melindungi kinerja bisnis jangka panjang.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya