Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Investasi Transisi Energi Global Tembus Rp 38 Triliun pada 2025

Kompas.com, 24 Februari 2026, 07:09 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Investasi transisi energi global mencapai rekor 2,3 triliun dollar Amerika Serikat (AS, sekitar Rp 38.713,6 triliun) pada tahun 2025, meningkat delapan persen dibandingkan tahun sebelumnya, berdasarkan laporan Tren Investasi Transisi Energi tahunan BloombergNEF.

Transportasi listrik menjadi tujuan investasi terbesar dengan menarik dana sebesar 893 miliar dollar AS (sekitar Rp 15.030 triliun), dilansir dari Edie, Senin (23/2/2026).

Baca juga:

Tujuan tersebut diikuti oleh energi terbarukan sebesar 690 miliar dollar AS (sekitar Rp 11.613,3 triliun) dan infrastruktur jaringan listrik sebesar 483 miliar dollar AS (sekitar Rp 8.129,8 triliun).

Meskipun total investasi transisi energi mencapai rekor tertinggi, pertumbuhan tahunannya mengalami perlambatan tajam selama empat tahun terakhir, turun dari 27 persen pada tahun 2021 menjadi hanya delapan persen pada tahun 2025.

BloombergNEF menyatakan bahwa investasi energi terbarukan turun 9,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sebagian besar disebabkan oleh perubahan regulasi di China yang memicu ketidakpastian di pasar energi terbesar dunia tersebut.

Sebaliknya, sebagian besar sub-sektor transisi energi lainnya mencatatkan kenaikan, kecuali sektor hidrogen yang hanya menarik 7,3 miliar dolar AS (sekitar Rp 122.873 triliun) dan nuklir yang menarik 36 miliar dollar AS (sekitar Rp 605 triliun). 

Baca juga:

Lampaui investasi bahan bakar fosil

Melampaui selama dua tahun berturut-turut

Investasi transisi energi global mencapai Rp 38 triliun pada 2025. Transportasi listrik dan energi terbarukan jadi sektor diminati.canva.com Investasi transisi energi global mencapai Rp 38 triliun pada 2025. Transportasi listrik dan energi terbarukan jadi sektor diminati.

Laporan tersebut menemukan bahwa investasi pasokan energi bersih melampaui investasi pasokan bahan bakar fosil selama dua tahun berturut-turut.

Pasokan energi bersih yang mencakup energi terbarukan, nuklir, hidrogen, penangkapan karbon, penyimpanan energi, dan jaringan listrik melampaui pengeluaran untuk pasokan bahan bakar fosil sebesar 102 miliar dollar AS (sekitar Rp 1.716,5 triliun) pada tahun 2025.

Investasi pasokan bahan bakar fosil juga turun untuk pertama kalinya sejak tahun 2020, berkurang sebesar sembilan miliar dollar AS (sekitar Rp 151.461 triliun). Penurunan ini terutama didorong oleh lebih rendahnya pengeluaran untuk sektor hulu minyak dan gas serta pembangkit listrik tenaga fosil.

"Tahun lalu telah membuktikan bahwa meskipun ada hambatan dari kebijakan dan perdagangan, transisi energi global tetap tangguh dan memberikan banyak peluang bagi para investor," kata Albert Cheung, Wakil CEO BloombergNEF.

"Banyak negara berupaya memperkuat keamanan energi dan membangun rantai pasokan domestik, investasi energi bersih akan terus meningkat, terutama yang berkaitan dengan pembangunan pusat data global," tambah dia.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pengamat: Program PLTS 100 GW Bisa Hemat Subsidi BBM Hingga Rp 21 T
Pengamat: Program PLTS 100 GW Bisa Hemat Subsidi BBM Hingga Rp 21 T
LSM/Figur
Investasi Transisi Energi Global Tembus Rp 38 Triliun pada 2025
Investasi Transisi Energi Global Tembus Rp 38 Triliun pada 2025
LSM/Figur
Jual Kucing Kuwuk lewat Jalur Darat, Pria di Sumatera Utara Ditangkap
Jual Kucing Kuwuk lewat Jalur Darat, Pria di Sumatera Utara Ditangkap
Pemerintah
Pemprov Jabar Buka Kemungkinan Kerja Sama Pemilahan Sampah pakai AI
Pemprov Jabar Buka Kemungkinan Kerja Sama Pemilahan Sampah pakai AI
Pemerintah
Target Nol Sampah Plastik 2040, Grab Luncurkan Panduan Kemasan untuk Mitra GrabFood
Target Nol Sampah Plastik 2040, Grab Luncurkan Panduan Kemasan untuk Mitra GrabFood
Swasta
Studi Ungkap Pemicu Hilangnya Hiu Putih di Australia Selatan Tiba-tiba
Studi Ungkap Pemicu Hilangnya Hiu Putih di Australia Selatan Tiba-tiba
LSM/Figur
Gajah Mati Terlilit Kawat Listrik di Aceh, Ahli Soroti Penggunaan Pagar Listrik
Gajah Mati Terlilit Kawat Listrik di Aceh, Ahli Soroti Penggunaan Pagar Listrik
LSM/Figur
KKP Targetkan Perdagangan Karbon Biru Dimulai 2027
KKP Targetkan Perdagangan Karbon Biru Dimulai 2027
Pemerintah
Harapan Masyarakat Bukit Batu di Balik Proyek Hilirisasi Bauksit di Mempawah
Harapan Masyarakat Bukit Batu di Balik Proyek Hilirisasi Bauksit di Mempawah
BUMN
Mengenal Eco-Anxiety, Saat Krisis Iklim Bikin Cemas
Mengenal Eco-Anxiety, Saat Krisis Iklim Bikin Cemas
LSM/Figur
FPCI: Transisi Energi jadi Ajang Persaingan Global
FPCI: Transisi Energi jadi Ajang Persaingan Global
Pemerintah
Limbah Pertanian Bisa Jadi Bahan Bangunan, Simpan Karbon dan Tekan Emisi Iklim
Limbah Pertanian Bisa Jadi Bahan Bangunan, Simpan Karbon dan Tekan Emisi Iklim
LSM/Figur
Fenomena 996 di China, Bikin Pekerja Tinggalkan Gaji Tinggi demi Work Life Balance
Fenomena 996 di China, Bikin Pekerja Tinggalkan Gaji Tinggi demi Work Life Balance
Swasta
Kisah Mantan Kombatan GAM Kelola Perhutanan Sosial dan Tinggalkan Ilegal Logging
Kisah Mantan Kombatan GAM Kelola Perhutanan Sosial dan Tinggalkan Ilegal Logging
LSM/Figur
Karyawan Probation Berhak Dapat THR, Berapa Besarannya?
Karyawan Probation Berhak Dapat THR, Berapa Besarannya?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau