Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Industri Fashion Global Hadapi Risiko Finansial Jika Lambat Tanggapi Perubahan Iklim

Kompas.com, 24 Februari 2026, 19:04 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Industri fashion global menghadapi risiko finansial yang serius jika gagal mempercepat responsnya terhadap perubahan iklim, menurut laporan yang dirilis oleh sebuah organisasi nirlaba Apparel Impact Institute.

Melansir Down to Earth, Senin (23/2/2026) laporan tersebut memperkirakan bahwa pada tahun 2030, kegagalan dalam melakukan pengurangan emisi dapat menyebabkan hilangnya 3 persen margin operasional, dengan pemangkasan laba sebesar 34 persen.

Proyeksi ini menjadi jauh lebih buruk pada tahun 2040, di mana kerugian diperkirakan bisa mencapai setinggi 67 persen.

Perkiraan ini menyoroti meningkatnya paparan risiko finansial yang dihadapi oleh merek dan produsen seiring dengan meningkatnya tekanan terkait iklim.

Baca juga: Perancis Larang Bahan Kimia Abadi PFAS dalam Kosmetik dan Pakaian, Apa Itu?

Pendorong utama risiko finansial

Analisis tersebut mengidentifikasi tiga pendorong utama di balik risiko-risiko finansial ini yakni penetapan harga karbon, bahan baku, dan energi.

Sebagai gambaran, harga karbon diperkirakan akan naik drastis, dari rata-rata sekitar Rp 157.000 per ton menjadi 5.495.000 per ton pada tahun 2040.

Ini artinya, polusi tidak lagi gratis di mana setiap ton C02 yang dihasilkan pabrik harus dibayar dengan harga sangat mahal.

Akibatnya, biaya manufaktur pakaian kemungkinan besar akan melonjak secara substansial. Laporan memperkirakan bahwa biaya karbon saja dapat meningkatnya harga pokok penjualan sebesar 13 persen pada 2040.

Sumber bahan baku, terutama kapas, menjadi kerentanan utama lainnya. Kapas menyumbang sekitar 19 persen dari produksi serat global dan sangat sensitif terhadap kondisi iklim.

Namun, meningkatnya kekeringan, gelombang panas, dan pergeseran pola curah hujan menyebabkan kelangkaan air yang lebih parah dan melemahkan ketahanan pertanian.

Tantangan-tantangan ini diperburuk oleh deforestasi, perubahan penggunaan lahan, dan hilangnya keanekaragaman hayati yang terkait dengan produksi bahan baku.

Tekanan iklim mengancam hasil panen, kualitas, dan masa tanam kapas, yang meningkatkan ketidakpastian produksi serta risiko pasokan bagi merek pakaian.

Pada tahun 2022, peristiwa cuaca ekstrem termasuk hujan lebat di India, gelombang panas di China, dan kekeringan di Amerika Serikat menyebabkan harga kapas naik 30 persen hanya dalam satu tahun.

Pada tahun 2040, sekitar 50 persen wilayah penghasil kapas diperkirakan akan menghadapi suhu yang lebih tinggi dan kelangkaan air, sementara 40 persen wilayah mungkin mengalami masa tanam yang lebih pendek. Ketidakstabilan seperti ini mengancam keandalan pasokan dan kepastian biaya bagi merek-merek pakaian.

Penggunaan energi dalam manufaktur tekstil semakin memperparah kerentanan sektor ini.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dosen Unej Teliti Tanaman Zaman Prasejarah di Geopark Ijen
Dosen Unej Teliti Tanaman Zaman Prasejarah di Geopark Ijen
LSM/Figur
Krisis Selat Hormuz, FAO Ingatkan Bahaya Inflasi Pangan Global
Krisis Selat Hormuz, FAO Ingatkan Bahaya Inflasi Pangan Global
Pemerintah
KKP Tak Tenggelamkan Kapal Asing Ilegal Seperti Era Susi Pudjiastuti, tapi Diberikan ke Nelayan
KKP Tak Tenggelamkan Kapal Asing Ilegal Seperti Era Susi Pudjiastuti, tapi Diberikan ke Nelayan
Pemerintah
Pakar IPB Beberkan Cara Berantas Lonjakan Populasi Ikan Sapu-sapu
Pakar IPB Beberkan Cara Berantas Lonjakan Populasi Ikan Sapu-sapu
Pemerintah
Kepatuhan Minum Tablet Tambah Darah di Kalangan Remaja Rendah, Ngantuk Saat Jam Pelajaran
Kepatuhan Minum Tablet Tambah Darah di Kalangan Remaja Rendah, Ngantuk Saat Jam Pelajaran
LSM/Figur
Kemenhut Terbitkan Aturan Baru Perdagangan Karbon, Disebut Lebih Jelas dan Terarah
Kemenhut Terbitkan Aturan Baru Perdagangan Karbon, Disebut Lebih Jelas dan Terarah
Pemerintah
Remaja Paham Stunting tapi Lebih Suka Seblak ketimbang Sayur-Buah
Remaja Paham Stunting tapi Lebih Suka Seblak ketimbang Sayur-Buah
LSM/Figur
Pencabutan IUP Harus Disertai Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan
Pencabutan IUP Harus Disertai Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan
LSM/Figur
Sandiaga Uno: Indonesia Punya Prospek Cerah di Ekonomi Hijau
Sandiaga Uno: Indonesia Punya Prospek Cerah di Ekonomi Hijau
Pemerintah
Tanoto Foundation Fellowship Dibuka untuk Lulusan S1 dan S2, Cek Syaratnya
Tanoto Foundation Fellowship Dibuka untuk Lulusan S1 dan S2, Cek Syaratnya
LSM/Figur
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pemerintah
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Efek 'Burnout' Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Efek "Burnout" Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Pemerintah
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Pemerintah
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau