KOMPAS.com - Studi terbaru mengungkap temuan mengkhawatirkan: monomer kristal cair atau liquid crystal monomers (LCMs) dari perangkat elektronik terdeteksi menumpuk di organ spesies laut yang terancam punah.
LCMs merupakan komponen utama dalam layar perangkat elektronik seperti televisi, laptop, dan ponsel pintar. Zat ini berfungsi mengatur bagaimana cahaya melewati layar sehingga menghasilkan gambar berkualitas tinggi.
Namun, di balik fungsinya tersebut, LCMs tergolong bahan kimia beracun. Seiring meningkatnya penggunaan perangkat elektronik, senyawa ini kini ditemukan di udara dalam ruangan, debu, hingga air limbah—yang pada akhirnya bermuara ke wilayah pesisir dan lautan.
Baca juga: Perlu Strategi Terpadu Atasi 65 Persen Sampah Nasional yang Belum Terkelola
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Environmental Science and Technology menganalisis sampel jaringan lumba-lumba bungkuk Indo-Pasifik dan pesut tanpa sirip yang dikumpulkan di Laut China Selatan selama periode 2007–2021.
Tim peneliti yang dipimpin Bo Liang memeriksa jaringan lemak, otot, hati, ginjal, dan otak untuk mendeteksi 62 senyawa molekuler besar. Hasilnya, empat senyawa LCM mendominasi temuan kontaminan tersebut.
Mayoritas LCMs yang terdeteksi diperkirakan berasal dari layar televisi dan komputer, sementara kontribusi dari ponsel pintar relatif kecil.
Meski sebagian besar kontaminan terkonsentrasi di jaringan lemak, peneliti mengaku terkejut ketika menemukan jejak LCMs di organ lain, termasuk otak. Temuan ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi risiko neurotoksik pada mamalia laut.
Dalam uji laboratorium lanjutan, beberapa LCM umum—termasuk empat senyawa utama yang ditemukan pada sampel—terbukti memengaruhi aktivitas gen yang berkaitan dengan perbaikan DNA dan pembelahan sel pada sel lumba-lumba yang dikultur.
Hasil tersebut menunjukkan kemungkinan dampak negatif terhadap kesehatan mamalia laut, terutama predator puncak yang rentan terhadap akumulasi zat beracun dalam rantai makanan.
Peneliti juga mencatat bahwa kadar LCM dalam lemak lumba-lumba sempat meningkat selama beberapa tahun, sebelum akhirnya menurun seiring peralihan industri televisi dari layar LCD ke teknologi LED.
Penulis utama studi dari City University of Hong Kong, Yuhe He, menegaskan bahwa temuan ini menjadi peringatan serius.
“Penelitian kami mengungkapkan bahwa LCM dari elektronik sehari-hari bukan hanya polusi—zat ini juga menumpuk di otak lumba-lumba dan pesut yang terancam punah,” ujarnya, dikutip dari Euro News, Kamis (26/2/2026).
Baca juga: Target Nol Sampah Plastik 2040, Grab Luncurkan Panduan Kemasan untuk Mitra GrabFood
Ia memperingatkan bahwa bahan kimia yang memberi daya pada perangkat elektronik kini telah menginfiltrasi kehidupan laut.
“Kita harus bertindak sekarang terkait limbah elektronik untuk melindungi kesehatan laut dan, pada akhirnya, diri kita sendiri,” katanya.
Peneliti mendesak pemerintah dan pembuat kebijakan untuk memperketat regulasi serta meningkatkan pengelolaan limbah elektronik. Mereka juga menyerukan riset lanjutan guna memahami bagaimana LCM bergerak dalam rantai makanan laut dan dampaknya terhadap predator puncak.
Sebelumnya, sejumlah studi telah mengaitkan LCM dengan risiko kesehatan pada manusia dan spesies akuatik lainnya. Namun, mekanisme penyebaran dan akumulasi zat ini di ekosistem laut masih belum sepenuhnya dipahami.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya