KOMPAS.com - Inisiatif Net Zero Asset Managers (NZAM) resmi diluncurkan kembali, yang mana menandai babak baru sebagai salah satu koalisi investasi berbasis iklim terbesar di dunia.
Lebih dari 250 manajer aset telah bergabung dengan inisiatif yang telah diperbarui ini, termasuk beberapa perusahaan global besar. Namun, beberapa raksasa investasi papan atas asal Amerika Serikat terlihat absen dari daftar tersebut.
Baca juga:
NZAM pertama kali diluncurkan pertama kali pada Desember 2020, dilansir dari KnowESG, Jumat (27/2/2026). NZAM dimulai dengan 30 manajer aset yang mengelola dana sekitar Rp 144.000 triliun pada awal 2025.
Kelompok ini kemudian berkembang pesat menjadi lebih dari 325 anggota yang mengelola dana lebih dari sekitar Rp 912 ribu triliun.
Para anggota kemudian berkomitmen untuk menyelaraskan investasi mereka dengan target emisi nol bersih pada tahun 2050, dari melacak jejak emisi dari aset yang mereka miliki, menetapkan target jangka pendek, hingga aktif mendorong perusahaan-perusahaan untuk beralih ke praktik yang lebih ramah lingkungan.
Namun, tekanan politik yang meningkat di Amerika Serikat memaksa mereka untuk berhenti sejenak.
Inisiatif Net Zero Asset Managers (NZAM) resmi kembali diluncurkan dengan lebih dari 250 manajer aset dunia.Aliansi iklim seperti NZAM menghadapi kritik dari para politisi anti-ESG atau investasi berbasis lingkungan, sosial, dan tata kelola, terutama setelah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat.
Para pengkritik menganggap inisiatif semacam ini sama dengan melakukan boikot terhadap perusahaan energi atau dianggap melanggar fiduciary duties, kewajiban hukum manajer aset untuk memprioritaskan keuntungan nasabah di atas segalanya.
Pada akhir 2024, beberapa Jaksa Agung negara bagian di Amerika Serikat mengajukan gugatan terhadap perusahaan pengelola aset besar, termasuk BlackRock, Vanguard, dan State Street.
Mereka dituduh melanggar undang-undang anti-monopoli karena keterlibatan mereka dalam kelompok investasi berkelanjutan. Tak lama setelah itu, BlackRock keluar dari NZAM dengan alasan adanya pengawasan hukum tersebut.
Akibatnya, inisiatif NZAM sempat menghentikan kegiatannya, serta menghapus pernyataan komitmen dan daftar anggotanya sementara untuk melakukan peninjauan ulang.
Baca juga:
Inisiatif Net Zero Asset Managers (NZAM) resmi kembali diluncurkan dengan lebih dari 250 manajer aset dunia.Inisiatif NZAM yang diluncurkan kembali ini memperkenalkan kerangka komitmen yang telah direvisi. Hal yang paling menonjol adalah penghapusan referensi eksplisit atau tujuan yang tertulis secara kaku untuk berinvestasi sesuai dengan target nol bersih tahun 2050.
Sebaliknya, koalisi saat ini menekankan bahwa setiap anggota secara independen menetapkan komitmen nol bersih dan strategi implementasi mereka sendiri.
Dokumen juga merujuk pada target suhu dalam Perjanjian Paris, termasuk upaya untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat celsius, tapi menghindari kewajiban untuk mengikuti timeline pencapaian nol bersih secara spesifik tahun 2050.
Para anggota saat ini berkomitmen untuk menetapkan target iklim jangka pendek yang selaras dengan tujuan emisi nol bersih global.
Mereka juga berjanji untuk menerapkan strategi pengelolaan investasi, mendukung klien dalam transisi pembiayaan dan solusi iklim, serta wajib mempublikasikan rencana pelaksanaan mereka melalui laporan tahunan.
Baca juga: Investasi ESG di ASEAN Meroket, Imbangi Tren di Pasar Global yang Melemah
Inisiatif Net Zero Asset Managers (NZAM) resmi kembali diluncurkan dengan lebih dari 250 manajer aset dunia.Daftar anggota terbaru mencakup manajer aset besar asal Eropa seperti UBS Asset Management, Amundi, dan BNP Paribas Asset Management.
Namun, beberapa firma besar asal Amerika Serikat tetap absen, termasuk BlackRock, Vanguard, JPMorgan Asset Management, Invesco, dan Goldman Sachs Asset Management.
Bisnis State Street di Eropa tetap berpartisipasi, sedangkan beberapa firma lainnya hanya mempertahankan cabang Eropa mereka di dalam koalisi tersebut.
Rebecca Mikula-Wright, Ketua Komite Pengarah NZAM, mengatakan bahwa kuatnya partisipasi dalam peluncuran kembali ini menunjukkan betapa berharganya sebuah platform transparan bagi para manajer aset.
Platform ini memungkinkan mereka untuk menunjukkan secara terbuka bagaimana mereka menangani risiko keuangan akibat perubahan iklim serta memanfaatkan peluang dalam transisi ekonomi hijau.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya