Konsumsi bahan bakar fosil, misalnya untuk tank dan jet tempur, menyumbang sebagian besar emisi peperangan secara global.
Pada tahun keempat perang di Ukraina, konsumsi ini mencakup lebih dari sepertiga (37 persen) dari total emisi konflik tersebut.
Sisanya terutama berasal dari produksi amunisi dan penggantian alat militer yang hancur.
Pertempuran yang terus-menerus ditandai dengan serangan tanpa henti dan pertempuran intens yang terlokalisasi akhirnya membuat permintaan bahan bakar dan konsumsi amunisi yang tinggi.
Meskipun taktik di medan perang dan penggunaan peralatan tempur telah berkembang, angkatan bersenjata masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil untuk menggerakkan tank, kendaraan lapis baja, serta jaringan logistik yang terus meluas dalam mendukung operasi militer.
Emisi militer menyumbang sekitar 5,5 persen dari emisi global, tapi tingkat polusinya sering kali tidak dilaporkan bahkan di Uni Eropa. Itulah sebabnya semakin banyak organisasi menyerukan transparansi yang lebih besar.
“Eropa tidak dapat mengklaim kepemimpinan iklim sementara emisi militernya tetap tidak transparan,” kata Dr. Soroush Abolfathi, profesor madya di Universitas Warwick dan bagian dari The War on Climate.
Baca juga:
Pada KTT COP30 PBB di Belém, Brasil, pada November lalu, Ukraina mengumumkan rencana untuk meminta pertanggungjawaban Rusia atas emisi terkait perang ini.
Pemerintah Ukraina akan mengajukan klaim di bawah kategori Kerusakan Lingkungan ke dalam Register for Ukraine tahun ini.
Sebagai informasi, Register for Ukraine merupakan wadah internasional untuk mendokumentasikan bukti-bukti kerusakan akibat perang.
Klain nantinya mendesak Rusia untuk membayar lebih dari Rp 629 triliun yang akan menjadi kasus ganti rugi iklim pertama di dunia akibat perang.
Jumlah ini telah dihitung menggunakan "biaya sosial karbon" sebesar Rp 2,7 juta per tCO2e.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya