Penulis
KOMPAS.com - Ruang jelajah spesies kunci di Taman Nasional Bukit Tigapuluh makin menyempit, menurut Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi. Penyebabnya termasuk aktivitas manusia yang terus menekan ekosistem penting di kawasan tersebut.
Kondisi ini berdampak langsung pada berkurangnya ruang gerak gajah sumatera, harimau sumatera, dan orangutan sumatera.
Baca juga:
Dampak lain yang muncul adalah meningkatnya potensi konflik antara manusia dan satwa liar. Konflik ini bisa merugikan kedua belah pihak.
Lanskap Bukit Tigapuluh di lokasi Pusat Informasi Konservasi Gajah (PIKG) di Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi di ambil dari udara. Kepala BKSDA Jambi Himawan Sasongko menilai ruang jelajah spesies kunci di bentang Bukit Tigapuluh mulai menyempit. Kepala BKSDA Jambi, Himawan Sasongko menyampaikan, lanskap Bukit Tigapuluh merupakan salah satu kawasan hutan dataran rendah dan perbukitan di Provinsi Jambi.
Kawasan ini mencakup dua kabupaten yaitu Tebo dan Tanjung Jabung Barat, dengan luas sekitar 270.000 hektar. Wilayah ini memiliki peran strategis dalam konservasi keanekaragaman hayati.
Menurut Himawan, kawasan tersebut menjadi habitat penting bagi spesies kunci yang terancam punah, dilansir dari Antara, Jumat (27/2/2026).
Sekitar 10 persen populasi gajah sumatera dataran rendah hidup di kawasan ini, kemudian sekitar 10 persen populasi harimau sumatera liar juga berada di lanskap Bukit Tigapuluh.
Selain itu, orangutan sumatera hidup dan berkembang di lokasi habitat asli melalui skema reintroduksi satwa.
Namun, tekanan terhadap kawasan terus terjadi. Lanskap ini menjadi area penting untuk pembangunan hutan tanaman industri, sekaligus menjadi area pengembangan perhutanan sosial.
Selain itu, wilayahnya berbatasan dengan areal budidaya komoditas tanaman bernilai ekonomi.
Situasi tersebut mengancam kemampuan alami lanskap sebagai habitat satwa liar. Spesies kunci dan satwa ikonis Sumatera semakin kehilangan ruang hidupnya.
Baca juga:
BKSDA Jambi menyebut ruang jelajah gajah, harimau, dan orangutan di TN Bukit Tigapuluh, Jambi, menyempit akibat aktivitas manusia.
Himawan menilai perlu ada upaya bersama untuk memperbaiki tata kelola lanskap. Tujuannya agar kawasan ini bisa menjadi ruang hidup bersama yang kondusif.
Kawasan ini juga harus mampu menjaga keberadaan satwa ikonis Sumatera dalam kondisi yang baik.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya