Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ruang Jelajah Gajah dan Harimau di TN Bukit Tigapuluh Jambi Makin Sempit

Kompas.com, 27 Februari 2026, 21:14 WIB
Add on Google
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber Antara

KOMPAS.com - Ruang jelajah spesies kunci di Taman Nasional Bukit Tigapuluh makin menyempit, menurut Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi. Penyebabnya termasuk aktivitas manusia yang terus menekan ekosistem penting di kawasan tersebut.

Kondisi ini berdampak langsung pada berkurangnya ruang gerak gajah sumatera, harimau sumatera, dan orangutan sumatera.

Baca juga:

Dampak lain yang muncul adalah meningkatnya potensi konflik antara manusia dan satwa liar. Konflik ini bisa merugikan kedua belah pihak.

Ruang jelajah gajah di TN Bukit Tigapuluh makin sempit

Tekanan terhadap kawasan tersebut terus terjadi

Lanskap Bukit Tigapuluh di lokasi Pusat Informasi Konservasi Gajah (PIKG) di Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi di ambil dari udara. Kepala BKSDA Jambi Himawan Sasongko menilai ruang jelajah spesies kunci di bentang Bukit Tigapuluh mulai menyempit. Dok. ANTARA/HO-BKSDA Jambi Lanskap Bukit Tigapuluh di lokasi Pusat Informasi Konservasi Gajah (PIKG) di Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi di ambil dari udara. Kepala BKSDA Jambi Himawan Sasongko menilai ruang jelajah spesies kunci di bentang Bukit Tigapuluh mulai menyempit.

Kepala BKSDA Jambi, Himawan Sasongko menyampaikan, lanskap Bukit Tigapuluh merupakan salah satu kawasan hutan dataran rendah dan perbukitan di Provinsi Jambi.

Kawasan ini mencakup dua kabupaten yaitu Tebo dan Tanjung Jabung Barat, dengan luas sekitar 270.000 hektar. Wilayah ini memiliki peran strategis dalam konservasi keanekaragaman hayati.

Menurut Himawan, kawasan tersebut menjadi habitat penting bagi spesies kunci yang terancam punah, dilansir dari Antara, Jumat (27/2/2026).

Sekitar 10 persen populasi gajah sumatera dataran rendah hidup di kawasan ini, kemudian sekitar 10 persen populasi harimau sumatera liar juga berada di lanskap Bukit Tigapuluh.

Selain itu, orangutan sumatera hidup dan berkembang di lokasi habitat asli melalui skema reintroduksi satwa.

Namun, tekanan terhadap kawasan terus terjadi. Lanskap ini menjadi area penting untuk pembangunan hutan tanaman industri, sekaligus menjadi area pengembangan perhutanan sosial.

Selain itu, wilayahnya berbatasan dengan areal budidaya komoditas tanaman bernilai ekonomi.

Situasi tersebut mengancam kemampuan alami lanskap sebagai habitat satwa liar. Spesies kunci dan satwa ikonis Sumatera semakin kehilangan ruang hidupnya.

Baca juga:

Perlu upaya kerja sama 

BKSDA Jambi menyebut ruang jelajah gajah, harimau, dan orangutan di TN Bukit Tigapuluh, Jambi, menyempit akibat aktivitas manusia. Freepik/vladimircech BKSDA Jambi menyebut ruang jelajah gajah, harimau, dan orangutan di TN Bukit Tigapuluh, Jambi, menyempit akibat aktivitas manusia.

Himawan menilai perlu ada upaya bersama untuk memperbaiki tata kelola lanskap. Tujuannya agar kawasan ini bisa menjadi ruang hidup bersama yang kondusif.

Kawasan ini juga harus mampu menjaga keberadaan satwa ikonis Sumatera dalam kondisi yang baik. 

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Pemerintah
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
LSM/Figur
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
Pemerintah
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Swasta
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
LSM/Figur
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
Pemerintah
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Pemerintah
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
Pemerintah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
Pemerintah
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Swasta
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
Pemerintah
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau