KOMPAS.com - Bahan kimia abadi yang berbahaya, per- and polyfluoroalkyl substances (PFAS), ditemukan di banyak produk makanan dan hewan.
Hal ini berdasarkan penelitian dari Universitas Ehime yang menguji 100 jenis makanan anjing dan kucing komersial di Jepang untuk mencari bahan kimia itu.
Baca juga:
Tidak hanya itu, para peneliti juga menemukan, konsentrasi tertinggi ada pada makanan berbahan ikan dan makanan kering.
Namun, jumlah yang masuk ke tubuh hewan justru paling tinggi dari makanan basah. Sebab, hewan biasanya mengonsumsi makanan basah dalam jumlah yang lebih banyak.
Adapun PFAS sering disebut sebagai bahan kimia abadi karena bisa bertahan selama bertahun-tahun, bahkan berabad-abad, tanpa terurai.
PFAS digunakan dalam industri karena sifatnya yang tahan panas, tahan minyak, dan tahan air.
Bagaimana bahan kimia ini bisa mengancam dan memengaruhi kesehatan, masih terus diteliti hingga saat ini.
Studi ungkap PFAS dalam makanan anjing dan kucing komersial. Produk berbahan ikan dan makanan basah berpotensi meningkatkan paparan.PFAS bisa bertahan lama di lingkungan dan ditemukan di air, tanah, satwa liar, serta tubuh manusia di seluruh dunia, dilansir dari Phys.org, Senin (2/3/2026).
Hewan peliharaan yang berbagi lingkungan dalam ruangan dengan manusia juga dapat memiliki kandungan PFAS yang terukur dalam darah mereka.
Selama ini, pakan hewan peliharaan masih sangat minim dikaji sebagai salah satu jalur paparan potensial bagi mereka.
Dalam studi berjudul "Widespread PFAS contamination in pet food: Dietary sources and health risks to companion animals" , yang diterbitkan di jurnal Environmental Pollution, para peneliti menganalisis 100 produk makanan hewan komersial yang dijual di Jepang untuk mengukur 34 jenis PFAS.
Mereka juga mengevaluasi bagaimana konsentrasi dan estimasi paparan bervariasi, berdasarkan karakteristik produk dan jumlah pakan yang diberikan.
Pembelian pakan hewan peliharaan dilakukan di Jepang antara tahun 2018 dan 2020, mencakup 48 produk pakan anjing dan 52 produk pakan kucing.
Pemilihan produk didasarkan pada volume impor nasional dan peringkat penjualan. Kumpulan sampel tersebut mencakup formulasi makanan kering maupun basah.
Konsentrasi PFAS yang terukur sangat bervariasi di antara berbagai produk makanan hewan.
Studi ungkap PFAS dalam makanan anjing dan kucing komersial. Produk berbahan ikan dan makanan basah berpotensi meningkatkan paparan.Pada pakan anjing kering, kadarnya berkisar dari angka yang tidak terdeteksi oleh alat (di bawah ambang batas deteksi) hingga 1,7 nanogram per gram, dengan nilai tengah 0,2 nanogram per gram dan rata-rata 0,4 nanogram per gram.
Pakan kucing kering berkisar dari angka yang tidak terdeteksi oleh alat hingga 16 nanogram per gram, dengan nilai tengah 0,18 dan rata-rata 1,0.
Sementara itu, kadar bahan kimia di makanan basah memang terlihat lebih rendah. Namun, karena porsi makan makanan basah biasanya lebih besar daripada makanan kering, anjing justru terpapar bahan kimia lebih banyak.
Pakan basah anjing berkisar dari angka yang tidak terdeteksi hingga 0,67 nanogram per gram, dengan nilai tengah 0,036 dan rata-rata 0,11.
Pakan kucing basah berkisar dari 0,021 hingga 9,9 nanogram per gram, dengan nilai tengah 0,11 dan rata-rata 0,56.
Produk berbahan dasar ikan mengandung total PFAS yang jauh lebih tinggi daripada produk berbahan dasar daging, sedangkan produk berbahan dasar biji-bijian juga menunjukkan kadar yang meningkat jika mengandung bahan tambahan yang berasal dari ikan.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya