Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bahan Kimia Abadi PFAS Terdeteksi dalam Makanan Anjing dan Kucing

Kompas.com, 2 Maret 2026, 20:16 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Bahan kimia abadi yang berbahaya, per- and polyfluoroalkyl substances (PFAS), ditemukan di banyak produk makanan dan hewan.

Hal ini berdasarkan penelitian dari Universitas Ehime yang menguji 100 jenis makanan anjing dan kucing komersial di Jepang untuk mencari bahan kimia itu.

Baca juga: 

Tidak hanya itu, para peneliti juga menemukan, konsentrasi tertinggi ada pada makanan berbahan ikan dan makanan kering.

Namun, jumlah yang masuk ke tubuh hewan justru paling tinggi dari makanan basah. Sebab, hewan biasanya mengonsumsi makanan basah dalam jumlah yang lebih banyak.

Adapun PFAS sering disebut sebagai bahan kimia abadi karena bisa bertahan selama bertahun-tahun, bahkan berabad-abad, tanpa terurai.

PFAS digunakan dalam industri karena sifatnya yang tahan panas, tahan minyak, dan tahan air.

Bagaimana bahan kimia ini bisa mengancam dan memengaruhi kesehatan, masih terus diteliti hingga saat ini.

Bahan kimia abadi PFAS dalam makanan hewan peliharaan

Studi ungkap PFAS dalam makanan anjing dan kucing komersial. Produk berbahan ikan dan makanan basah berpotensi meningkatkan paparan.Unsplash/miaandersonphotography Studi ungkap PFAS dalam makanan anjing dan kucing komersial. Produk berbahan ikan dan makanan basah berpotensi meningkatkan paparan.

PFAS bisa bertahan lama di lingkungan dan ditemukan di air, tanah, satwa liar, serta tubuh manusia di seluruh dunia, dilansir dari Phys.org, Senin (2/3/2026).

Hewan peliharaan yang berbagi lingkungan dalam ruangan dengan manusia juga dapat memiliki kandungan PFAS yang terukur dalam darah mereka.

Selama ini, pakan hewan peliharaan masih sangat minim dikaji sebagai salah satu jalur paparan potensial bagi mereka.

Dalam studi berjudul "Widespread PFAS contamination in pet food: Dietary sources and health risks to companion animals" , yang diterbitkan di jurnal Environmental Pollution, para peneliti menganalisis 100 produk makanan hewan komersial yang dijual di Jepang untuk mengukur 34 jenis PFAS.

Mereka juga mengevaluasi bagaimana konsentrasi dan estimasi paparan bervariasi, berdasarkan karakteristik produk dan jumlah pakan yang diberikan.

Pembelian pakan hewan peliharaan dilakukan di Jepang antara tahun 2018 dan 2020, mencakup 48 produk pakan anjing dan 52 produk pakan kucing.

Pemilihan produk didasarkan pada volume impor nasional dan peringkat penjualan. Kumpulan sampel tersebut mencakup formulasi makanan kering maupun basah.

Konsentrasi PFAS yang terukur sangat bervariasi di antara berbagai produk makanan hewan.

Studi ungkap PFAS dalam makanan anjing dan kucing komersial. Produk berbahan ikan dan makanan basah berpotensi meningkatkan paparan.Unsplash/szamanm Studi ungkap PFAS dalam makanan anjing dan kucing komersial. Produk berbahan ikan dan makanan basah berpotensi meningkatkan paparan.

Pada pakan anjing kering, kadarnya berkisar dari angka yang tidak terdeteksi oleh alat (di bawah ambang batas deteksi) hingga 1,7 nanogram per gram, dengan nilai tengah 0,2 nanogram per gram dan rata-rata 0,4 nanogram per gram.

Pakan kucing kering berkisar dari angka yang tidak terdeteksi oleh alat hingga 16 nanogram per gram, dengan nilai tengah 0,18 dan rata-rata 1,0.

Sementara itu, kadar bahan kimia di makanan basah memang terlihat lebih rendah. Namun, karena porsi makan makanan basah biasanya lebih besar daripada makanan kering, anjing justru terpapar bahan kimia lebih banyak.

Pakan basah anjing berkisar dari angka yang tidak terdeteksi hingga 0,67 nanogram per gram, dengan nilai tengah 0,036 dan rata-rata 0,11.

Pakan kucing basah berkisar dari 0,021 hingga 9,9 nanogram per gram, dengan nilai tengah 0,11 dan rata-rata 0,56.

Produk berbahan dasar ikan mengandung total PFAS yang jauh lebih tinggi daripada produk berbahan dasar daging, sedangkan produk berbahan dasar biji-bijian juga menunjukkan kadar yang meningkat jika mengandung bahan tambahan yang berasal dari ikan.

Baca juga: 

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Komitmen Net-Zero Perusahaan Global Tumbuh 61 Persen pada 2025
Komitmen Net-Zero Perusahaan Global Tumbuh 61 Persen pada 2025
Pemerintah
Waspadai Perdagangan Satwa Liar Berisiko Tularkan Penyakit ke Manusia
Waspadai Perdagangan Satwa Liar Berisiko Tularkan Penyakit ke Manusia
Pemerintah
Enam Kali Raih Proper Emas, Sido Muncul Buktikan Praktik Ramah Lingkungan Dimulai dari Kegiatan Sehari-hari
Enam Kali Raih Proper Emas, Sido Muncul Buktikan Praktik Ramah Lingkungan Dimulai dari Kegiatan Sehari-hari
BrandzView
Dari Kebun Manggis ke Supermarket Eropa, Ini Keunggulan Indonesia Ketimbang Negara Tetangga
Dari Kebun Manggis ke Supermarket Eropa, Ini Keunggulan Indonesia Ketimbang Negara Tetangga
Swasta
Lestari Forum 2026: 'Sustainability' Bagian dari Inti Bisnis
Lestari Forum 2026: "Sustainability" Bagian dari Inti Bisnis
Swasta
Mengintip Strategi PHE Menjaga Pasokan Energi Nasional Jangka Panjang
Mengintip Strategi PHE Menjaga Pasokan Energi Nasional Jangka Panjang
BUMN
Prabowo Bikin Program Listrifikasi Kendaran, Pangkas Pemakaian BBM
Prabowo Bikin Program Listrifikasi Kendaran, Pangkas Pemakaian BBM
Pemerintah
Gletser Asia Mencair, Pasokan Air Miliaran Orang Terancam
Gletser Asia Mencair, Pasokan Air Miliaran Orang Terancam
LSM/Figur
Pemerintah Siapkan Kilang Avtur Ramah Lingkungan dari Jelantah
Pemerintah Siapkan Kilang Avtur Ramah Lingkungan dari Jelantah
Pemerintah
Panas dari Lalu Lintas Berdampak pada Kenaikan Suhu Kota
Panas dari Lalu Lintas Berdampak pada Kenaikan Suhu Kota
Pemerintah
Investor Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Pusat Data
Investor Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Pusat Data
Pemerintah
PBB Pilih 20 Kota Terbaik dalam Upaya Pengelolaan Nol Sampah
PBB Pilih 20 Kota Terbaik dalam Upaya Pengelolaan Nol Sampah
LSM/Figur
SmartBioBin, Tong Sampah yang Bisa Pisahkan Limbah dengan Sensor
SmartBioBin, Tong Sampah yang Bisa Pisahkan Limbah dengan Sensor
LSM/Figur
Harga Naik, Momentum Ubah Kebiasaan Pakai Plastik Sekali Pakai
Harga Naik, Momentum Ubah Kebiasaan Pakai Plastik Sekali Pakai
LSM/Figur
Pelaku Industri Dukung Program Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati
Pelaku Industri Dukung Program Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau