Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Dalam konflik Iran–Israel saat ini, beberapa serangan terjadi di sekitar fasilitas nuklir seperti Natanz dan Fordow. Walaupun belum ada laporan pelepasan radiasi, insiden semacam ini mengingatkan bahwa perang di sekitar infrastruktur nuklir selalu membawa risiko ekologis yang jauh melampaui batas negara.
Pengalaman Chernobyl menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan akibat teknologi nuklir bukan hanya persoalan satu negara atau satu generasi, tetapi ia dapat menjadi tragedi ekologis global yang bertahan hingga puluhan tahun. Dalam konteks itu, perang modern bukan sekadar konflik geopolitik. Ia juga menyimpan potensi bencana lingkungan yang skalanya sulit dibayangkan.
Baca juga: Perang AS-Israel Vs Iran Bikin Jalur Minyak Lumpuh, Kuwait Pangkas Produksi
Konflik geopolitik juga memperlihatkan paradoks dalam agenda keberlanjutan global. Di satu sisi, dunia sedang mendorong percepatan transisi menuju energi bersih. Namun di sisi lain, konflik di kawasan produsen energi justru memperkuat ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Ancaman terhadap pasokan minyak di kawasan Teluk sempat mendorong harga minyak global melonjak hingga lebih dari 14 persen dalam waktu singkat. Bagi negara seperti Indonesia yang masih bergantung pada impor energi, gejolak ini segera terasa dalam bentuk tekanan terhadap subsidi energi, inflasi, dan ketahanan ekonomi nasional.
Perang di belahan dunia lain ternyata dapat memengaruhi stabilitas ekonomi rumah tangga di negeri ini. Belum lagi cadangan minyak nasional saat ini hanya cukup untuk 20 hari, sangat jauh dibawah cadangan Jepang yang mencapai 250 hari, tentu kondisi ini akan memicu kekhawatiran pasokan bahan bakar minyak (BBM) didalam negeri.
Selanjutnya kita juga dapat melihat dari perspektif pembangunan berkelanjutan, konflik bersenjata dapat menggagalkan berbagai target Sustainable Development Goals (SDGs). Polusi udara dan kerusakan fasilitas kesehatan mengancam kesehatan publik. Infrastruktur air bersih rusak. Emisi karbon meningkat. Ekosistem laut dan daratan tercemar. Semua itu bertolak belakang dengan upaya dunia untuk membatasi pemanasan global dan membangun masa depan yang lebih berkelanjutan.
Setiap perang besar pada akhirnya bukan hanya krisis geopolitik, tetapi juga kemunduran bagi agenda keberlanjutan global.
Selama ini perang sering dipahami semata-mata sebagai persoalan keamanan dan politik. Namun kemudian di era perubahan iklim, perspektif tersebut tidak lagi cukup. Perang modern tidak hanya menghancurkan kota dan memakan korban jiwa. Ia juga mempercepat emisi karbon, merusak ekosistem, dan memperlambat upaya dunia menghadapi krisis iklim.
Setiap konflik bersenjata hari ini tidak hanya menentukan masa depan sebuah kawasan, tetapi juga masa depan planet ini. Mungkin sudah saatnya dunia mulai bertanya bukan hanya siapa yang menang dalam perang, tetapi juga berapa besar kerusakan bumi yang harus dibayar oleh semua orang.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya