Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
SETIAP hari kita disajikan berita dan gambar yang hampir sama: langit yang diterangi rudal, kota yang terbakar, dan laporan korban yang terus bertambah. Konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat kembali menegaskan betapa rapuhnya perdamaian global.
Tidak hanya itu, berita tentang strategi militer, keseimbangan kekuatan kawasan, hingga lonjakan harga minyak memenuhi halaman-halaman media nasional maupun internasional.
Namun di balik semua itu ada satu pertanyaan yang hampir tidak pernah diajukan: berapa besar jejak karbon dari perang ini?
Tentu saja ini adalah pertanyaan penting di tengah dunia yang sedang berlomba menurunkan emisi karbon, dan perang justru menjadi salah satu aktivitas paling intensif energi di planet ini, dan sekaligus yang paling jarang dihitung secara terbuka.
Militer modern pada dasarnya adalah mesin yang digerakkan oleh bahan bakar fosil. Jet tempur, kapal induk, tank, hingga logistik militer bergantung pada konsumsi minyak dalam jumlah sangat besar. Jika seluruh aktivitas militer dunia digabungkan, emisinya diperkirakan mencapai sekitar 5,5 persen dari total emisi global, angka yang menempatkan militer sebagai salah satu “pengemisi terbesar” di dunia.
Amerika Serikat sendiri menghasilkan sekitar 636 juta ton CO2 per tahun dari aktivitas militernya, angka yang bahkan melampaui emisi tahunan banyak negara berkembang. Ironisnya, sebagian besar emisi militer tidak wajib dilaporkan secara rinci dalam perjanjian iklim internasional. Akibatnya, ketika dunia menghitung emisi kendaraan pribadi, pabrik, atau bahkan dapur rumah tangga, jejak karbon perang justru sering luput dari perhatian global.
Baca juga: Serangan AS-Israel ke Iran Ancam Transisi Energi dan Emisi Global
Perang modern menghasilkan emisi karbon melalui berbagai cara. Serangan udara dan peluncuran rudal menghasilkan emisi langsung dari bahan bakar jet dan bahan peledak. Tidak hanya itu, infrastruktur energi yang hancur kemudian memicu kebakaran besar yang melepaskan gas rumah kaca dalam jumlah besar.
Dalam konflik terbaru di kawasan Teluk, serangan terhadap fasilitas energi bahkan memicu kebakaran kilang minyak dan meningkatkan risiko tumpahan minyak yang mencemari udara dan laut.
Apakah dampaknya berhenti di medan tempur saja? Ketika konflik mengganggu jalur perdagangan energi seperti Selat Hormuz, kapal tanker harus berputar dan mencari rute alternatif yang aman namun jauh lebih panjang. Dalam beberapa kasus, perjalanan kapal dapat bertambah hingga 50 persen lebih jauh dari rute normal, yang berarti konsumsi bahan bakar dan emisi karbon ikut meningkat secara signifikan.
Dengan kata lain, perang tidak hanya menghasilkan emisi lokal. Ia juga memperluas jejak karbon melalui gangguan pada sistem ekonomi global.
Baca juga: Dampak Lingkungan Perang Rusia-Ukraina, Total Emisi Capai 311 Juta Ton
Kerusakan akibat perang tidak hanya terjadi pada manusia dan bangunan. Ledakan bom dan rudal dapat melepaskan berbagai bahan kimia berbahaya, mulai dari logam berat hingga bahan bakar pesawat, yang mencemari udara, air, dan tanah. Serangan terhadap fasilitas energi juga meningkatkan risiko pencemaran laut yang dapat mengganggu ekosistem pesisir maupun migrasi biota laut di kawasan Teluk.
Dalam jangka panjang, puing bangunan, limbah bahan peledak, dan tanah yang terkontaminasi dapat meninggalkan jejak kerusakan lingkungan yang bertahan puluhan tahun setelah perang berakhir.
Sejarah menunjukkan bahwa dampak ekologis perang sering kali baru terlihat sepenuhnya ketika konflik telah lama berlalu. Sangat ironis.
Dalam konflik yang melibatkan negara dengan fasilitas nuklir, kekhawatiran terhadap dampak lingkungan tentu saja akan menjadi jauh lebih serius. Dunia pernah menyaksikan bagaimana satu kecelakaan nuklir di Chernobyl pada tahun 1986 mengubah wilayah luas di Eropa Timur menjadi zona yang tidak layak huni selama puluhan tahun.
Radiasi menyebar lintas batas negara, memengaruhi jutaan orang dan meninggalkan warisan ekologis yang masih terasa hingga hari ini.
Dalam konflik Iran–Israel saat ini, beberapa serangan terjadi di sekitar fasilitas nuklir seperti Natanz dan Fordow. Walaupun belum ada laporan pelepasan radiasi, insiden semacam ini mengingatkan bahwa perang di sekitar infrastruktur nuklir selalu membawa risiko ekologis yang jauh melampaui batas negara.
Pengalaman Chernobyl menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan akibat teknologi nuklir bukan hanya persoalan satu negara atau satu generasi, tetapi ia dapat menjadi tragedi ekologis global yang bertahan hingga puluhan tahun. Dalam konteks itu, perang modern bukan sekadar konflik geopolitik. Ia juga menyimpan potensi bencana lingkungan yang skalanya sulit dibayangkan.
Baca juga: Perang AS-Israel Vs Iran Bikin Jalur Minyak Lumpuh, Kuwait Pangkas Produksi
Konflik geopolitik juga memperlihatkan paradoks dalam agenda keberlanjutan global. Di satu sisi, dunia sedang mendorong percepatan transisi menuju energi bersih. Namun di sisi lain, konflik di kawasan produsen energi justru memperkuat ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Ancaman terhadap pasokan minyak di kawasan Teluk sempat mendorong harga minyak global melonjak hingga lebih dari 14 persen dalam waktu singkat. Bagi negara seperti Indonesia yang masih bergantung pada impor energi, gejolak ini segera terasa dalam bentuk tekanan terhadap subsidi energi, inflasi, dan ketahanan ekonomi nasional.
Perang di belahan dunia lain ternyata dapat memengaruhi stabilitas ekonomi rumah tangga di negeri ini. Belum lagi cadangan minyak nasional saat ini hanya cukup untuk 20 hari, sangat jauh dibawah cadangan Jepang yang mencapai 250 hari, tentu kondisi ini akan memicu kekhawatiran pasokan bahan bakar minyak (BBM) didalam negeri.
Selanjutnya kita juga dapat melihat dari perspektif pembangunan berkelanjutan, konflik bersenjata dapat menggagalkan berbagai target Sustainable Development Goals (SDGs). Polusi udara dan kerusakan fasilitas kesehatan mengancam kesehatan publik. Infrastruktur air bersih rusak. Emisi karbon meningkat. Ekosistem laut dan daratan tercemar. Semua itu bertolak belakang dengan upaya dunia untuk membatasi pemanasan global dan membangun masa depan yang lebih berkelanjutan.
Setiap perang besar pada akhirnya bukan hanya krisis geopolitik, tetapi juga kemunduran bagi agenda keberlanjutan global.
Selama ini perang sering dipahami semata-mata sebagai persoalan keamanan dan politik. Namun kemudian di era perubahan iklim, perspektif tersebut tidak lagi cukup. Perang modern tidak hanya menghancurkan kota dan memakan korban jiwa. Ia juga mempercepat emisi karbon, merusak ekosistem, dan memperlambat upaya dunia menghadapi krisis iklim.
Setiap konflik bersenjata hari ini tidak hanya menentukan masa depan sebuah kawasan, tetapi juga masa depan planet ini. Mungkin sudah saatnya dunia mulai bertanya bukan hanya siapa yang menang dalam perang, tetapi juga berapa besar kerusakan bumi yang harus dibayar oleh semua orang.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya