KOMPAS.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyampaikan, musim kemarau di Indonesia tahun ini bakal menjadi "berkah" bagi nelayan karena adanya peningkatan kesuburan laut yang luar biasa melalui fenomena upwelling.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Widodo Pranowo menyampaikan bahwa awal musim kemarau yang diprediksi terjadi pada April 2026 memicu pergerakan angin timuran yang kuat.
Baca juga:
Angin tersebut mendorong massa air permukaan laut ke arah lepas pantai, lalu digantikan massa air dingin kaya nutrien dari lapisan lebih dalam.
Adapun upwelling adalah fenomena massa air dingin yang lebih dalam dan kaya nutrisi naik ke permukaan laut, menggantikan air permukaan yang lebih hangat.
"Massa air yang terangkat ini membawa pupuk alami berupa nitrat dan fosfat. Ketika mencapai permukaan yang kaya sinar matahari, terjadi fotosintesis masif oleh fitoplankton, inilah yang mendasari peningkatan produktivitas primer laut kita," kata Widodo dalam keterangannya, Rabu (18/3/2026).
Fenomena upwelling pada musim kemarau di Indonesia tahun ini diprediksi bakal menambah populasi ikan tangkap nelayan.
Berdasarkan riset yang dipublikasikan dalam Majalah Indo-Maritime 2014, fenomena upwelling di selatan Jawa memiliki karakteristik unik yang dikenal secara internasional dengan sebutan Semi-permanent Java Coastal Upwelling (RATU).
Widodo menyampaikan, intensitas fenomena RATU sangat dipengaruhi oleh dinamika musiman serta variabilitas iklim global.
Peneliti memanfaatkan teknologi Argo Float yakni robot penyelam otomatis yang mampu beroperasi hingga kedalaman 2.000 meter untuk merekam data temperatur dan salinitas laut secara real-time.
Hasil penelitian menunjukkan adanya lapisan termoklin yang terangkat ke permukaan selama proses upwelling. Lapisan ini menjadi indikator penting dalam menentukan wilayah potensial penangkapan ikan.
Widodo mencatat, wilayah selatan Jawa hingga Nusa Tenggara merupakan habitat krusial bagi migrasi dan pemijahan ikan ekonomis penting, termasuk tuna sirip biru selatan, cakalang, dan tuna mata besar.
Baca juga: BMKG: Musim Kemarau di Jabar Diprediksi Datang Lebih Awal
Ia juga menekankan, angin timuran serta fenomena El Niño berpotensi memperkuat intensitas upwelling, yang secara langsung berdampak pada peningkatan stok ikan pelagis.
Fenomena ini diperkirakan mulai terasa pada April–Mei 2026, ditandai dengan berkembangnya fitoplankton. Peningkatan akan semakin signifikan pada Juni dan mencapai puncaknya pada Juli–Agustus 2026.
"Dinamika laut sangat dipengaruhi oleh variabilitas iklim. Jika El Niño 2026 terjadi, potensi penguatan upwelling tidak hanya di selatan Jawa, tetapi juga meluas ke wilayah perairan Indonesia lainnya," beber Widodo.
Temuannya menegaskan di tengah meningkatnya risiko kekeringan panjang akibat El Niño yang mengancam ketahanan pangan dari sektor darat, sumber pangan dari laut berpotensi menjadi alternatif penting.
Oleh karena itu, BRIN menilai pemantauan dinamika laut dan atmosfer secara berkelanjutan menjadi langkah strategis untuk menjaga kedaulatan pangan nasional, khususnya dari sektor maritim.
Baca juga: Panas Ekstrem Bisa Batasi Aktivitas Manusia, Lansia Paling Terdampak
Fenomena upwelling pada musim kemarau di Indonesia tahun ini diprediksi bakal menambah populasi ikan tangkap nelayan. Sebagai informasi, musim kemarau 2026 di Indonesia diprediksi terjadi lebih awal. Pergeseran musim ini seiring melemahnya La Nina yang berlangsung sejak Oktober 2025 dan berakhir Februari 2026.
Pada Mei 2026, BMKG memprediksi kemarau melanda 184 zona musim, dan Juni 2026 sebanyak 163 zona musim. Musim kemarsu 2026 akan diawali di wilayah Nusa Tenggara, lalu bergerak ke arah barat secara bertahap.
Wilayah yang diperkirakan mengalami kemarau pada April, antara lain pesisir utara Jawa Barat, Jawa bagian Barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, sebagian kecil Bali, sebagian besar Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, sebagian kecil Kalimantan Selatan, dan sebagian kecil Sulawesi Selatan.
Musim kemarau pada Mei 2026 diprediksi terjadi di sebagian Sumatera, Jawa bagian Barat, sebagian kecil Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Bali, sebagian kecil Nusa Tenggara Barat, Kalimantan bagian Selatan, sebagian kecil Sulawesi, sebagian kecil Maluku, dan sebagian Papua.
Sedangkan pada Juni 2026 meliputi sebagian besar Sumatera, sebagian kecil Jawa, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku, dan sebagian kecil Pulau Papua.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya