KOMPAS.com - Konsumen Korea Selatan secara bertahap beralih dari plastik ke bahan yang dianggap lebih mudah didaur ulang, seiring meningkatnya kesadaran mereka tentang dampak lingkungan dari kemasan sekali pakai, menurut survei baru.
Melansir Eco Business, Jumat (20/3/2026) survei terhadap 1.011 orang dewasa yang dilakukan oleh Korea Federation for Environmental Movements (KFEM) mengungkapkan minat masyarakat terhadap kaleng aluminium melonjak drastis dalam setahun terakhir.
Di tahun 2026, jumlah orang yang lebih menyukai kaleng aluminium naik menjadi 34,7 persen dari sebelumnya 23,9 persen. Meski begitu, botol plastik masih menjadi pilihan utama yang paling banyak disukai, yaitu sebesar 43,4 persen.
Secara global, aluminium sudah menjadi bahan kemasan minuman yang paling banyak didaur ulang, dengan tingkat daur ulang mencapai sekitar 75 persen pada tahun 2023, jauh lebih tinggi daripada botol plastik dan kaca.
Baca juga: Kantong Teh Celup Lepaskan Miliaran Partikel Plastik Selama Diseduh
Data industri dan penelitian juga menunjukkan bahwa aluminium memiliki salah satu tingkat daur ulang "siklus tertutup" tertinggi di antara kemasan sekali pakai. Artinya lebih mungkin untuk diubah kembali menjadi produk yang sama tanpa kehilangan kualitas.
Temuan ini menunjukkan adanya perubahan perilaku konsumen karena kekhawatiran terhadap keberlanjutan mulai mengubah keputusan dalam membeli produk, terutama di sektor minuman.
Sebagian besar responden menyatakan bahwa daur ulang seharusnya tidak hanya sekadar mengumpulkan sampah, tetapi harus menjamin bahan tersebut digunakan kembali untuk membuat produk yang sama.
Sebanyak 81,9 persen responden setuju dengan konsep daur ulang siklus tertutup. Selain itu, sekitar 77,2 persen berpendapat bahwa sistem seperti ini sangat penting untuk mengatasi perubahan iklim
Namun, kesadaran tentang keuntungan spesifik aluminium bagi lingkungan masih terbatas karena kurangnya informasi.
Hanya 36,9 persen responden yang mengetahui bahwa mendaur ulang kaleng aluminium menjadi kaleng baru dapat menghemat sekitar 95 persen energi dibandingkan dengan memproduksi bahan baru.
Sementara itu sebanyak 54 persen menjawab dengan benar bahwa kaleng aluminium dapat didaur ulang kembali menjadi produk yang sama.
Baca juga: Produk Bahan Bangunan Ramah Lingkungan Lebih Diminati Konsumen di Indonesia
Ini menunjukkan bahwa pemahaman tentang daur ulang yang disebut "dari kaleng ke kaleng" masih tertinggal dibandingkan dengan dukungan masyarakat yang luas terhadap sistem daur ulang tertutup.
“Hasil survei menunjukkan bahwa memberikan informasi yang akurat tentang manfaat lingkungan dari aluminium dapat memengaruhi pilihan konsumen dan partisipasi dalam daur ulang,” kata Lee Dong-i, sekretaris jenderal KFEM.
Lebih lanjut, meski ada kemauan yang kuat untuk bertindak, di mana 75,5 persen responden mengatakan akan memilih kemasan yang dapat didaur ulang di masa depan dan 78,3 persen berniat memilah kaleng aluminium dengan benar, para responden menyebutkan adanya beberapa hambatan struktural.
Hambatan yang paling umum termasuk kurangnya ruang untuk memilah dan menyimpan barang yang dapat didaur ulang (22,3 persen), kebingungan tentang metode pemisahan (14,0 persen) dan keraguan tentang apakah daur ulang dilakukan dengan benar (8,5 persen).
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya