KOMPAS.com - Bendungan dan kolam yang dibuat berang-berang bisa mengubah koridor aliran sungai menjadi penyerap karbon bersih tahunan (net annual carbon sink), yang menyerap lebih banyak karbon dibanding yang dilepaskan dalam kurun waktu satu tahun.
Menurut studi, jika hal tersebut dapat diterapkan di tempat lain, hewan-hewan ini dapat membantu memitigasi perubahan iklim dengan menyerap gas rumah kaca (GRK) tanpa memerlukan infrastruktur yang mahal.
Baca juga:
"Berang-berang tidak akan menyelesaikan perubahan iklim sendirian, tapi penelitian kami menunjukkan bahwa 'insinyur alami' ini secara diam-diam dapat membantu lanskap sungai menyimpan lebih banyak karbon selama puluhan tahun ke depan," ucap penulis utama studi tersebut, Lukas Hallberg, yang juga peneliti di Universitas Birmingham di Inggris, dilansir dari Live Science, Senin (23/3/2026).
Bendungan dan kolam yang dibuat berang-berang bisa mengubah koridor aliran sungai menjadi penyerap karbon.Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Communications Earth and Environment, para peneliti memeriksa aliran sungai sepanjang 0,8 kilometer yang dipengaruhi oleh berang-berang di Swiss bagian utara.
Sebelum lahan basah berang-berang terbentuk pada tahun 2010, aliran sungai tersebut lebih berfungsi sebagai dataran banjir dengan banyak pepohonan.
Ketika berang-berang didatangkan, mereka menebang banyak pohon untuk membangun bendungan.
Bendungan yang dibuat oleh berang-berang juga akhirnya membuat aliran sungai yang tadinya deras menjadi terhambat.
Air tersebut kemudian meluap ke area sekitarnya, menciptakan kolam-kolam dangkal, rawa, atau tanah berlumpur. Inilah yang disebut lahan basah buatan berang-berang.
Lahan basah tersebut kemudian membuat lumpur dan materi organik mengendap ke dasar dan terkubur selama puluhan tahun, bukannya hanyut atau menguap menjadi gas karbon dioksida (CO2).
Lahan basah berang-berang yang lebih sehat juga dapat membuat lanskap sungai lebih tahan terhadap kebakaran hutan yang dahsyat sehingga mencegah sebagian karbon dilepaskan sejak awal.
Lebih lanjut, ilmuwan kemudian mengukur karbon di dalam air, yang terlepas ke atmosfer, serta yang tersimpan dalam sedimen, biomassa, dan kayu mati.
Mereka melakukannya dengan mengambil sampel inti dari sedimen dan hutan di sekitarnya, bersama dengan sampel tanaman dari alga yang tumbuh di sepanjang aliran sungai.
Baca juga:
Bendungan dan kolam yang dibuat berang-berang bisa mengubah koridor aliran sungai menjadi penyerap karbon.Para peneliti juga menghitung aliran air sungai, yang membantu mereka menentukan tingkat kedalaman air, kandungan garam, dan seberapa banyak sedimen yang bergerak melalui area tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan basah tersebut merupakan penyerap bersih yang menyerap 108 hingga 146 ton karbon per tahun. Jumlah karbon yang terselamatkan ini setara dengan konsumsi 832 hingga 1.129 barel minyak.
Tim tersebut memperkirakan, di seluruh dataran banjir dapat mengompensasi antara 1,2 persen hingga 1,8 persen dari emisi karbon tahunan Swiss.
Kendati demikian, para peneliti berhati-hati untuk tidak melebih-lebihkan apa yang dapat dilakukan hewan-hewan tersebut.
Hal tersebut khususnya karena hanya satu lokasi yang dipelajari dan penyimpanan karbon dapat bervariasi tergantung pada iklim, geologi, vegetasi, dan luas ruang yang dimiliki berang-berang untuk menyebar.
Emily Fairfax, asisten profesor di Departemen Geografi, Lingkungan dan Masyarakat di Universitas Michigan menambahkan, temuan ini menjadi alat yang ampuh untuk mendukung restorasi lahan basah sekaligus menghilangkan skeptisisme terhadap berang-berang.
"Orang-orang cenderung cepat menganggap berang-berang sebagai masalah dan mencari alasan untuk mengendalikan mereka secara ketat. Dan saya pikir studi ini menunjukkan dengan sangat baik bahwa kita tidak perlu melakukan apa pun selain membiarkan berang-berang hidup apa adanya," kata Fairfax.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya