Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Berang-berang Bisa Jadi Kunci Penyelamat Iklim Dunia

Kompas.com, 23 Maret 2026, 16:33 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Bendungan dan kolam yang dibuat berang-berang bisa mengubah koridor aliran sungai menjadi penyerap karbon bersih tahunan (net annual carbon sink), yang menyerap lebih banyak karbon dibanding yang dilepaskan dalam kurun waktu satu tahun.

Menurut studi, jika hal tersebut dapat diterapkan di tempat lain, hewan-hewan ini dapat membantu memitigasi perubahan iklim dengan menyerap gas rumah kaca (GRK) tanpa memerlukan infrastruktur yang mahal.

Baca juga:

"Berang-berang tidak akan menyelesaikan perubahan iklim sendirian, tapi penelitian kami menunjukkan bahwa 'insinyur alami' ini secara diam-diam dapat membantu lanskap sungai menyimpan lebih banyak karbon selama puluhan tahun ke depan," ucap penulis utama studi tersebut, Lukas Hallberg, yang juga peneliti di Universitas Birmingham di Inggris, dilansir dari Live Science, Senin (23/3/2026).

Peran berang-berang dalam penyerapan karbon

Bendungan dan kolam yang dibuat berang-berang bisa mengubah koridor aliran sungai menjadi penyerap karbon.Pixabay Bendungan dan kolam yang dibuat berang-berang bisa mengubah koridor aliran sungai menjadi penyerap karbon.

Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Communications Earth and Environment, para peneliti memeriksa aliran sungai sepanjang 0,8 kilometer yang dipengaruhi oleh berang-berang di Swiss bagian utara.

Sebelum lahan basah berang-berang terbentuk pada tahun 2010, aliran sungai tersebut lebih berfungsi sebagai dataran banjir dengan banyak pepohonan.

Ketika berang-berang didatangkan, mereka menebang banyak pohon untuk membangun bendungan.

Bendungan yang dibuat oleh berang-berang juga akhirnya membuat aliran sungai yang tadinya deras menjadi terhambat.

Air tersebut kemudian meluap ke area sekitarnya, menciptakan kolam-kolam dangkal, rawa, atau tanah berlumpur. Inilah yang disebut lahan basah buatan berang-berang.

Lahan basah tersebut kemudian membuat lumpur dan materi organik mengendap ke dasar dan terkubur selama puluhan tahun, bukannya hanyut atau menguap menjadi gas karbon dioksida (CO2).

Lahan basah berang-berang yang lebih sehat juga dapat membuat lanskap sungai lebih tahan terhadap kebakaran hutan yang dahsyat sehingga mencegah sebagian karbon dilepaskan sejak awal.

Lebih lanjut, ilmuwan kemudian mengukur karbon di dalam air, yang terlepas ke atmosfer, serta yang tersimpan dalam sedimen, biomassa, dan kayu mati.

Mereka melakukannya dengan mengambil sampel inti dari sedimen dan hutan di sekitarnya, bersama dengan sampel tanaman dari alga yang tumbuh di sepanjang aliran sungai.

Baca juga: 

Bendungan dan kolam yang dibuat berang-berang bisa mengubah koridor aliran sungai menjadi penyerap karbon.Unsplash/raymondo600 Bendungan dan kolam yang dibuat berang-berang bisa mengubah koridor aliran sungai menjadi penyerap karbon.

Para peneliti juga menghitung aliran air sungai, yang membantu mereka menentukan tingkat kedalaman air, kandungan garam, dan seberapa banyak sedimen yang bergerak melalui area tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan basah tersebut merupakan penyerap bersih yang menyerap 108 hingga 146 ton karbon per tahun. Jumlah karbon yang terselamatkan ini setara dengan konsumsi 832 hingga 1.129 barel minyak.

Tim tersebut memperkirakan, di seluruh dataran banjir dapat mengompensasi antara 1,2 persen hingga 1,8 persen dari emisi karbon tahunan Swiss.

Kendati demikian, para peneliti berhati-hati untuk tidak melebih-lebihkan apa yang dapat dilakukan hewan-hewan tersebut.

Hal tersebut khususnya karena hanya satu lokasi yang dipelajari dan penyimpanan karbon dapat bervariasi tergantung pada iklim, geologi, vegetasi, dan luas ruang yang dimiliki berang-berang untuk menyebar.

Emily Fairfax, asisten profesor di Departemen Geografi, Lingkungan dan Masyarakat di Universitas Michigan menambahkan, temuan ini menjadi alat yang ampuh untuk mendukung restorasi lahan basah sekaligus menghilangkan skeptisisme terhadap berang-berang.

"Orang-orang cenderung cepat menganggap berang-berang sebagai masalah dan mencari alasan untuk mengendalikan mereka secara ketat. Dan saya pikir studi ini menunjukkan dengan sangat baik bahwa kita tidak perlu melakukan apa pun selain membiarkan berang-berang hidup apa adanya," kata Fairfax.

Memulihkan berang-berang

Bendungan dan kolam yang dibuat berang-berang bisa mengubah koridor aliran sungai menjadi penyerap karbon.Unsplash/lilianovich Bendungan dan kolam yang dibuat berang-berang bisa mengubah koridor aliran sungai menjadi penyerap karbon.

Berang-berang diburu hingga nyaris punah di sebagian besar wilayah sebarannya, baik di Eropa maupun Amerika Utara.

Saat ini, seiring dengan pulihnya populasi mereka, para peneliti mulai memahami peran penting hewan-hewan ini dalam penyimpanan karbon.

Hallberg mengatakan, sulit untuk memberikan estimasi yang pasti mengenai seberapa banyak karbon yang dapat diserap melalui restorasi berang-berang skala besar, baik di Amerika Utara maupun Eropa.

Sebab, habitat yang sesuai dan masukkan karbon bervariasi dari satu tempat ke tempat lain.

Namun, merujuk pada penelitian sebelumnya dari Taman Nasional Rocky Mountain di Colorado, ia memperkirakan bahwa lahan basah berang-berang yang aktif dapat menyumbang hingga 23 persen dari total penyimpanan karbon di lanskap tersebut.

"Jika kita memulihkan populasi berang-berang secara serius, keuntungan karbon yang dihasilkan akan cukup besar sehingga kita tidak bisa mengabaikannya," catat Fairfax.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum
Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum
Swasta
KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya
KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya
Pemerintah
Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali
Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali
Pemerintah
Program 'SNI Goes to Campus' Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional
Program "SNI Goes to Campus" Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional
Swasta
Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Pemerintah
Konsumsi Listrik AI Diprediksi Capai 945 TWh pada 2030
Konsumsi Listrik AI Diprediksi Capai 945 TWh pada 2030
Pemerintah
Ujian Berat bagi Asia Tenggara, El Nino Godzilla Perparah Dampak Konflik di Timur Tengah
Ujian Berat bagi Asia Tenggara, El Nino Godzilla Perparah Dampak Konflik di Timur Tengah
LSM/Figur
El Niño Datang, Sektor Pertanian Asia Mulai Terancam
El Niño Datang, Sektor Pertanian Asia Mulai Terancam
Pemerintah
Saat Plastik Tak Lagi Murah, Sistem Guna Ulang Jadi Makin Relevan
Saat Plastik Tak Lagi Murah, Sistem Guna Ulang Jadi Makin Relevan
BrandzView
Reformasi Subsidi BBM-LPG Bisa Hemat Ratusan Triliun untuk Energi Terbarukan
Reformasi Subsidi BBM-LPG Bisa Hemat Ratusan Triliun untuk Energi Terbarukan
LSM/Figur
Emil Salim Serukan Perubahan Model Pembangunan yang Lebih Holistik
Emil Salim Serukan Perubahan Model Pembangunan yang Lebih Holistik
LSM/Figur
BNPB: Karhutla hingga Banjir Landa Sejumlah Wilayah Indonesia
BNPB: Karhutla hingga Banjir Landa Sejumlah Wilayah Indonesia
Pemerintah
Reformasi Subsidi Energi Jadi Kunci Pulihkan Kredibilitas Fiskal dan Percepat Transisi Energi
Reformasi Subsidi Energi Jadi Kunci Pulihkan Kredibilitas Fiskal dan Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Dibanding Biofuel, EV Disebut Lebih Layak Jadi Alternatif untuk Tekan Impor BBM
Dibanding Biofuel, EV Disebut Lebih Layak Jadi Alternatif untuk Tekan Impor BBM
LSM/Figur
FEM IPB: Pertumbuhan Ekonomi 5,6 Persen Belum Mampu Kurangi Ketimpangan
FEM IPB: Pertumbuhan Ekonomi 5,6 Persen Belum Mampu Kurangi Ketimpangan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau