Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hiu di Bahama Positif Mengandung Kokain dan Kafein, Diduga akibat Ulah Manusia

Kompas.com, 24 Maret 2026, 18:48 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber People

KOMPAS.com - Ikan hiu di Bahama, Kepulauan Karibia, terdeteksi positif mengandung kokain, kafein, dan zat lainnya. Temuan itu berdasarkan sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Pollution.

Dalam studinya, peneliti menguji lima spesies hiu di Bahama dan menemukan kontaminan yang menjadi perhatian baru (Contaminants of Emerging Concern) atau CECs.

Baca juga: 

Para peneliti menganalisis sampel darah dari 85 ekor hiu di dekat Pulau Eleuthera, yang mana hampir sepertiganya terdeteksi positif mengandung zat-zat termasuk kafein, obat anti-inflamasi seperti diklofenak dan asetaminofen, dan dalam satu kasus ditemukan kandungan kokain.

"Ini merupakan laporan pertama mengenai kontaminan CECs dan kemungkinan respons fisiologis terkait pada hiu di Bahama, yang menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk menangani pencemaran laut di ekosistem yang selama ini dianggap masih murni," tulis para penulis studi tersebut, dilansir dari People, Selasa (24/3/2026).

Ikan hiu di Bahama terpapar narkoba dan kafein

Diduga akibat ulah manusia

Ilustrasi hiu karang Karibia (caribbean reef shark). Peneliti menemukan kandungan kokain hingga kafein pada hiu di Bahama. Simak dampaknya bagi hewan tersebut dan masyarakat setempat.Dok. Wikimedia Commons/Dennis Hipp Ilustrasi hiu karang Karibia (caribbean reef shark). Peneliti menemukan kandungan kokain hingga kafein pada hiu di Bahama. Simak dampaknya bagi hewan tersebut dan masyarakat setempat.

Kandungan zat-zat tersebut diketahui memengaruhi jalur fisiologis pada mamalia dan hewan bertulang belakang lainnya.

Sebagai contoh, diklofenak dikaitkan dengan kerusakan ginjal, sedangkan zat stimulan seperti kokain dan kafein dihubungkan dengan hiperglikemia (kadar gula darah tinggi), penumpukan laktat, serta gangguan pada metabolisme lemak.

Peneliti utama dalam studi tersebut, Natascha Wosnick, mengatakan, zat-zat tersebut merupakan hasil dari polusi manusia.

"Kita sedang membicarakan sebuah pulau yang sangat terpencil di Bahama," kata Wosnick, yang juga ahli biologi dari Universitas Federal Paraná di Brasil.

"Hal ini terjadi sebagian besar karena orang-orang datang ke sana, buang air kecil di laut, dan membuang limbah kotoran mereka ke air," tambah dia. 

Baca juga:

Studi tersebut juga menyatakan bahwa keberadaan zat-zat ini pada hiu tidak hanya berdampak buruk bagi kesehatan satwa tersebut, tapi juga bagi ekonomi lokal.

"Banyaknya wisatawan yang datang, ditambah makin menjamurnya vila dan penginapan, membuat jumlah limbah cair serta kandungan kimia berbahaya di air meningkat drastis," tulis studi tersebut.

Memahami dampak polusi ini bagi kesehatan hiu dalam jangka panjang sangatlah penting. Bukan cuma demi menjaga kelestarian alam, tapi juga untuk menyelamatkan sumber penghasilan dan ekonomi warga lokal yang bergantung pada laut.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Swasta
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
LSM/Figur
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
Pemerintah
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Pemerintah
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
Pemerintah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
Pemerintah
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Swasta
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
Pemerintah
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
Pemerintah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Swasta
Komitmen Net-Zero Perusahaan Global Tumbuh 61 Persen pada 2025
Komitmen Net-Zero Perusahaan Global Tumbuh 61 Persen pada 2025
Pemerintah
Waspadai Perdagangan Satwa Liar Berisiko Tularkan Penyakit ke Manusia
Waspadai Perdagangan Satwa Liar Berisiko Tularkan Penyakit ke Manusia
Pemerintah
Enam Kali Raih Proper Emas, Sido Muncul Buktikan Praktik Ramah Lingkungan Dimulai dari Kegiatan Sehari-hari
Enam Kali Raih Proper Emas, Sido Muncul Buktikan Praktik Ramah Lingkungan Dimulai dari Kegiatan Sehari-hari
BrandzView
Dari Kebun Manggis ke Supermarket Eropa, Ini Keunggulan Indonesia Ketimbang Negara Tetangga
Dari Kebun Manggis ke Supermarket Eropa, Ini Keunggulan Indonesia Ketimbang Negara Tetangga
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau