Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Konservasionis Orangutan Birute Galdikas Meninggal, Ingin Dimakamkan di Kalteng

Kompas.com, 26 Maret 2026, 08:28 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Bermimpi mempelajari orangutan sejak muda

Birute merupakan pendiri Orangutan Foundation International (OFI). Sedari muda, ia bermimpi pergi ke hutan-hutan Asia Tenggara dan mempelajari spesies kera besar yang paling kurang dikenal yaitu orangutan Asia.

Sebagai mahasiswa pascasarjana di UCLA, Birute bertemu paleoantropolog dan arkeolog Louis Leakey yang berjanji untuk membantunya.

Setelah hampir tiga tahun menunggu, akhirnya pada September 1971, Birute berangkat ke Indonesia lalu memulai studi panjang terhadap populasi orangutan liar mana pun dalam sejarah ilmu pengetahuan.

Selama perjalanan awal ke Kalimantan Indonesia pada tahun itu, Birute mengunjungi Jane Goodall, ahli primata di lokasi penelitian simpanse Taman Nasional Gombe, Afrika.

Jane Goodall, Diane Fossey, dan Birute memiliki mentor yang sama, yaitu Louis Leakey. Mereka kemudian disebut sebagai Trimates.

Pada 6 November 1971, usai bertemu Louis, Birute dan suaminya saat itu, Rod Brindamour, akhirnya tiba di tempat yang kini menjadi Taman Nasional Tanjung Puting.

"Birute Mary Galdikas dan Rod Brindamour tiba di tempat yang kemudian menjadi Camp Leakey setelah perjalanan perahu seharian penuh menyusuri Sungai Sekonyer. Mereka didampingi oleh tiga pejabat pemerintah Indonesia dan seorang juru masak setempat," dikutip dari laman resmi OFI.

Sekitar tiga minggu setelah tiba di Borneo, Birute bertemu dengan orangutan liar bernama Akmad yang baru saja ditangkap penebang kayu ilegal di daerah setempat. Akhmad dibawa ke Camp Leakey untuk rehabilitasi dan pelepasan kembali ke alam liar dengan aman.

"Saya dilahirkan untuk mempelajari orangutan karena mereka, seperti saya, adalah bagian dari hutan yang luas," ucap Birute.

Baca juga:

Birute juga mendapatkan sejumlah penghargaan antara lain

  • Penghargaan Kemanusiaan dari PETA (1990)
  • Penghargaan Pahlawan Bumi, Eddie Bauer (1991)
  • Daftar 500 Perusahaan Terkemuka Dunia, Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (1993)
  • Daftar 500 Perusahaan Terkemuka Dunia, Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (1993)
  • Penghargaan Chico Mendes, Sierra Club (1993)
  • Medali Peringatan Ratu Elizabeth II, Kanada (1994)
  • Doktor Kehormatan, Universitas Waterloo, Ontario, Kanada (1995)
  • Perwira, Orde Kanada (1995)
  • Penghargaan Kalpataru, “Pahlawan Lingkungan Hidup,” dari pemerintah Indonesia (1997)
  • Penghargaan Tyler untuk Prestasi dan Kepemimpinan Ilmu Lingkungan Dunia (1997)
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Mengenal Cemara Laut, Sang Penjaga Pantai yang Kerap Terlupakan
Mengenal Cemara Laut, Sang Penjaga Pantai yang Kerap Terlupakan
LSM/Figur
Ekonomi Hijau Global Makin Meroket, Nilainya Tembus  Rp178.600 Triliun
Ekonomi Hijau Global Makin Meroket, Nilainya Tembus Rp178.600 Triliun
Pemerintah
Rekor Baru, Gelombang Panas Eropa Catat Suhu dan Kelembapan Tertinggi
Rekor Baru, Gelombang Panas Eropa Catat Suhu dan Kelembapan Tertinggi
Pemerintah
UMKM Perlu Mulai Perhatikan Aspek Keberlanjutan
UMKM Perlu Mulai Perhatikan Aspek Keberlanjutan
Swasta
CRC Dorong Pendekatan Baru untuk Perkuat Ketahanan Kota di Era Digital
CRC Dorong Pendekatan Baru untuk Perkuat Ketahanan Kota di Era Digital
Swasta
IPB University Pamerkan Inovasi Hasil Riset untuk Petani dan Nelayan di PENAS XVII Gorontalo
IPB University Pamerkan Inovasi Hasil Riset untuk Petani dan Nelayan di PENAS XVII Gorontalo
Pemerintah
Tak Pandang Usia, Gelombang Panas Ancam Kesehatan Orang Muda dan Tua
Tak Pandang Usia, Gelombang Panas Ancam Kesehatan Orang Muda dan Tua
Pemerintah
Pusat Data Kini Makin Sering Digugat Secara Hukum Akibat Isu Iklim
Pusat Data Kini Makin Sering Digugat Secara Hukum Akibat Isu Iklim
Pemerintah
Komunitas Properti dan Konstruksi Bersinergi Dukung Perbaikan Fasilitas Pendidikan
Komunitas Properti dan Konstruksi Bersinergi Dukung Perbaikan Fasilitas Pendidikan
Swasta
Kecepatan Adaptasi Tentukan Nasib Mahluk Hidup di Bumi, Kok Bisa?
Kecepatan Adaptasi Tentukan Nasib Mahluk Hidup di Bumi, Kok Bisa?
LSM/Figur
Terjebak Urusan Domestik Tanpa Gaji, Hambat Karier Jutaan Perempuan
Terjebak Urusan Domestik Tanpa Gaji, Hambat Karier Jutaan Perempuan
Pemerintah
Melihat Budi Daya Ikan Ramah Lingkungan di Gang Sempit Ibukota
Melihat Budi Daya Ikan Ramah Lingkungan di Gang Sempit Ibukota
LSM/Figur
Ketergantungan Penduduk di Asia pada Pendingin Ruangan Bisa Perburuk Krisis Iklim
Ketergantungan Penduduk di Asia pada Pendingin Ruangan Bisa Perburuk Krisis Iklim
LSM/Figur
Denmark Usulkan Harga Tiket Pesawat Naik untuk Tekan Emisi Penerbangan
Denmark Usulkan Harga Tiket Pesawat Naik untuk Tekan Emisi Penerbangan
Pemerintah
Kelompok Tani Sinar Cabe Raup Omzet Rp 30 Juta Per Bulan dari Kebun Buah Naga
Kelompok Tani Sinar Cabe Raup Omzet Rp 30 Juta Per Bulan dari Kebun Buah Naga
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau