"Pada umumnya, kita bisa mengendalikan diri dan melakukannya, lalu merasa lebih baik setelahnya," kata Datillo.
Sementara itu, pekerja yang depresi bisa terlalu keras dalam mengkritik diri sendiri. Imbasnya, mereka bisa pulang kerja lebih awal, izin sakit, dan semakin mengisolasi diri.
"Ironisnya, semakin mereka menghindari pekerjaan, semakin parah gejala kecemasan dan depresi yang mereka alami. Semakin sedikit yang kita lakukan dan semakin banyak yang kita hindari, semakin kecil kemungkinan kita mengalami hal-hal yang membuat kita merasa lebih baik,” terang Datillo.
Dengan memperhatikan kesehatan mental karyawan, perusahaan sebenarnya dapat membantu meningkatkan keuntungannya.
Baca juga:
Sementara itu, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), bekerja tidak hanya bermanfaat sebagai mata pencaharian, tapi juga untuk rasa percaya diri, tujuan hidup, dan pencapaian.
Bekerja juga menjadi kesempatan untuk menjalin hubungan yang positif dan merasa diterima dalam suatu komunitas.
"Bagi orang-orang yang mengalami gangguan kesehatan mental, pekerjaan yang layak dapat mendukung proses pemulihan dan inklusi, serta meningkatkan rasa percaya diri dan kemampuan berinteraksi sosial," tulis WHO.
Kendati demikian, perlu ditekankan, manfaat pada kesehatan mental ini bisa didapat bila pekerjaan yang dijalani adalah pekerjaan yang layak.
Sebab, pekerjaan yang tidak layak bisa membahayakan kesehatan mental.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya