KOMPAS.com - Anthropic dan OpenAI mencari ahli senjata dan bahan peledak untuk mencegah penyalahgunaan atas teknologi mereka.
Kedua perusahaan AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) ini merekrut para ahli di bidang bahan kimia dan ledakan untuk membangun pengaman bagi sistem AI mereka, termasuk menangani informasi sensitif di bidang ini.
Baca juga:
Kandidat akan bertugas merancang dan memantau batasan-batasan bagaimana model AI bereaksi terhadap perintah tentang senjata kimia dan bahan peledak, dilansir dari Euronews, Selasa (31/3/2026).
Tak hanya itu, kandidat tersebut akan bertugas melakukan "respons cepat" terhadap setiap eskalasi yang dideteksi Anthropic dalam perintah terkait senjata dan bahan peledak.
Pelamar harus memiliki pengalaman minimal lima tahun di bidang pertahanan senjata kimia, bahan peledak, serta pengetahuan tentang perangkat penyebar radiologi.
Posisi ini melibatkan perancangan evaluasi ancaman baru yang berpotensi muncul selama peluncuran model AI mutakhir berisiko tinggi.
Sementara itu, lowongan kerja OpenAI mencari peneliti untuk bergabung dengan tim mitigasi mereka, yang memantau risiko bencana terkait model AI mutakhir.
Baca juga:
Khawatir teknologi AI disalahgunakan, OpenAI dan Anthropic resmi buka lowongan bagi ahli bahan peledak.OpenAI pun mengiklankan lowongan untuk seorang "Pemodel Ancaman", yang akan memberikan seseorang tanggung jawab utama untuk mengidentifikasi, memodelisasi, dan memperkirakan risiko-risiko terdepan.
Mereka juga berfungsi sebagai pusat penghubung yang mengintegrasikan perspektif teknis, tata kelola, serta kebijakan tentang prioritas, fokus, dan alasan pendekatan terhadap risiko-risiko terdepan dari AI.
Perekrutan tersebut dilakukan setelah Anthropic mengajukan gugatan hukum terhadap pemerintah Amerika Serikat (AS) yang menetapkan perusahaan itu sebagai risiko rantai pasokan.
Label tersebut memungkinkan pemerintah AS untuk memblokir kontrak atau menginstruksikan departemen untuk tidak bekerja sama dengan Anthropic.
Konflik dimulai pada Selasa (24/2/2026), ketika Departemen Perang (Departement of War/DOW) AS menuntut akses tanpa batasan ke chatbot Claude milik Anthropic.
CEO Dario Amodei mengatakan, kontrak DOW AS seharusnya tidak mencakup kasus yang mana platform AI, Claude dikerahkan untuk pengawasan domestik massal dan diintegrasikan ke dalam senjata otonom sepenuhnya.
Tak lama usai perselisihan dengan Anthropic, OpenAI menandatangani kesepakatan dengan DOW AS untuk mengerahkan AI-nya ke lingkungan rahasia.
OpenAI menyebut, kesepakatan itu mencakup batasan ketat, seperti larangan penggunaan sistemnya untuk pengawasan massal atau senjata otonom.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya