KOMPAS.com - Negara anggota Uni Eropa berbondong-bondong membeli panel surya, pompa panas (heat pump), dan kendaraan listrik (electric vehicle atau EV) di tengah krisis energi.
Melonjaknya harga minyak dunia akibat konflik Amerika Serikat (AS) dan Israel versus Iran menyebabkan Uni Eropa beralih ke energi terbarukan sesegera mungkin.
Baca juga:
Penjualan pompa panas di Inggris melonjak 51 persen dalam tiga pekan pertama pada bulan Maret dibandingkan Maret 2025, menurut laporan Octopus Energy. Padahal, secara historis Inggris memiliki tingkat adopsi terendah di Eropa.
“Kita melihat pergeseran besar karena orang-orang berhenti hanya bertanya dan mulai bertindak. Keluarga-keluarga Inggris lelah disandera oleh harga bahan bakar fosil global,” ujar perwakilan Octopus Energy, Rebecca Dibb Simkin, dilansir dari Euronews, Selasa (31/3/2026).
Tercatat, penjualan panel surya meningkat hingga 54 persen lantaran pemilik rumah memperbesar sistem dengan 12 panel, alih-alih 10 panel seperti sebelumnya.
Sementara itu, penjualan pengisi daya kendaraan listrik (EV) melonjak 20 persen.
Saat krisis energi menyerang dunia akibat konflik AS-Israel vs Iran, penjualan panel surya dan kendaraan listrik melonjak di Uni Eropa. "Dengan beralih ke energi surya dan pompa panas, mereka membangun pembangkit listrik sendiri, biaya rendah dan melindungi pengeluaran dalam jangka panjang," tutur Simkin.
Berdasarkan data Komisi Eropa, pengeluaran rata-rata untuk bahan bakar minyak di Uni Eropa meningkat 12 persen menjadi 1,84 euro (sekitar Rp 31.650) per liter sejak Senin (23/2/2026) hingga Senin (16/3/2026).
Hal ini lantas menyebabkan penjualan mobil listrik bekas Perancis, Aramisauto, naik hampir berlipat ganda.
Permintaan pelanggan untuk membeli EV melonjak di seluruh pasar online (daring) di Perancis, Romania, Portugal, dan Polandia dengan pertumbuhan yang terus meningkat secara konsisten setiap pekannya.
Perusahaan energi terbarukan Jerman, Enpal BV, menyebutkan, permintaan untuk panel surya dan pompa panas naik 30 persen sejak dimulainya perang AS-Israel vs Iran.
Hal senada dilaporkan perusahaan surya 1KOMMA5° dengan penjualan panel surya hampir dua kali lipat.
Baca juga:
Saat krisis energi menyerang dunia akibat konflik AS-Israel vs Iran, penjualan panel surya dan kendaraan listrik melonjak di Uni Eropa. Spanyol juga telah berinvestasi besar-besaran untuk energi terbarukan selama enam tahun terakhir. Hal ini berdampak pada murahnya harga listrik di negara tersebut.
Sejak tahun 2019, Spanyol telah menggandakan kapasitas energi angin dan suryanya, menambahkan lebih dari 40 gigawatt dibandingkan negara-enagra Uni Eropa lainnya kecuali Jerman yang pasar energinya dua kali lebih besar.
“Pertumbuhan energi angin dan surya di Spanyol mengurangi pengaruh pembangkit listrik fosil yang mahal terhadap harga listrik 75 persen sejak tahun 2019," tulis peneliti lembaga kajian energi Ember dalam laporannya.
"Penurunan jam-jam di mana harga listrik dikaitkan dengan biaya tenaga gas ini lebih cepat daripada di negara-negara yang bergantung pada gas lainnya seperti Italia dan Jerman,” lanjut peneliti.
Spanyol sama sekali tidak menggunakan pembangkit listrik tenaga batu bara pada Agustus 2025. Jauh berbeda dengan 10 tahun sebelumnya, ketika batu bara menyumbang seperempat dari kebutuhan listrik Spanyol.
Di sisi lain, para ahli sepakat bahwa ketergantungan pada impor bahan bakar fosil membuat negara-negara berada dalam posisi yang sangat rentan.
Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres menyatakan, konflik Amerika Serikat dan Israel lawan Iran memperlihatkan bagaimana dunia terlalu bergantung pada energi fosil.
“Di mana pasokan terkonsentrasi di beberapa wilayah dan setiap konflik berisiko mengejutkan bagi ekonomi global,” ucap Guterres.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya