KOMPAS.com - Studi terbaru mengungkapkan, partikel nano dan mikroplastik (NMPs) ditemukan dalam darah hingga sperma manusia. Lembaga kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) bersama tim peneliti menganalisis sampel darah 30 subjek perempuan.
Sebanyak 20 orang di antaranya bekerja di sektor persampahan dan 10 lainnya merupakan mahasiswa di Blitar, Pacitan, Magetan, Lamongan serta Malang.
"Ditemukan rata-rata sembilan partikel mikroplastik per 1 mililiter darah," kata tim peneliti dalam keterangannya, Senin (13/4/2026).
Pada studi awal, Ecoton juga mengidentifikasi mikroplastik dalam sperma, dengan enam hingga tujuh partikel mikroplastik berkuran 1,5–7,9 mikrometer mengandung polimer polyethylene pada empat sampel.
Baca juga: Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Risikonya, terjadi potensi gangguan pada perkembangan sperma yang berujung penurunan kesuburan.
Menurut studi yang dilakukan bersama Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, mikroplastik terdeteksindalam air ketuban ibu hamil. Dari 45 sampel di wilayah Gresik, Jawa Timur, ditemukan 3–4 partikel mikroplastik dalam amnion.
Kontaminasi ini berisiko memicu gangguan perkembangan janin, penurunan nutrisi, inflamasi, hingga kelahiran prematur.
Temuan ini menjadi sinyal merah bagi kesehatan publik, terutama karena jenis polimer yang paling mendominasi adalah polyester sebesar 28 persen yang merupakan tulang punggung industri pakaian dan tekstil modern.
Manager Science,Art and Communication Ecoton, Prigi Arisandi mengaku mulanya peneliti ragu dengan ukuran plastik yang masuk ke dalam darah manusia lantaran ukuran sel darah merah antara 6-8 mikrometer (µm). Sedangkan ukuran mikroplastik masih dalam millimeter.
"Definisi mikroplastik adalah pecahan plastik dengan ukuran dibawah 5 mm hingga 1 µm atau 1 per 1000 milimeter," ucap Prigi.
Akan tetapi, jika ukuran partikel plastik di bawah 5 µm maka plastik ini bisa masuk ke sel darah merah. Oleh karenanya, Ecoton bekerja sama dengan Scientific Imaging Centre (SIC) Institut Teknologi Bandung (ITB).
Mereka mennggunakan alat Scanning Electrone Microscop (SEM) guna mengukur material seukuran 10 nanometer.
“Dengan menggunakan SEM kami menemukan nanoplastik dalam darah dan sperma dengan ukuran 200-800 nanometer," papar Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton, Rafika Aprilianti.
Dia menambahkan, jenis nanoplastik yang ditemukan antara lain fiber dan fragmen. Para peneliti menyatakan, partikel yang ditemukan berukuran antara 0,40 mikron hingga 10 mikron.
Ukuran ini jauh di bawah diameter pembuluh rambut (kapiler) manusia yang berkisar 5-10 mikron, dan pembuluh arteriol 8-100 mikron.
Artinya, partikel plastik tersebut memiliki kemampuan mekanis untuk menembus jaringan terdalam, mengalir tanpa hambatan di arteriol, dan berinteraksi langsung dengan sel-sel vital di dalam tubuh.
Selain polyester, polimer lain yang terdeteksi meliputi polyisobutylene, polyethylene (PE, LDPE, HDPE) dan PET. Ecoton menyebut, mikroplastik yang mengendap di dalam darah dapat menyebabkan risiko pecah sel yang melepaskan hemoglobin ke plasma darah.
Sehingga memicu penggumpalan sel yang berisiko menyumbat pembuluh darah, meningkatkan ancaman stroke ataupun penyakit kardiovaskular.
Dampak lainnya, tubuh terus-menerus mengeluarkan sinyal toksik (TNF-alpha dan Interleukin), yang berpotensi menurunkan jumlah sel darah putih dan melemahkan sistem imun.
Kemudian, interaksi NMPs dengan trombosit memicu pembentukan gumpalan darah atau trombus, yang bisa menyebabkan penyumbatan pembuluh koroner. Mikroplastik juga mengakibatkan penuaan dini sel manusia.
Tim peneliti menekankan, limbah tekstil menjadi salah satu sumber polusi yang kerap terabaikan namun dampaknya semakin mengkhawatirkan.
“Fakta bahwa polimer tekstil menjadi penyumbang terbesar dalam darah subjek penelitian kami menunjukkan bahwa apa yang kita kenakan setiap hari berpotensi menjadi racun yang mengalir di dalam nadi,” jelas perwakilan tim peneliti Ecoton.
Secara biologis, nanoplastik yang masuk ke dalam tubuh memicu respons imun. Sel-sel seperti neutrofil, limfosit, dan leukosit berusaha menghancurkannya
Lanraran partikel tersebut tidak dapat terurai, prosesnya menghasilkan radikal bebas yang merusak sel atau stres oksidatif, keadaan ketika sel mengalami kerusakan akibat paparan molekul reaktif.
Ahli kesehatan anak asal Amerika Serikat, Philip J. Landrigan, dalam dokumenter The Plastic Detox menyebut paparan bahan kimia dari plastik pada ibu hamil dapat berdampak lintas generasi.
Ia menjelaskan, paparan tersebut tidak hanya memengaruhi ibu dan janin, tetapi juga sel reproduksi yang sudah terbentuk di dalam janin. Artinya, dampak plastik hari ini berpotensi dirasakan hingga generasi selanjutnya.
Para peneliti lantas mengimbau masyarakat untuk mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai terutama dalam konsumsi makanan dan minuman hingga saat berbelanja.
Selain itu, mengurangi penggunaan pakaian berbahan sintetis dan beralih ke wadah non-plastik, membawa botol minum sendiri, dan menggunakan tas belanja guna ulang
Dari sisi kesehatan, konsumsi makanan antiinflamasi seperti kunyit serta makanan kaya antioksidan seperti buah dan sayuran juga dianjurkan untuk membantu melawan dampak radikal bebas.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya