Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sektor Perbankan Dinilai Lalai Tangani Polusi Metana

Kompas.com, 17 April 2026, 13:23 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Metana menyumbang 30 persen pemanasan global sejak Revolusi Industri dan menjadi penyebab utama krisis iklim.

Meski begitu, bank-bank dinilai masih mengabaikan emisi metana yang dihasilkan oleh perusahaan pangan dan pertanian yang merupakan salah satu penghasil emisi terbesar di dunia.

Temuan tersebut berdasarkan penelitian terbaru dari lembaga pemikir keuangan, Planet Tracker.

Melansir Edie, Kamis (16/4/2026) laporan berjudul 'The Silence of the Loans' ini mengungkapkan bahwa emisi metana sering kali luput dari perhatian dalam kebijakan dan target iklim bank-bank besar dunia.

Salurkan dana ke penghasil emisi

Laporan ini memeriksa 25 lembaga keuangan yang mendanai 15 perusahaan pangan dan pertanian penghasil metana terbesar di dunia, baik melalui pinjaman langsung maupun penerbitan surat utang.

Baca juga: Sumur Minyak Tak Aktif Keluarkan Metana 1.000 Kali Lebih Banyak dari Dugaan

Menurut Planet Tracker, lembaga-lembaga ini secara total telah menyalurkan dana sebesar 159 miliar dolar AS atau setara dengan Rp2.731,9 triliun kepada perusahaan-perusahaan pangan dan pertanian penghasil metana terbesar di dunia.

Sekitar 96 persen dari pinjaman yang diberikan kepada 15 perusahaan penghasil emisi tinggi tersebut dilaporkan berupa pembiayaan yang difasilitasi oleh bank.

Bank-bank yang dianalisis dalam laporan ini termasuk Royal Bank of Canada (RBC), JPMorgan, Goldman Sachs, NatWest, Barclays, dan HSBC.

Planet Tracker mencatat bahwa meski bank-bank punya target keberlanjutan dan emisi gas rumah kaca untuk pembiayaan mereka, sangat sedikit yang terbuka soal pembiayaan yang mereka fasilitasi.

Standar pelaporan internasional (ISSB S2) maupun standar Inggris (UK SRS S2) memang tidak mewajibkan organisasi untuk melaporkan emisi Scope 3 yang berasal dari aktivitas fasilitas pembiayaan tersebut.

Menurut laporan, bank-bank justru secara bersama-sama 'mendukung' terciptanya 1,3 juta ton emisi metana melalui pendanaan mereka ke perusahaan seperti JBS (produsen daging sapi terkemuka), Tyson Foods, Nestlé, Danone, dan Fonterra.

Berdasarkan temuan Planet Tracker, JBS adalah perusahaan pertanian penghasil polusi metana terbesar di dunia.

Produksi daging sapi menjadi penyumbang emisi metana terbesar di sektor pertanian, karena hewan ternak seperti sapi bisa menghasilkan hingga 500 liter metana per hari.

Industri susu juga menghasilkan metana yang tinggi karena ketergantungannya pada sapi. Selain itu, budidaya padi juga menjadi penyumbang besar yang sering diabaikan. Praktik penggenangan sawah menyebabkan bakteri penghasil metana berkembang biak dengan cepat.

Tidak ada target pengurangan metana

Metana bertanggung jawab atas sekitar 0,5 derajat C pemanasan global dan kekuatannya 80 kali lebih besar daripada CO2 dalam jangka waktu 20 tahun.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau