Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

India Dilanda Gelombang Panas, Suhunya Capai 40 Derajat

Kompas.com, 24 April 2026, 09:19 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Gelombang panas dilaporkan melanda wilayah utara, tengah, dan timur India sejak Kamis (23/4/2026).

Menurut IQAir, daerah Bihar, Benggala Barat, Odisha, Uttar Pradesh, Madhya Pradesh, Rajasthan, Chhattisgarh, Punjab, Haryana, dan Delhi mencatat suhu yang sangat tinggi hingga sekitar 40 derajat celsius.

"Berdasarkan laporan terbaru, 19 dari 20 kota terpanas di dunia saat ini berada di India. Di antara lokasi-lokasi yang paling parah terkena dampaknya adalah Bhagalpur di Bihar, Talcher di Odisha, Asansol di Benggala Barat, dan Medinipur di Benggala Barat," kata IQAir dikutip dari laman resminya, Jumat (24/4/2026).

Baca juga: Jepang Juluki Musim Panas 2025 “Kokushobi”, Suhunya Tembus 40 Derajat

Gelombang panas saat ini dipicu kombinasi faktor cuaca dan iklim. Menurut IQAir, cuaca panas pra-musim hujan yang kuat menghangatkan permukaan bumi. Selain itu, tidak adanya awan memungkinkan paparan sinar matahari langsung ke bumi dalam waktu yang lama.

"Berkurangnya hujan salju musim dingin di Himalaya dan beberapa bagian Eurasia juga berkontribusi pada suhu yang lebih tinggi dengan mengurangi efek pendinginan alami. Pada saat yang sama, angin barat laut yang panas dan kering menekan curah hujan di sebagian besar negara," jelas mereka.

Fenomena tersebut juga dipengaruhi pergeseran pola di Samudra Pasifik dan kondisi netral El Niño-Southern Oscillation (ENSO). Sehingga memungkinkan suhu ekstrem berlangsung dalam waktu yang lebih lama.

Cuaca panas ekstrem dirasakan pula di dekat Himalaya akibat berkurangnya lapisan salju. Sementara, dataran timur di dekat wilayah Lumbini di Nepal mengalami kondisi panas yang sama.

Baca juga: Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen

IQAir mencatat, cuaca panas dimulai pada 20 April 2026 ketika suhu meningkat tajam di berbagai wilayah.

Menurut Departemen Meteorologi India (IMD), gelombang panas diperkirakan akan terus berlanjut hingga 27 April 2026 di beberapa negara bagian. Sejauh ini, IMD telah mengeluarkan beberapa peringatan terkait panas di seluruh wilayah yang terkena dampak karena suhu terus meningkat.

Direktur Jenderal IMD, Mrutyunjay Mohapatra, menyatakan ada daerah-daerah yang secara klimatologis rawan dengan suhu diperkirakan akan melebihi 40 derajat celcius. Bahkan di wilayah yang mungkin tidak mengalami gelombang panas.

"Misalnya, suhu normal di wilayah Vidarbha (Maharashtra) sekitar 41 hingga 42 derajat celcius pada waktu ini setiap tahunnya. Demikian pula, suhu normal di Uttar Pradesh dan Haryana mencapai 40 hingga 44 derajat celcius menjelang bulan Mei," ucap Mrutyunjay dilansir dari NDTV.

“Oleh karena itu, kami harus bersiap menghadapi hari-hari dengan suhu tinggi seperti itu,” lanjut dia.

Paparan panas berisiko terhadap kesehatan terutama bagi anak-anak, orang tua, ataupun individu dengan kondisi medis terterntu sehingga India mengeluarkan peringatan dini.

Delhi masih berada di bawah peringatan dini hingga 24 April 2026, sedangkan peringatan panas yang parah terus berlanjut di Rajasthan, Madhya Pradesh, Uttar Pradesh, Punjab, Haryana, serta beberapa bagian dari India bagian timur.

Sejauh ini, Pemerintah India belum menginstruksikan untuk mengevakuasi warganya ke tempat penampungan darurat.

IMD sendiri membentuk grup WhatsApp untuk menyebarkan informasi di antara pekerja lapangan seperti pedagang kaki lima dan buruh yang bekerja di ladang, papan pengumuman juga dipasang untuk menginformasikan terjadinya gelombang panas serta antisipasinya.

Para pejabat kesehatan mengimbau warga untuk tetap terhidrasi, membatasi aktivitas di luar ruangan pada siang hari, mengenakan pakaian yang ringan, dan mengenali tanda-tanda kelelahan akibat panas atau sengatan panas. Mereka turut memperingatkan suhu malam hari yang lebih hangat di Delhi, Haryana, Odisha, dan Konkan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau