JAKARTA, KOMPAS.com - Perairan barat Sumatera dinilai sebagai kawasan penting dalam upaya konservasi laut Indonesia. Hal ini terungkap dalam Simposium Data dan Informasi Large Scale Marine Protected Area (LSMPA) atau Kawasan Konservasi Perairan Skala Besar.
Pada pertemuan tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), pemerintah daerah, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil memperkuat dasar ilmiah dan tata kelola pengembangan kawasan konservasi laut skala besar.
Pengelola Ekosistem Laut dan Pesisir Ahli Madya Direktorat Jenderal Pengelolaan Laut KKP, Cora Mustika menyampaikan pengembangan LSMPA harus selaras dengan arah kebijakan nasional.
“LSMPA merupakan kawasan konservasi laut berskala sangat besar seluas 121.691 kilometer persegi yang mencakup laut terbuka, kolom air, hingga ekosistem laut dalam,” kata Cora dalam keterangannya, Jumat (24/4/2026).
Baca juga: Anak Muda Disebut Makin Enggan Melaut karena Perairan yang Tercemar
Dia menambahkan, pendekatan LSMPA penting karena memastikan pengelolaan yang efektif, terintegrasi, dan berbasis data. Karenanya, penguatan aspek kelembagaan dan kebijakan menjadi krusial mengingat skala LSMPA yang luas dan melibatkan banyak sektor.
Integrasi itu juga diperlukan guna memastikan pengelolaan kawasan berjalan konsisten dari tingkat pusat, daerah, masyarakat, lembaga riset, hingga pengawasan terpadu.
“Pengembangan LSMPA di barat Sumatera di atas 12 mil laut yang masuk pada wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) perlu dibarengi dengan penguatan regulasi, integrasi kebijakan perikanan, serta sistem pemantauan dan pendampingan nelayan, agar pengelolaan sumber daya benar-benar terukur dan berkelanjutan,” jelas Cora.
Selain itu, LSMPA juga berfungsi melindungi habitat laut dalam yang kaya keanekaragaman hayati, serta mendukung pemulihan stok ikan melalui efek limpahan ke wilayah sekitar.
Baca juga: Suara Bising dari Aktivitas Laut Kacaukan Paus Berkomunikasi
Secara global, kawasan ini berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut, termasuk siklus karbon dan nutrien.
Sementara itu, Senior Ocean Program Advisor Konservasi Indonesia, Victor Nikijuluw menegaskan bahwa pengembangan LSMPA harus berbasis ilmu dan data yang kuat. Tanpa dasar ilmiah yang kuat, kebijakan berisiko tidak tepat sasaran serta tidak mencerminkan kondisi ekologi.
Victor menyebut, pihaknya telah mengintegrasikan data oseanografi, keanekaragaman hayati, dan perikanan untuk mengidentifikasi habitat kunci, jalur migrasi, ataupun area produktivitas tinggi.
"Analisis ini menunjukkan keterhubungan kuat antarhabitat, sehingga kawasan perlu dikelola sebagai satu sistem untuk melindungi spesies seperti tuna, hiu, paus, marlin, hingga penyu, sekaligus menjaga area pemijahan dan pembesaran, serta habitat prioritas seperti terumbu karang dangkal dan laut dalam,” ucap Victor.
Wilayah barat Sumatera sendiri merupakan bagian penting dari sistem Samudra Hindia timur dengan kondisi lingkungan yang dinamis. Pengaruh angin muson serta fenomena iklim seperti Indian Ocean Dipole (IOD) dan El Nino memengaruhi kesuburan perairan dan ketersediaan sumber daya laut di kawasan ini.
Kondisi tersebut, lanjut Victor, berdampak pada sektor perikanan. Pada waktu tertentu, laut yang lebih subur meningkatkan ketersediaan pakan alami sehingga berpengaruh pada distribusi ikan dan hasil tangkapan nelayan.
“Kondisi tersebut menjadikan perairan barat Sumatra sebagai wilayah penting bagi produksi perikanan, terutama ikan pelagis seperti tuna yellowfin dan bigeye serta ikan kecil lainnya,” tutur dia.
Baca juga: WWF Gandeng 6 Universitas terkait Riset Konservasi Gajah Sumatera
Kepala Bidang Pengelolaan Ruang Laut, Dinas Kelautan dan Perikanan Sumatera Utara, Fitra Kurnia berpandangan pengembangan LSMPA bertujuan memastikan pengelolaan perikanan yang lebih terukur.
“Dengan pengelolaan berbasis kawasan, pemanfaatan sumber daya dapat dikendalikan sehingga stok ikan tetap terjaga dan memberi manfaat jangka panjang untuk penguatan sosial ekonomi masyarakat pesisir secara berkelanjutan,” sebut Fitra.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya