Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Warga Eropa Bayar Listrik 25 Persen Lebih Murah Berkat Pembangkit EBT

Kompas.com, 24 April 2026, 18:39 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Euro news

KOMPAS.com - Masyarakat di Uni Eropa kini bisa membayar listrik 25 persen lebih murah karena meluasnya pembangkit energi baru terbarukan (EBT) seperti PLTS dan PLTB atau angin. Organisasi Positive Money melaporkan harga listrik di 19 negara yang dianalisis turun selama periode 2023–2025.

“Sejumlah kajian yang terus berkembang menunjukkan peran energi terbarukan dalam menggantikan pembangkit berbahan bakar fosil berbiaya tinggi dalam bauran listrik, dan dengan cara itu menekan harga listrik grosir,” kata para peneliti dilansir dari Euro News, Jumat (24/4/2026).

Mereka mencatat, Spanyol telah menggandakan PLTB dan PLTA dengan tambahan lebih dari 40 gigawatt sejak 2019 lalu.

Baca juga: Target PLTS 100 GW Dinilai Bikin RI Lebih Tahan Guncangan Krisis Energi

Kapasitas ini lebih tinggi dibandingkan negara Uni Eropa lain kecuali Jerman yang pasar listriknya dua kali lebih besar dari Spanyol. Alhasil, harga listrik di negara itu jauh lebih murah.

Sementara di Inggris, pembangkit tenaga angin mendorong bauran energi terbarukan ke rekor barunya. Pada 26 Maret lalu, PLTB Inggris mencapai rekor tertinggi sebesar 23.880 megawatt yang cukup untuk memasok listrik bagi 23 juta rumah.

Data juga menunjukkan bahwa dampak terhadap harga menjadi lebih kuat ketika lebih banyak energi terbarukan masuk ke sistem. Namun, pemisahan harga listrik dari harga gas masih berada pada tahap awal di banyak kelistrikan Eropa.

“Temuan kami menegaskan pentingnya pengembangan tenaga angin dan surya, yang bersama dengan sumber fleksibilitas, dapat secara signifikan mengurangi paparan pasar listrik Eropa terhadap guncangan bahan bakar fosil,” beber Positive Money.

Baca juga: Krisis Iklim Lemahkan Keandalan EBT, Terlalu Panas untuk PLTS dan Terlalu Berangin bagi PLTB

“Dengan demikian, proses ini membuat elektrifikasi ekonomi menjadi lebih menarik, sekaligus mengurangi kerentanan Eropa terhadap bahan bakar fosil," lanjut mereka.

Sementara itu, analisis SolarPower Europe mengungkapkan pemanfaatan sinar matahari untuk energi telah menghemat lebih dari 100 juta euro (Rp 2 triliun) per hari sejak 1 Maret, dengan total penghematan lebih dari 3 miliar euro (Rp 60 triliun).

Apabila harga gas tetap tinggi, para ahli memperkirakan total penghematan pada 2026 bisa mencapai hingga 67,5 miliar euro (Rp1.350 triliun).

Positive Money menyebutkan ada dua implikasi kebijakan utama dari temuan tersebut. Di negara dengan kapasitas angin dan surya yang masih terbatas, percepatan pengembangan energi ini merupakan upaya termudah menurunkan harga listrik.

Di negara dengan kapasitas besar, peningkatan sumber fleksibilitas akan memungkinkan pemisahan harga listrik dari faktor biaya tradisional mencakup investasi pada baterai untuk menyimpan energi berlebih.

Kemudian mendorong penggunaan panel surya rumah tangga, serta kebijakan untuk menyeimbangkan pasokan dan permintaan seperti tarif variabel.

“Paparan harga listrik terhadap guncangan bahan bakar fosil mempersulit elektrifikasi ekonomi, yang merupakan pilar utama transisi energi. Namun, percepatan perubahan sistem ini akan memisahkan harga listrik dari guncangan bahan bakar fosil, yang pada akhirnya mendukung elektrifikasi lebih lanjut," sebut peneliti.

Baca juga: Kinerja Karbon Shell 2025, Catat 1,1 Miliar Ton Emisi Gas Rumah Kaca

Positive Money menilai guncangan harga energi berbasis fosil masih menjadi ancaman serius bagi stabilitas kawasan. Ketergantungan yang tinggi terhadap energi fosil dinilai dapat mengganggu keamanan energi, memicu volatilitas harga, hingga menekan daya saing ekonomi.

"Tanpa kemajuan yang cukup cepat, Eropa akan tetap menghadapi berbagai risiko akibat ketergantungan pada bahan bakar fosil," tutur Positive Money.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau