Sebagai contoh, gelombang panas tahun 2025 di Kirgistan menyebabkan suhu naik sekitar 10 derajat C di atas normal. Hal ini mengakibatkan panen gandum turun hingga 25 persen, sekaligus memicu serangan kawanan belalang dan mengurangi pasokan air untuk irigasi.
Di tempat lain, cuaca panas dan kekeringan yang panjang di Brasil pada tahun 2023 dan 2024 memotong hasil panen kedelai hingga 20 persen. Sementara itu, gelombang panas besar di Amerika Utara pada tahun 2021 menyebabkan kerugian besar pada tanaman buah-buahan dan lonjakan tajam kebakaran hutan.
Baca juga: Bapanas Ingatkan Ancaman Krisis Pangan di Balik Kelangkaan BBM
Dampak bagi manusia juga sangat nyata. Di sebagian wilayah Asia Selatan, Afrika bagian bawah gurun Sahara, dan Amerika Latin, jumlah hari yang terlalu panas untuk bekerja bisa meningkat hingga 250 hari per tahun. Hal ini membahayakan jutaan pekerja pertanian dan merusak produksi pangan secara keseluruhan.
Untuk mengatasi hal ini, laporan tersebut mendesak adanya langkah-langkah adaptasi segera, termasuk menggunakan tanaman yang tahan panas, menyesuaikan jadwal tanam, dan memperbaiki cara pengelolaan pertanian.
Sistem peringatan dini dan akses ke bantuan keuangan seperti asuransi dan perlindungan sosial, juga sangat penting untuk membantu petani menghadapi risiko yang semakin meningkat.
"Melindungi masa depan pertanian dan memastikan ketersediaan pangan dunia tidak hanya butuh ketahanan di tingkat lahan, tetapi juga transisi tegas untuk meninggalkan masa depan yang tinggi emisi polusi," simpul laporan PBB tersebut.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya