KOMPAS.com - Suhu lautan di seluruh dunia terus meningkat dan kehidupan liar di laut mulai merasakan dampaknya.
Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa hampir dua pertiga juta atau sekitar 660.000 burung laut tewas akibat gelombang panas laut di lepas pantai Australia pada tahun 2023 dan 2024.
Hal ini memberikan tekanan besar yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap populasi mereka.
Menjelang akhir tahun 2023, bangkai burung-burung laut mulai terdampar di pantai-pantai di Australia.
Melansir Phys, Kamis (23/4/2026) meskipun kematian burung di laut adalah hal yang wajar, kejadian kali ini di luar dugaan. Pasalnya, ribuan burung shearwater terdampar di sepanjang pantai timur Australia, membentang ribuan kilometer dari Queensland hingga Tasmania.
Baca juga: Dampak Polusi Suara pada Burung, Ganggu Reproduksi dan Tingkatkan Stres
Berkat bantuan warga lokal yang ikut membantu mengumpulkan data, tim ilmuwan dari Adrift Lab berhasil mengungkap penyebab kematian massal tersebut.
Mereka menghubungkan kematian massal ini dengan gelombang panas laut yang terjadi tepat di tengah musim kawin, saat di mana burung-burung tersebut berada dalam kondisi yang paling lemah dan rentan.
Ada kemungkinan juga suhu yang meningkat bisa membuat mangsa mereka mati atau pindah tempat sehingga burung laut pun mati kelaparan. Stres akibat panas juga bisa membuat burung kelelahan, ditambah lagi dengan munculnya ganggang beracun.
Hal yang mengejutkan adalah penelitian menunjukkan bahwa burung-burung yang terdampar di pantai hanyalah sebagian kecil dari jumlah keseluruhan yang mati akibat gelombang panas tersebut.
Secara total, para peneliti memperkirakan lebih dari 629.000 burung laut tewas, di mana 96 persen burung yang mati merupakan jenis short-tailed shearwater.
Dr. Alex Bond dari Adrift Lab menyatakan bahwa angka ini berarti lebih dari 5 persen dari seluruh populasi burung tersebut mati hanya dalam beberapa bulan.
Jika gelombang panas terus terjadi, maka masa depan burung-burung ini akan semakin terancam.
"Kejadian seperti ini semakin sering terjadi. Meskipun burung laut punya kemampuan untuk pulih, daya tahan mereka kini mulai habis," kata Bond.
"Dulu, peristiwa seperti ini hanya terjadi sekali dalam satu generasi. Sekarang, kejadiannya semakin cepat dan tidak akan melambat. Masalah ini menambah beban berat yang sudah dihadapi burung laut, mulai dari polusi hingga perburuan, dan mereka tidak sanggup lagi menghadapinya," terangnya.
Temuan penelitian ini telah diterbitkan dalam jurnal Conservation Biology.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya