Karena emisi gas rumah kaca menyebabkan Bumi semakin panas, sebagian besar energi panas tersebut terserap ke dalam lautan. Sejak tahun 1980-an, kenaikan suhu laut melonjak dari 0,06 derajat C menjadi 0,27 derajat C per dekade saat ini.
Hal ini membuat gelombang panas laut semakin sering terjadi, di mana jumlah hari dengan panas yang tidak normal meningkat lebih dari separuh dalam satu abad terakhir. Gelombang panas ini juga semakin kuat, terbukti dengan 8 dari 10 gelombang panas laut paling ekstrem terjadi sejak tahun 2010.
Akibatnya, ekosistem lautan berubah dengan sangat cepat. Ikan-ikan berpindah lokasi untuk mencari air yang lebih dingin, sementara rumput laut tumbuh secara berlebihan. Terumbu karang mengalami pemutihan massal dan terancam hilang sepenuhnya pada tahun 2100.
Sebagai bagian penting dari rantai makanan di laut, burung laut juga terkena dampaknya. Padahal mereka juga masih harus berhadapan dengan masalah lain seperti berkurangnya sumber makanan, melawan polusi plastik serta penyakit.
Baca juga: Studi: Mendengar Kicau Burung Bisa Turunkan Stres dan Tingkatkan Kesejahteraan Mental
Dengan gelombang panas yang terjadi terus-menerus dalam waktu singkat, burung-burung ini menghadapi ancaman kepunahan yang nyata. Namun, karena pemantauan populasi mereka saat ini masih sangat terbatas, kemungkinan besar kita baru akan menyadarinya saat semuanya sudah terlambat.
Bond berharap penelitian ini menjadi pengingat bagi semua pihak untuk memberikan lebih banyak dana dan tindakan nyata bagi pelestarian alam serta penanganan perubahan iklim.
"Selama bertahun-tahun, orang-orang cenderung beralasan bahwa kematian burung-burung ini disebabkan oleh badai atau kelelahan setelah migrasi," kata Bond.
"Kami sudah lama tahu bahwa alasan itu tidak masuk akal karena burung laut justru hidup dengan baik di tengah badai dan sekarang kami punya datanya untuk membuktikan hal itu," terang Bond lagi.
"Kita punya ilmu pengetahuan dan sumber daya untuk memberi burung laut ini kesempatan bertahan hidup, tetapi kita harus bertindak sekarang. Masalah ini tidak akan hilang begitu saja, dan tanpa langkah nyata untuk mengatasi krisis iklim, keanekaragaman hayati, dan polusi, kondisinya hanya akan semakin buruk," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya