KOMPAS.com - Suhu panas seakan menjadi normal baru di berbagai wilayah dunia. Salah satu dampaknya adalah permintaan akan pendingin ruangan semakin meningkat.
Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan kebutuhan negara-negara berkembang dan negara dengan ekonomi yang sedang tumbuh akan tumbuh lebih dari 80 persen pada 2050.
Ini artinya ada ketergantungan yang besar pada pendingin ruangan.
Namun, melansir Euro News, Jumat (29/5/2026) puncak penggunaan pendingin ruangan menyebabkan konsumsi energi yang lebih tinggi, emisi gas rumah kaca, dan udara yang lebih hangat, terutama di kota-kota, karena efek pulau panas perkotaan.
Para ahli mendesak penggunaan cara pendinginan alternatif, termasuk memilih unit pendingin udara dengan emisi lebih rendah dan desain rumah yang lebih strategis.
IEA menyebut 130 juta unit pendingin ruangan di Uni Eropa pada 2023 dan memperkirakan bahwa jumlahnya bisa meningkat empat kali lipat pada 2050.
Sementara itu di seluruh Asia Tenggara, jumlah pendingin udara diperkirakan akan meningkat sembilan kali lipat antara tahun 2020 dan 2040 berdasarkan pengaturan kebijakan saat ini, menurut laporan IEA tahun 2025.
Baca juga: AC Dinginkan Rumah Tapi Lemahkan Komitmen Masyarakat dalam Aksi Iklim
Khususnya di Indonesia, persentase penduduk yang memiliki unit pendingin udara diperkirakan akan meningkat dari 14 persen pada tahun 2023 menjadi 85 persen pada tahun 2050, sebagian besar didorong oleh peningkatan standar hidup.
Meskipun peningkatan akses ke sistem pendingin berarti meningkatkan kualitas hidup jutaan orang dan mencegah kematian akibat panas, hal ini juga membawa serangkaian tantangan bagi sistem energi.
“Puncak penggunaan listrik yang didorong oleh pendingin ini dapat membahayakan keterjangkauan dan keandalan listrik, terutama jika teknologi yang efisien tidak tersedia untuk meredam dampaknya pada sistem energi,” kata IEA dalam laporannya.
Selain itu, AC saat ini bertanggung jawab atas emisi sekitar satu miliar ton CO2 per tahun, dari total 37 miliar ton yang dikeluarkan di seluruh dunia.
Refrigeran hidrofluorokarbon (HFC) dan hidroklorofluorokarbon (HCFC) yang digunakan dalam pendingin udara juga memerangkap panas di atmosfer ribuan kali lebih banyak daripada CO2, sehingga mendorong pemanasan global.
"Pendingin udara dapat memberikan tekanan yang sangat besar pada jaringan listrik dan mempercepat emisi gas rumah kaca, memperburuk krisis iklim," ungkap Clara Camarasa, seorang ahli di IEA.
"Pertumbuhan pesat dalam kebutuhan pendingin udara dapat menyebabkan penggunaan peralatan yang tidak efisien dan boros energi," tambahnya.
Pendingin udara juga sering membutuhkan volume air yang besar, dan beberapa di antaranya, dengan refrigeran tertentu, memiliki potensi pemanasan yang sangat tinggi, yang juga berbahaya bagi lapisan ozon.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya