Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali

Kompas.com, 5 Juni 2026, 18:52 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Hutan mangrove yang dianggap sebagai salah satu ekosistem pesisir pantai yang paling terancam punah di dunia, kini menunjukkan tanda-tanda pemulihan di seluruh dunia.

Menurut penelitian terbaru dari Universitas Tulane, di Amerika Serikat kerusakan hutan mangrove selama puluhan tahun lalu kini berhasil tertutupi oleh pertumbuhan dan perluasan hutan mangrove yang baru.

Melansir Phys, Kamis (4/6/2026) studi yang menggunakan data satelit selama 40 tahun dan diterbitkan dalam jurnal ilmiah Science ini menemukan bahwa jumlah hutan mangrove di seluruh dunia tidak lagi berkurang, melainkan sudah mulai tumbuh secara keseluruhan.

Setelah puluhan tahun hancur akibat penebangan liar dan pembangunan di kawasan pantai, hutan mangrove sekarang justru meluas di banyak wilayah, sebagian besar melalui pemulihan alami dan tumbuh di area pesisir pantai yang baru terbentuk.

Temuan ini memberikan harapan baru yang lebih baik bagi masa depan ekosistem mangrove, yang memiliki peran sangat penting dalam melindungi garis pantai, menjadi tempat hidup ikan, dan menyimpan karbon yang memicu pemanasan global.

“Setelah puluhan tahun terus berkurang, kita akhirnya melihat titik balik bagi hutan mangrove di seluruh dunia,” kata Zhen Zhang, peneliti utama studi ini dari Universitas Tulane.

“Hal ini menunjukkan betapa kuatnya daya tahan hutan mangrove dan potensinya yang besar sebagai solusi alami untuk meredam perubahan iklim serta melindungi kawasan pantai,” katanya lagi.

Baca juga: Saat Mangrove Menjadi Penopang Ekonomi dan Harapan Baru Warga Pesisir

Gabungan konservasi dan proses alami

Hutan mangrove sempat terus berkurang sepanjang akhir abad ke-20, dengan kehilangan hampir 2.900 kilometer persegi lahan antara tahun 1980-an hingga 2010.

Namun, selama 16 tahun terakhir, jumlah hutan mangrove yang tumbuh baru justru jauh lebih banyak daripada yang rusak. Pada tahun 2023, luas hutan mangrove telah pulih kembali, sehingga total kehilangan bersih selama 40 tahun terakhir hanya tersisa sekitar 1 persen saja.

“Apa yang kita lihat sekarang adalah perubahan yang nyata. Jumlah hutan mangrove sekarang menunjukkan peningkatan bersih secara global, dan tingkat kerusakannya semakin melambat,” kata Daniel Friess, Profesor Ilmu Bumi dan Lingkungan di Universitas Tulane sekaligus Direktur The Mangrove Lab.

“Meskipun masih ada sebagian hutan mangrove yang hilang, hal ini bisa membuat mangrove menjadi kisah sukses yang langka dalam penyelamatan lingkungan, serta menjadi sumber optimisme yang penting untuk aksi peduli iklim,” kata Friess.

Pemulihan ini didorong oleh gabungan antara upaya penyelamatan manusia dan proses alami. Di banyak wilayah, pohon mangrove tumbuh kembali di bekas tambak udang atau ikan yang sudah ditinggalkan, serta meluas ke area lumpur pantai yang baru terbentuk, terutama di muara sungai di mana endapan tanah menciptakan kondisi terbaik untuk tumbuh.

Tumbuh makin lebat dan sehat

Selain bertambah luas, penelitian ini menunjukkan kabar baik lainnya. Banyak hutan mangrove yang sudah ada sekarang tumbuh lebih lebat dan lebih sehat.

Hutan mangrove dengan kanopi tertutup yang mampu menyimpan lebih banyak karbon dan memberikan perlindungan pantai yang lebih kuat, telah meluas di seluruh dunia selama 40 tahun terakhir.

Tingkat kerusakan hutan bakau telah menurun drastis sejak tahun 1980-an, menunjukkan keberhasilan dari kebijakan penyelamatan lingkungan dan program penanaman kembali di berbagai negara.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Banjir dan Air Limbah Tingkatkan Risiko Paparan Bakteri yang Resisten Antibiotik
Banjir dan Air Limbah Tingkatkan Risiko Paparan Bakteri yang Resisten Antibiotik
LSM/Figur
Tingkatkan Efisiensi Produksi, Industri Makanan Mulai Adopsi AI
Tingkatkan Efisiensi Produksi, Industri Makanan Mulai Adopsi AI
Swasta
Konsumsi Daging Global Naik 4 Kali Lipat, Apa Dampaknya Bagi Lingkungan?
Konsumsi Daging Global Naik 4 Kali Lipat, Apa Dampaknya Bagi Lingkungan?
LSM/Figur
IPB University Promosikan Potensi Agromaritim Indonesia di Korea Selatan
IPB University Promosikan Potensi Agromaritim Indonesia di Korea Selatan
Pemerintah
Menaikkan Pajak UMKM saat Terjadi Ketidakpastian Global Dinilai Kurang Tepat
Menaikkan Pajak UMKM saat Terjadi Ketidakpastian Global Dinilai Kurang Tepat
LSM/Figur
Studi Ungkap Hambatan Sulitnya Pensiunkan PLTU Batu Bara di Indonesia
Studi Ungkap Hambatan Sulitnya Pensiunkan PLTU Batu Bara di Indonesia
Pemerintah
Pakar IPB University Dorong Hilirisasi Industri Lobster Nasional
Pakar IPB University Dorong Hilirisasi Industri Lobster Nasional
Pemerintah
Kemenhut : Gap Pendanaan Konservasi Keanekaragaman Hayati Capai 74 Persen
Kemenhut : Gap Pendanaan Konservasi Keanekaragaman Hayati Capai 74 Persen
Pemerintah
Fitoplankton Bisa 'Kunci' Karbon di Lautan hingga Ribuan Tahun
Fitoplankton Bisa "Kunci" Karbon di Lautan hingga Ribuan Tahun
LSM/Figur
Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum
Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum
Swasta
KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya
KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya
Pemerintah
Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali
Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali
Pemerintah
Program 'SNI Goes to Campus' Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional
Program "SNI Goes to Campus" Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional
Swasta
Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Pemerintah
Konsumsi Listrik AI Diprediksi Capai 945 TWh pada 2030
Konsumsi Listrik AI Diprediksi Capai 945 TWh pada 2030
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau