Para ahli lingkungan sepakat bahwa cara terbaik untuk mengurangi dampak buruk dari acara olahraga raksasa adalah dengan membatasi ukurannya.
Hal ini sudah dilakukan oleh Komite Olimpiade Internasional yang membatasi jumlah peserta maksimal 10.500 atlet saja untuk Olimpiade Musim Panas.
Namun FIFA justru melakukan hal yang sebaliknya dengan memperbanyak peserta turnamen utamanya dari 32 menjadi 48 tim.
Dampak buruk bagi iklim dari satu saja pertandingan internasional adalah 26 hingga 42 kali lipat lebih besar daripada pertandingan tingkat tertinggi di dalam negeri sendiri, menurut laporan tahun 2025 dari lembaga pemikir New Weather Institute.
"Satu pertandingan saja di babak final Piala Dunia pria menghasilkan 44.000 hingga 72,000 ton karbon," kata para penulis laporan tersebut dari lembaga Scientists for Global Responsibility di Inggris.
Mereka menghitung bahwa angka itu setara dengan polusi yang dihasilkan oleh 31.500 hingga 51.500 mobil di Inggris selama satu tahun penuh.
Baca juga: Krisis Iklim Bisa Pangkas Pendapatan Industri Olahraga
"Nafsu FIFA yang tidak pernah kenyang untuk terus memperbesar turnamen menyebabkan jumlah pertandingan semakin banyak, dan mau tidak mau membuat makin banyak atlet, makin banyak suporter, makin banyak hotel yang harus dibangun, makin banyak penerbangan pesawat, ini seperti lingkaran setan yang tidak ada habisnya,"kata Gogishvili,
Piala Dunia 2030 bahkan akan disebar di enam negara dan tiga benua sekaligus. Turnamen tersebut bakal dimulai dengan tiga pertandingan pertama di Argentina, Uruguay, dan Paraguay, sebelum akhirnya pindah ke negara tuan rumah utama yaitu Maroko, Spanyol, dan Portugal untuk menyelesaikan 101 pertandingan sisanya.
Sementara Piala Dunia 2034 akan diadakan di Arab Saudi, negara dengan cuaca panas yang mirip seperti Qatar, tetapi dengan jumlah pertandingan yang lebih banyak 40 laga dan ukuran negara yang jauh lebih luas. Perusahaan minyak terbesar di dunia asal Arab Saudi, Aramco, juga telah resmi menjadi sponsor utama FIFA sejak tahun 2024 lalu.
"Tampaknya, sikap FIFA yang pura-pura tidak tahu dan tidak peduli terhadap kerusakan lingkungan akan terus berlanjut," tulis Gilles Pache, seorang profesor di Universitas Aix-Marseille, dalam jurnal ilmiah Journal of Management Research pada tahun 2024.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya