KOMPAS.com - Studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Science menunjukkan bahwa
15 persen dari pemanasan global yang disebabkan oleh aktivitas manusia berasal dari polutan yang belum masuk dalam sebagian besar aturan hukum iklim yang ada sekarang.
Sebagian besar dari zat polusi yang terabaikan ini disebut sebagai "gas rumah kaca tidak langsung", yang meliputi karbon monoksida, senyawa organik mudah menguap non-metana, nitrogen oksida, dan hidrogen molekuler.
Melansir Phys, Kamis (11/6/2026) berbeda dengan gas rumah kaca biasa seperti karbon dioksida, dampak pemanasan dari gas rumah kaca tidak langsung ini tidak berasal dari kemampuannya dalam memerangkap panas secara langsung.
Sebaliknya, gas-gas ini memicu reaksi kimia di atmosfer yang dapat meningkatkan jumlah metana, ozon, dan gas rumah kaca lainnya, yang pada akhirnya menghasilkan pemanasan pada bumi.
Baca juga: Studi Jelaskan Mikroplastik Bisa Perparah Pemanasan Global
Para ilmuwan telah mempelajari dampak-dampak ini selama puluhan tahun, tetapi gas-gas tersebut tidak pernah dimasukkan ke dalam aturan hukum iklim yang penting, seperti Perjanjian Iklim Paris atau konvensi dasar PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC).
Ini berarti sebagian besar negara tidak menghitung dampak dari gas-gas ini dalam target dan kebijakan iklim mereka, serta tidak membuat strategi untuk mengurangi dampak pemanasannya, meskipun dampaknya sangat besar.
Diabaikannya gas rumah kaca tidak langsung ini berakar dari Protokol Kyoto yang dirancang hampir 30 tahun lalu. Aturan lama itulah yang menetapkan kelompok "gas rumah kaca wajib" yang masih terus dipakai dalam kebijakan iklim hingga hari ini.
Pada masa itu, dampak buruk dari gas rumah kaca tidak langsung belum terlalu dipahami secara jelas, tetapi pemahaman sains telah berkembang sangat pesat sejak saat itu.
"Di antara semua polusi akibat ulah manusia yang membuat iklim memanas, gabungan gas rumah kaca tidak langsung ini menempati posisi sebagai penyumbang terbesar ketiga bagi pemanasan global yang kita rasakan saat ini, tepat di bawah karbon dioksida dan metana, bahkan posisinya berada di atas dinitrogen oksida, hidrofluorokarbon, dan karbon hitam," ungkap penulis utama laporan ini, Ilissa Ocko, ilmuwan iklim senior di Spark Climate Solutions.
"Ini adalah penyumbang pemanasan yang sangat besar yang sudah terlalu lama diabaikan dari ruang diskusi kebijakan iklim," katanya lagi.
Baca juga: Pemanasan Global Percepat Pencairan Es di Papua, Gletser Tropis Terakhir Asia akan Punah
"Mengukur dan menurunkan jumlah gas rumah kaca tidak langsung sangatlah penting jika kita ingin mengatasi perubahan iklim sepenuhnya, termasuk demi memperkecil risiko kenaikan suhu bumi yang berlebihan di atas batas aman 1,5 derajat Celsius pada pertengahan abad ini," papar mantan Wakil Utusan Khusus AS untuk Urusan Iklim, Rick Duke.
Steven Hamburg, kepala ilmuwan di Environmental Defense Fund menambahkan jika ingin memperlambat kecepatan pemanasan bumi secara efektif dan efisien, maka semua sumber penyebab panas harus diperhitungkan, bukan hanya kelompok gas rumah kaca yang biasa kita bahas selama ini.
Dampak iklim dari gas rumah kaca tidak langsung ini sudah sangat memengaruhi kondisi bumi saat ini. Bahkan bagi sebagian zat, seperti hidrogen, dampaknya bisa melonjak jauh lebih besar di masa depan.
Hidrogen adalah alat yang sangat hebat dalam upaya kita menghapus polusi karbon. Namun, karena ukurannya yang sangat kecil dan mudah lolos, gas hidrogen bisa dengan mudah bocor dari pipa atau fasilitas penampung, sehingga manfaat baiknya bisa hilang begitu saja jika kita mengabaikan dampak tidak langsungnya terhadap pemanasan bumi."
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya