JAKARTA, KOMPAS.com - Mahasiswa LSPR Institute of Communication and Business meluncurkan program Pengembangan Masyarakat Sampah Rumah Tangga Berdaya atau SRAYA, Sabtu (6/6/2026) sekaligus memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026.
Dalam kesempatan itu, mahasiswa mengajak masyarakat RW 002, Desa Tajurhalang, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, mengatasi masalah volume sampah rumah tangga bersama perangkat desa, kader Kampung Ramah Lingkungan (KRL) River Valley, serta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor.
Para peserta mendapatkan edukasi terkait pemilahan sampah langsung dari dapur rumah, sekaligus bagaimana mengolah limbah organik menjadi pupuk kompos yang bernilai ekonomis.
Tidak hanya sekadar teori, melalui program SRAYA juga dibangun prasarana berupa infrastruktur titik kumpul sampah organik komunal.
Baca juga: Dana CSR Tak Bisa Jadi Andalan Pengelolaan Sampah Daerah
Fasilitas ini didirikan untuk menjamin aktivitas pemilahan dan penyaluran sampah organik warga dapat berjalan secara rutin, terorganisir, dan mandiri dalam jangka panjang.
"Sekarang warga sudah lebih mengerti bedanya sampah organik dan anorganik, bahkan tau cara mengelolanya lebih baik lagi," kata perwakilan DLH Kabupaten Bogor, Joise Ursua dalam keterangannya, Sabtu (13/6/2026).
Program SRAYA diharapkan dapat menanamkan kesadaran kolektif bahwa pengelolaan sampah yang tepat dapat membawa berkah ekonomi dan menjaga ekosistem. Gerakan ini dinilai menjadi bukti nyata kontribusi akademisi dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) Poin 13 terkait Penanganan Perubahan Iklim atau Climate Action.
Baca juga: Ketika Aksi Pilah Sampah Diajarkan Sejak Dini Lewat Karakter Animasi
Ketua Kampung Ramah Lingkungan, Diah Wulandari mengapresiasi antusiasme peserta dan inisiatif penyelenggara pemilahan serta pengelolaan limbah.
"Acara luar biasa ini dapat meng-influence pemuda-pemudi menjadi lebih peduli dengan lingkungan, sehingga dampaknya dapat diwariskan ke anak cucu kita nanti. Satu kata untuk menggambarkan hari ini luar biasa betul-betul berbagi amal nih," tutur Diah.
Sebelum terjun ke lapangan, konsep kampanye kreatif SRAYA diuji dengan skema International Exam di hadapan Hans De Nie dari Breda University of Applied Sciences, Belanda, bersaing dengan 17 kelompok lainnya.
Pada malam apresiasi, SRAYA menorehkan prestasi gemilang sebagai satu-satunya tim yang memboyong predikat ganda, yaitu 1st Runner Up of The Best Presentation dan 1st Runner Up of The Best Paper.
Kerja sama antara akademisi dengan masyarakat, dan pemangku kepentingan lokal ini diharapkan mampu menjadikan Desa Tajurhalang sebagai pelopor desa pelestari lingkungan mandiri dalam pengelolaan sampah. Langkah tersebut ditargetkan menjadi contoh bagi dusun lainnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya