Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dana CSR Tak Bisa Jadi Andalan Pengelolaan Sampah Daerah

Kompas.com, 13 Juni 2026, 08:23 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.comDana tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) atau CSR (Corporate Social Responsibility) perusahaan dinilai tidak dapat menjadi sumber pendanaan utama untuk pengelolaan sampah daerah secara berkelanjutan.

Pemerintah menilai dana tersebut lebih tepat digunakan untuk mendukung inovasi atau kebutuhan investasi awal dibandingkan membiayai operasional jangka panjang.

Perwakilan Direktorat Penanganan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Andina Tasan, mengatakan program TJSL yang tidak dirancang berkelanjutan kerap hanya berorientasi pada pemenuhan kewajiban perusahaan atau pencapaian target Environmental, Social, and Governance (ESG).

"Perusahaan hanya menyediakan dana wajib, tapi tidak untuk membantu pengelolaan sampah di daerah masing-masing," ujar Andina dalam acara Kemitraan Antar Pihak untuk Penanganan Sampah Organik dan Emisi Metana di Indonesia, Jakarta, Kamis (11/6/2026).

Baca juga: ITS Ciptakan Kapal Tanpa Awak untuk Bersihkan Sampah Laut

Menurut Andina, hasil pengawasan Kementerian Lingkungan Hidup terhadap sektor hotel, restoran, dan kafe (horeka) sepanjang 2025 menunjukkan sebagian pelaku usaha masih menyerahkan pengelolaan sampah kepada pihak ketiga yang kemudian membuangnya langsung ke tempat pemrosesan akhir (TPA).

Padahal, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 mewajibkan setiap kawasan mengelola sampah yang dihasilkannya.

"Kalau dari kami sekarang sedang mengintervensi industri untuk urusan pengelolaan sampahnya sendiri. Kami rasa itu justru mungkin akan membantu secara signifikan karena TJSL tidak terus menerus," kata Andina.

Senada, Pendiri Yaksa Pelestari Bumi Berkelanjutan (YPBB), David Sutasurya, menilai dana TJSL lebih tepat digunakan untuk mendukung investasi awal, seperti pengadaan peralatan atau pengembangan teknologi pengelolaan sampah.

Menurut dia, kebutuhan terbesar dalam sistem pengelolaan sampah justru berada pada biaya operasional yang berlangsung terus-menerus dan tidak dapat ditopang oleh dana TJSL.

"Misalnya peran TJSL untuk pendanaan pengadaan peralatan-peralatan dalam kondisi darurat. Tapi sudah pasti mereka tidak bisa yang terus menerus," ujar David.

Dana publik

Ia menjelaskan, dalam berbagai perencanaan pengelolaan sampah jangka panjang, biaya operasional dapat mencapai 60 hingga 70 persen dari total kebutuhan pendanaan. Karena itu, pembiayaan layanan persampahan idealnya berasal dari sumber dana publik.

"Nah dari mana kita bisa memastikan adanya biaya operasional? Kalau kita lihat harus dari dana publik, karena pengelolaan sampah ini menjadi urusan layanan dasar. TJSL lebih sebagai pendukung inovasi atau pengembangan teknologi baru," kata dia.

Pandangan serupa disampaikan Senior Analyst Climate Policy Initiative (CPI), Ira Purnomo. Menurutnya, kontribusi dana TJSL dalam sektor persampahan akan selalu terbatas karena umumnya hanya dapat digunakan untuk kebutuhan modal dan tidak mencakup biaya operasional.

"Jadi skalanya pasti hanya terbatas karena dananya terbatas dan hanya bisa mencakup modal, tidak bisa mencakup operasional," ujar Ira.

Ia menambahkan, biaya pengelolaan sampah sebenarnya jauh lebih besar daripada sekadar pembangunan dan pengoperasian TPA. Terdapat berbagai biaya tidak langsung yang harus ditanggung pemerintah akibat dampak lingkungan dan kesehatan dari pengelolaan sampah yang buruk.

Baca juga: Sampah Elektronik Bisa Hasilkan Logam Mulia dan Kurangi Aktivitas Tambang

Beberapa di antaranya meliputi risiko ledakan gas metana, kebakaran dan longsor di TPA, pencemaran air tanah akibat lindi, hingga meningkatnya biaya kesehatan masyarakat akibat polusi udara dan air.

"Ini seperti iceberg effect. Beban finansialnya meningkat dan semuanya pada akhirnya menjadi beban negara maupun pemerintah daerah," kata Ira.

Karena itu, para pemangku kepentingan menilai penguatan sistem pendanaan publik dan kewajiban pengelolaan sampah di sumber menjadi langkah yang lebih penting untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan dibandingkan mengandalkan program TJSL perusahaan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Program PHINLA Ubah 283 Ton Sampah Jadi Sumber Pendapatan Warga Jakarta
Program PHINLA Ubah 283 Ton Sampah Jadi Sumber Pendapatan Warga Jakarta
LSM/Figur
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
Pemerintah
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
Pemerintah
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Pemerintah
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
LSM/Figur
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Pemerintah
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
LSM/Figur
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau