Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi: CEO yang Kompeten Lebih Konsisten Komunikasikan Risiko Iklim Perusahaan

Kompas.com, 12 Juni 2026, 19:07 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Keterbukaan informasi tentang iklim membantu para investor dan masyarakat luas memahami bagaimana perusahaan menyikapi risiko-risiko seperti cuaca ekstrem, aturan pembatasan karbon, dan peralihan ke energi yang lebih bersih.

Menurut Javad Rajabalizadeh, peneliti pascadoktoral dari Universitas Turku, Finlandia, para pemimpin perusahaan memiliki pengaruh yang besar atas apa yang disampaikan dan bagaimana cara mereka menyampaikannya.

Melansir Phys, Kamis (11/6/2026) studi terbarunya yang diterbitkan dalam jurnal Business Strategy and the Environment menemukan bahwa perusahaan yang dipimpin oleh CEO dengan kemampuan manajemen yang lebih kuat ternyata menggunakan bahasa yang lebih konsisten dari tahun ke tahun saat menjelaskan risiko iklim.

Studi ini memeriksa 2.232 perusahaan asal Amerika Serikat dan 12.533 data laporan tahunan antara tahun 2005 hingga 2023.

Baca juga: Banyak CEO Tak Anggap Keamanan Siber sebagai Investasi

Penelitian ini membandingkan kalimat-kalimat terkait iklim dalam laporan tahunan yang terbit berturut-turut, lalu menilai kemampuan manajemen CEO menggunakan standar ukur yang sudah diakui yaitu seberapa efisien para manajer mengubah modal perusahaan menjadi keuntungan setelah memperhitungkan ciri khas perusahaan tersebut.

Melalui enam metode pengukuran yang berbeda, kemampuan manajemen CEO yang lebih tinggi terbukti berkaitan erat dengan penyampaian laporan iklim yang lebih konsisten.

"Bahasa laporan iklim yang ditulis berulang-ulang sering kali dianggap hanya sebagai teks formalitas yang membosankan. Namun, temuan kami menunjukkan bahwa kenyataannya tidak sesederhana itu. Di bawah kepemimpinan CEO yang hebat, pengulangan tersebut justru bisa menjadi tanda adanya kesinambungan, kejelasan, serta pendekatan jangka panjang yang matang dalam menyampaikan risiko iklim," kata Rajabalizadeh.

Pelaporan iklim menjadi lebih penting

Temuan penelitian ini pun dapat membantu para pembuat aturan, dewan direksi, dan investor untuk membaca dan mengartikan bahasa laporan iklim yang ditulis berulang secara lebih hati-hati.

Baca juga: Mei 2026, Perusahaan Teknologi PHK Karyawannya Imbas Perkembangan AI

"Pengulangan teks saja tidak bisa menunjukkan apakah sebuah laporan itu bermanfaat atau kurang lengkap. Hal itu harus dinilai bersamaan dengan kondisi nyata perusahaan, perubahan risiko yang dihadapi, serta kualitas informasi yang disajikan," catat Rajabalizadeh.

Karena laporan iklim menjadi semakin penting bagi para investor dan pembuat aturan, studi ini menyarankan agar teks laporan yang ditulis berulang-ulang harus dinilai bersamaan dengan strategi perusahaan serta kondisi risiko di sekitar mereka.

"Meskipun studi kami memeriksa perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat, inti dari temuan ini mungkin juga penting bagi negara-negara lainnya. Ketika laporan iklim membutuhkan penilaian dari manajemen, kemampuan para pemimpin perusahaan dapat memengaruhi seberapa konsisten risiko iklim tersebut disampaikan dari waktu ke waktu," kata Rajabalizadeh.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Studi: 15 Persen Pemanasan Global Berasal dari Polutan yang Sering Diabaikan
Studi: 15 Persen Pemanasan Global Berasal dari Polutan yang Sering Diabaikan
Pemerintah
Ekonom: Kenaikan Harga Pertamax Green Pertanda Gagalnya Program Bioetanol
Ekonom: Kenaikan Harga Pertamax Green Pertanda Gagalnya Program Bioetanol
LSM/Figur
Studi: CEO yang Kompeten Lebih Konsisten Komunikasikan Risiko Iklim Perusahaan
Studi: CEO yang Kompeten Lebih Konsisten Komunikasikan Risiko Iklim Perusahaan
LSM/Figur
WRI: Mayoritas Negara G20 Gagal Penuhi Target Atasi Perubahan Iklim
WRI: Mayoritas Negara G20 Gagal Penuhi Target Atasi Perubahan Iklim
Pemerintah
Lindungi Flora dan Fauna Endemik Halmahera, IWIP Resmikan 'Sanctuary Park'
Lindungi Flora dan Fauna Endemik Halmahera, IWIP Resmikan "Sanctuary Park"
Swasta
Walhi: Wacana Kenaikan Tarif Transjabodetabek Ancam Upaya Pengendalian Polusi Udara
Walhi: Wacana Kenaikan Tarif Transjabodetabek Ancam Upaya Pengendalian Polusi Udara
LSM/Figur
Meski Ditutup, TPA Bantargebang Tetap Lepaskan Metana Puluhan Tahun ke Depan
Meski Ditutup, TPA Bantargebang Tetap Lepaskan Metana Puluhan Tahun ke Depan
Pemerintah
KLH Berikan Penghargaan Kalpataru ke 16 Pegiat Lingkungan, Ini Daftarnya
KLH Berikan Penghargaan Kalpataru ke 16 Pegiat Lingkungan, Ini Daftarnya
Pemerintah
IESR Desak Pemerintah Investigasi Penyebab Pemadaman Listrik Bergilir di Jawa
IESR Desak Pemerintah Investigasi Penyebab Pemadaman Listrik Bergilir di Jawa
LSM/Figur
BMKG Minta Masyarakat Bersiap Hadapi Peluang Terjadinya El Nino
BMKG Minta Masyarakat Bersiap Hadapi Peluang Terjadinya El Nino
Pemerintah
Grab Indonesia Bakal Tambah Armada EV Tiga Kali Lipat Demi Pangkas Karbon
Grab Indonesia Bakal Tambah Armada EV Tiga Kali Lipat Demi Pangkas Karbon
Pemerintah
Perang Nuklir Skala Kecil di Wilayah Tropis Berpotensi Rusak Total Lapisan Ozon Bumi
Perang Nuklir Skala Kecil di Wilayah Tropis Berpotensi Rusak Total Lapisan Ozon Bumi
Pemerintah
Google Gandeng American Airlines Borong 132 Juta Liter Avtur Berkelanjutan
Google Gandeng American Airlines Borong 132 Juta Liter Avtur Berkelanjutan
Swasta
Aset Miliarder Dunia Sumbang Kerusakan Iklim Paling Parah
Aset Miliarder Dunia Sumbang Kerusakan Iklim Paling Parah
Pemerintah
IPB University Kucurkan Hibah untuk Akselerasi Startup dan Hilirisasi Riset
IPB University Kucurkan Hibah untuk Akselerasi Startup dan Hilirisasi Riset
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau