KOMPAS.com - Keterbukaan informasi tentang iklim membantu para investor dan masyarakat luas memahami bagaimana perusahaan menyikapi risiko-risiko seperti cuaca ekstrem, aturan pembatasan karbon, dan peralihan ke energi yang lebih bersih.
Menurut Javad Rajabalizadeh, peneliti pascadoktoral dari Universitas Turku, Finlandia, para pemimpin perusahaan memiliki pengaruh yang besar atas apa yang disampaikan dan bagaimana cara mereka menyampaikannya.
Melansir Phys, Kamis (11/6/2026) studi terbarunya yang diterbitkan dalam jurnal Business Strategy and the Environment menemukan bahwa perusahaan yang dipimpin oleh CEO dengan kemampuan manajemen yang lebih kuat ternyata menggunakan bahasa yang lebih konsisten dari tahun ke tahun saat menjelaskan risiko iklim.
Studi ini memeriksa 2.232 perusahaan asal Amerika Serikat dan 12.533 data laporan tahunan antara tahun 2005 hingga 2023.
Baca juga: Banyak CEO Tak Anggap Keamanan Siber sebagai Investasi
Penelitian ini membandingkan kalimat-kalimat terkait iklim dalam laporan tahunan yang terbit berturut-turut, lalu menilai kemampuan manajemen CEO menggunakan standar ukur yang sudah diakui yaitu seberapa efisien para manajer mengubah modal perusahaan menjadi keuntungan setelah memperhitungkan ciri khas perusahaan tersebut.
Melalui enam metode pengukuran yang berbeda, kemampuan manajemen CEO yang lebih tinggi terbukti berkaitan erat dengan penyampaian laporan iklim yang lebih konsisten.
"Bahasa laporan iklim yang ditulis berulang-ulang sering kali dianggap hanya sebagai teks formalitas yang membosankan. Namun, temuan kami menunjukkan bahwa kenyataannya tidak sesederhana itu. Di bawah kepemimpinan CEO yang hebat, pengulangan tersebut justru bisa menjadi tanda adanya kesinambungan, kejelasan, serta pendekatan jangka panjang yang matang dalam menyampaikan risiko iklim," kata Rajabalizadeh.
Temuan penelitian ini pun dapat membantu para pembuat aturan, dewan direksi, dan investor untuk membaca dan mengartikan bahasa laporan iklim yang ditulis berulang secara lebih hati-hati.
Baca juga: Mei 2026, Perusahaan Teknologi PHK Karyawannya Imbas Perkembangan AI
"Pengulangan teks saja tidak bisa menunjukkan apakah sebuah laporan itu bermanfaat atau kurang lengkap. Hal itu harus dinilai bersamaan dengan kondisi nyata perusahaan, perubahan risiko yang dihadapi, serta kualitas informasi yang disajikan," catat Rajabalizadeh.
Karena laporan iklim menjadi semakin penting bagi para investor dan pembuat aturan, studi ini menyarankan agar teks laporan yang ditulis berulang-ulang harus dinilai bersamaan dengan strategi perusahaan serta kondisi risiko di sekitar mereka.
"Meskipun studi kami memeriksa perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat, inti dari temuan ini mungkin juga penting bagi negara-negara lainnya. Ketika laporan iklim membutuhkan penilaian dari manajemen, kemampuan para pemimpin perusahaan dapat memengaruhi seberapa konsisten risiko iklim tersebut disampaikan dari waktu ke waktu," kata Rajabalizadeh.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya