JAKARTA, KOMPAS.com - Emisi metana dalam jumlah besar akan tetap terlepas dari Tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) Bantargebang, meski sudah secara bertahap mengurangi menerima sampah organik.
Bahkan, jika TPST Bantargebang sudah berhenti total menerima sampah organik, maka tidak secara otomatis langsung tidak lagi melepaskan emisi metananya sejak saat itu.
"Gas metana-nya pelan-pelan ya menguap. Nah, tetapi TPA harus berhenti sekarang karena kalau enggak, tidak jelas kapan berhentinya? Berarti generasi ke depan yang kita sisakan adalah sampah dan gas metana," ujar Perwakilan Direktorat Penanganan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Andina Tasan dalam Kemitraan Antar Pihak dalam Penanganan Sampah Organik dan Emisi Metana di Indonesia, Jakarta (11/6/2026).
Baca juga: Cegah Kebocoran Metana Jadi Kunci RI Amankan Investasi LNG
Menurut tenaga ahli proyek Methane Emission Reduction Initiative for Transparency (MERIT), Didin Agustian Permadi, penumpukan sampah yang sangat tinggi dan besarnya kandungan organik menyebabkan TPST Bantargebang akan terus menguarkan emisi metana ke udara ambien selama beberapa puluh tahun ke depan.
Sebenarnya, TPST Bantargebang mempunyai fasiitas penangkap metana untuk kemudian dikonversi menjadi energi listrik. Namun, dalam prosesnya, kata dia, sistem permurnian metananya kemungkinan kerap mengalami kendala teknis yang menyebabkan emisi gas rumah kaca (GRK) itu terlepas ke atmosfer.
Imbasnya, satelit Tanager-1 milik Planet Labs dan EMIT NASA?di Stasiun Luar Angkasa Internasional merekam kebocoran metana di TSPT Bantargebang mencapai 6,3 ton per jam selama periode 1 Januari-31 Desember 2025.
Dengan data satelit tersebut, laporan terbaru dari Institut Emmett di Fakultas Hukum University of California Los Angeles (UCLA) memposisikan TPST Bantargebang di peringkat kedua lokasi sektor limbah dengan kontributor emisi metana terbesar di dunia.
"Yang menjadi kendala, ini kan dikontrakkan ke pihak ketiga dan kemudian juga banyak dilaporkan ya, bahwa turbin di sana banyak yang tidak bisa bekerja ataupun kondisinya rusak dikarenakan kondisi pemurnian metananya yang tidak berjalan optimal gitu ya. Begitu di bawah 30 persen, kemudian mesinnya berhenti," tutur Didin.
Baca juga: Industri Kopi dan Olahan Susu Belum Punya Target Atasi Polusi Metana
Kendala teknis lainnya terletak pada pengumpulan metana yang mengganggu penyaluran ke pabrik untuk diolah menjadi listrik. Dari aspek keekonomian, harga listrik dari pembangkit berbasis metana terlalu mahal untuk bisa dijual ke PLN.
"Kemudian di TPA (tempat pemrosesan akhir) Suwung juga berhenti ya inisiatif serupa ini yang menjadikan faktor recovery metana yang seharusnya bisa mengurangi emisi gas metana tersebut menjadi tidak berjalan dengan baik," ucapnya.
Sebelumnya, Bantargebang dimasukkan dalam daftar 25 TPA yang menghasilkan emisi metana tertinggi secara global berdasarkan laporan terbaru dari Institut Emmett di Fakultas Hukum UCLA.
Bantargebang menguarkan emisi metana sekitar 6,3 ton per jam, hanya kalah dengan TPA Campo de Mayo, Buenos Aires Province, Argentina, dengan emisi metana 7,6 ton per jam.
Baca juga: Emisi Metana Bantargebang Peringkat 2 Global, Bisa Dimanfaatkan untuk EBT
"Meskipun banyak tempat pembuangan akhir hanya mengeluarkan beberapa puluh kilogram metana per jam, tempat-tempat dalam daftar "25 teratas" kami mengeluarkan jauh lebih banyak – berkisar antara 3,6 hingga sekitar 7,6 ton (metrik ton) metana per jam," demikian keterangan dari laporan berjudul Spotlight on the Top Methane Plumes in 2025; Landfills yang dirilis pada Senin (20/4/2026) itu.
Data emisi metana publik Carbon Mapper berasal dari instrumen berbasis ruang angkasa, yaitu satelit Tanager-1 milik Planet Labs dan EMIT NASA ?di Stasiun Luar Angkasa Internasional.
Dengan memanfaatkan data satelit, riset dalam laporan ini menyusun daftar 25 TPA penyumbang metana terbesar merujuk pada tingkat emisi terdeteksi dan terukur yang terlihat selama periode 1 Januari-31 Desember 2025.
Laporan menyertakan kolom berjudul operator yang berpotensi bertanggung jawab untuk memperjelas siapa kontributor di baliknya. Misalnya, lokasi TPA di Bekasi, Jawa Barat, dengan pemerintah provinsi (Pemprov) Jakarta sebagai operator yang berpotensi bertanggung jawab. Informasi ini tidak diperoleh langsung dari Carbon Mapper, melainkan melalui hasil penelitian yang dilakukan oleh tim kami di Emmett Institute.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya