Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Meski Ditutup, TPA Bantargebang Tetap Lepaskan Metana Puluhan Tahun ke Depan

Kompas.com, 12 Juni 2026, 10:17 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Emisi metana dalam jumlah besar akan tetap terlepas dari Tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) Bantargebang, meski sudah secara bertahap mengurangi menerima sampah organik.

Bahkan, jika TPST Bantargebang sudah berhenti total menerima sampah organik, maka tidak secara otomatis langsung tidak lagi melepaskan emisi metananya sejak saat itu.

"Gas metana-nya pelan-pelan ya menguap. Nah, tetapi TPA harus berhenti sekarang karena kalau enggak, tidak jelas kapan berhentinya? Berarti generasi ke depan yang kita sisakan adalah sampah dan gas metana," ujar Perwakilan Direktorat Penanganan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Andina Tasan dalam Kemitraan Antar Pihak dalam Penanganan Sampah Organik dan Emisi Metana di Indonesia, Jakarta (11/6/2026).

Baca juga: Cegah Kebocoran Metana Jadi Kunci RI Amankan Investasi LNG

Menurut tenaga ahli proyek Methane Emission Reduction Initiative for Transparency (MERIT), Didin Agustian Permadi, penumpukan sampah yang sangat tinggi dan besarnya kandungan organik menyebabkan TPST Bantargebang akan terus menguarkan emisi metana ke udara ambien selama beberapa puluh tahun ke depan.

Sebenarnya, TPST Bantargebang mempunyai fasiitas penangkap metana untuk kemudian dikonversi menjadi energi listrik. Namun, dalam prosesnya, kata dia, sistem permurnian metananya kemungkinan kerap mengalami kendala teknis yang menyebabkan emisi gas rumah kaca (GRK) itu terlepas ke atmosfer.

Imbasnya, satelit Tanager-1 milik Planet Labs dan EMIT NASA?di Stasiun Luar Angkasa Internasional merekam kebocoran metana di TSPT Bantargebang mencapai 6,3 ton per jam selama periode 1 Januari-31 Desember 2025.

Dengan data satelit tersebut, laporan terbaru dari Institut Emmett di Fakultas Hukum University of California Los Angeles (UCLA) memposisikan TPST Bantargebang di peringkat kedua lokasi sektor limbah dengan kontributor emisi metana terbesar di dunia.

"Yang menjadi kendala, ini kan dikontrakkan ke pihak ketiga dan kemudian juga banyak dilaporkan ya, bahwa turbin di sana banyak yang tidak bisa bekerja ataupun kondisinya rusak dikarenakan kondisi pemurnian metananya yang tidak berjalan optimal gitu ya. Begitu di bawah 30 persen, kemudian mesinnya berhenti," tutur Didin.

Baca juga: Industri Kopi dan Olahan Susu Belum Punya Target Atasi Polusi Metana

Harga listrik mahal

Kendala teknis lainnya terletak pada pengumpulan metana yang mengganggu penyaluran ke pabrik untuk diolah menjadi listrik. Dari aspek keekonomian, harga listrik dari pembangkit berbasis metana terlalu mahal untuk bisa dijual ke PLN.

"Kemudian di TPA (tempat pemrosesan akhir) Suwung juga berhenti ya inisiatif serupa ini yang menjadikan faktor recovery metana yang seharusnya bisa mengurangi emisi gas metana tersebut menjadi tidak berjalan dengan baik," ucapnya.

Sebelumnya, Bantargebang dimasukkan dalam daftar 25 TPA yang menghasilkan emisi metana tertinggi secara global berdasarkan laporan terbaru dari Institut Emmett di Fakultas Hukum UCLA.

Bantargebang menguarkan emisi metana sekitar 6,3 ton per jam, hanya kalah dengan TPA Campo de Mayo, Buenos Aires Province, Argentina, dengan emisi metana 7,6 ton per jam.

Baca juga: Emisi Metana Bantargebang Peringkat 2 Global, Bisa Dimanfaatkan untuk EBT

"Meskipun banyak tempat pembuangan akhir hanya mengeluarkan beberapa puluh kilogram metana per jam, tempat-tempat dalam daftar "25 teratas" kami mengeluarkan jauh lebih banyak – berkisar antara 3,6 hingga sekitar 7,6 ton (metrik ton) metana per jam," demikian keterangan dari laporan berjudul Spotlight on the Top Methane Plumes in 2025; Landfills yang dirilis pada Senin (20/4/2026) itu.

Data emisi metana publik Carbon Mapper berasal dari instrumen berbasis ruang angkasa, yaitu satelit Tanager-1 milik Planet Labs dan EMIT NASA ?di Stasiun Luar Angkasa Internasional.

Dengan memanfaatkan data satelit, riset dalam laporan ini menyusun daftar 25 TPA penyumbang metana terbesar merujuk pada tingkat emisi terdeteksi dan terukur yang terlihat selama periode 1 Januari-31 Desember 2025.

Laporan menyertakan kolom berjudul operator yang berpotensi bertanggung jawab untuk memperjelas siapa kontributor di baliknya. Misalnya, lokasi TPA di Bekasi, Jawa Barat, dengan pemerintah provinsi (Pemprov) Jakarta sebagai operator yang berpotensi bertanggung jawab. Informasi ini tidak diperoleh langsung dari Carbon Mapper, melainkan melalui hasil penelitian yang dilakukan oleh tim kami di Emmett Institute.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Pemerintah
Benarkah 'Remote Working' Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Benarkah "Remote Working" Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Pemerintah
ITS Kembangkan Material Komposit Hibrida dari Limbah Sawit, Ringan tetapi Berkekuatan Tinggi
ITS Kembangkan Material Komposit Hibrida dari Limbah Sawit, Ringan tetapi Berkekuatan Tinggi
LSM/Figur
Tim CSR Perusahaan Banyak yang Alami 'Burnout' pada Tahun 2026
Tim CSR Perusahaan Banyak yang Alami "Burnout" pada Tahun 2026
Swasta
Tanpa Aturan Ketat, Inggris Berisiko Bangun Gedung Tak Tahan Perubahan Iklim
Tanpa Aturan Ketat, Inggris Berisiko Bangun Gedung Tak Tahan Perubahan Iklim
Pemerintah
Eks Pimpinan KPK: Penegakan Hukum Kejahatan SDA Dinilai Hanya Menyentuh 'Pion'
Eks Pimpinan KPK: Penegakan Hukum Kejahatan SDA Dinilai Hanya Menyentuh "Pion"
LSM/Figur
Perubahan Iklim Sebabkan Waktu Tidur Warga Dunia Berkurang Seminggu Dalam Setahun
Perubahan Iklim Sebabkan Waktu Tidur Warga Dunia Berkurang Seminggu Dalam Setahun
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau