Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Nofiyendri Sudiar
Dosen

Kepala Research Center for Climate Change (RCCC) sekaligus Koordinator Penanganan Perubahan Iklim SDGs Center Universitas Negeri Padang.

Kita Salah Menghitung Risiko

Kompas.com, 17 Juni 2026, 16:07 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

BEBERAPA hari terakhir, ruang publik dipenuhi perdebatan tentang ekonomi. Mahasiswa turun ke jalan.

Mereka berbicara tentang lapangan kerja, daya beli, efisiensi anggaran, dan masa depan kesejahteraan masyarakat.

Di televisi, media sosial, hingga ruang-ruang diskusi, perhatian publik tersedot pada angka-angka ekonomi.

Namun di tengah kegaduhan itu, ada satu ancaman yang nyaris tidak mendapat perhatian yang setara: risiko iklim.

Padahal alam baru saja memberikan peringatan yang sangat mahal.

Pada akhir November 2025, Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dilanda banjir bandang dan longsor besar.

Data BMKG menunjukkan curah hujan mencapai tingkat yang sangat ekstrem.

Di Aceh tercatat hingga 411 milimeter per hari, di Sumatera Utara sekitar 390 milimeter per hari, dan di Sumatera Barat mencapai 261 milimeter per hari.

Angka tersebut jauh melampaui ambang hujan ekstrem BMKG yang berada di atas 150 milimeter per hari.

Bahkan BMKG menyebut sebagian wilayah mengalami curah hujan setara hujan bulanan yang "tumpah" hanya dalam satu hari.

Baca juga: Piala Dunia, China, dan Sebelas Pemain yang Tak Kunjung Datang

Akibatnya tidak hanya berupa rumah terendam atau jalan terputus. Aktivitas ekonomi lumpuh. Distribusi barang terganggu.

Lahan pertanian rusak. Infrastruktur publik hancur. Ratusan korban jiwa berjatuhan.

Kerugian ekonomi yang muncul kemungkinan jauh lebih besar dibandingkan angka yang tercatat dalam laporan kebencanaan.

Belum genap setahun sejak bencana tersebut, peringatan baru muncul.

Berbagai lembaga iklim dunia dan pemerintah Indonesia mulai mengantisipasi berkembangnya fenomena El Niño yang berpotensi memperpanjang musim kemarau dan meningkatkan risiko kekeringan pada paruh kedua 2026.

Ironisnya, wilayah yang baru saja tenggelam oleh kelebihan air kini berpotensi menghadapi kekurangan air.

Banyak orang melihat banjir dan kekeringan sebagai dua bencana yang berbeda.

Padahal keduanya merupakan dua sisi dari masalah yang sama: kegagalan kita mengelola risiko iklim.

Ketika hujan datang dalam jumlah ekstrem, kita kebanjiran. Ketika hujan berkurang, kita kekeringan. 

Dalam kedua situasi tersebut, yang menderita bukan hanya lingkungan, melainkan ekonomi.

Ketika sawah gagal panen akibat kekeringan, harga beras naik.

Ketika kebakaran hutan terjadi, biaya kesehatan meningkat. Ketika jalan nasional rusak akibat banjir, biaya logistik membengkak.

Ketika debit sungai menurun, pasokan air bersih terganggu. Ketika bendung dan irigasi tidak mampu berfungsi optimal, produksi pangan ikut terancam.

Semua itu pada akhirnya bermuara pada satu persoalan: kerugian ekonomi.

Karena itu, sesungguhnya risiko iklim bukan isu lingkungan. Risiko iklim adalah isu ekonomi.

Sayangnya, dalam praktik pembangunan, kita masih sering memperlakukan keduanya sebagai dunia yang berbeda.

Kementerian lingkungan berbicara tentang rehabilitasi hutan. Kementerian ekonomi berbicara tentang pertumbuhan. Kementerian keuangan berbicara tentang anggaran. Padahal ketiganya saling terhubung.

Tidak ada pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di atas bentang alam yang rapuh.

Kita dapat belajar dari Sumatera Barat. Pada 2024, provinsi ini menghasilkan sekitar 1,35 juta ton gabah kering giling atau setara hampir 783 ribu ton beras konsumsi.

Produksi tersebut berasal dari lebih dari 296 ribu hektare lahan panen. Angka ini menunjukkan betapa besar ketergantungan ekonomi daerah terhadap stabilitas iklim.

Jika musim kemarau memanjang dan mengganggu produksi pangan hanya beberapa persen saja, dampaknya dapat menjalar ke mana-mana: pendapatan petani menurun, harga pangan meningkat, inflasi naik, dan daya beli masyarakat melemah.

Inilah yang sering luput dari perdebatan publik. Kita terlalu sering menghitung nilai proyek, tetapi jarang menghitung nilai kerugian akibat iklim.

Kita rajin menghitung target investasi, tetapi kurang serius menghitung risiko bencana.

Baca juga: Mencari Budiman Sudjatmiko

Kita sibuk membahas pertumbuhan ekonomi tahunan, tetapi tidak cukup memberi perhatian pada fondasi ekologis yang menopang pertumbuhan tersebut.

Padahal berbagai studi internasional menunjukkan bahwa negara-negara yang gagal mengelola risiko iklim akan menghadapi biaya ekonomi yang semakin besar setiap tahunnya.

Dalam era perubahan iklim, bencana bukan lagi gangguan sesekali. Ia telah berubah menjadi faktor ekonomi yang permanen.

Karena itu, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan hanya berapa persen pertumbuhan ekonomi yang ingin dicapai tahun depan.

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: seberapa siap ekonomi Indonesia menghadapi dunia yang semakin panas, semakin tidak pasti, dan semakin ekstrem?

Jika akhir tahun lalu banjir bandang menunjukkan biaya yang harus dibayar ketika air datang terlalu banyak, maka ancaman El Niño tahun ini mengingatkan kita pada biaya yang harus ditanggung ketika air menjadi terlalu sedikit.

Keduanya menyampaikan pesan yang sama. Indonesia boleh sibuk menghitung anggaran.

Indonesia boleh sibuk memperdebatkan angka pertumbuhan. Namun pada saat yang sama, alam juga sedang menghitung kerugian.

Dan jika kita terus mengabaikan risiko iklim, besar kemungkinan perhitungan alam akan jauh lebih mahal daripada seluruh perhitungan yang sedang kita perdebatkan hari ini.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pengamat: Target PLTS 100 GW di RUPTL Harus Dibarengi Pengurangan PLTU
Pengamat: Target PLTS 100 GW di RUPTL Harus Dibarengi Pengurangan PLTU
LSM/Figur
Petani di Sekitar TNGHS Dapat Pendampingan Kelola Lahan Berkelanjutan dari IPB
Petani di Sekitar TNGHS Dapat Pendampingan Kelola Lahan Berkelanjutan dari IPB
Pemerintah
Janji Jaga Lingkungan Tapi Perusahaan Minyak dan Gas Global Justru Tambah Produksi
Janji Jaga Lingkungan Tapi Perusahaan Minyak dan Gas Global Justru Tambah Produksi
Pemerintah
PBB Peringatkan 13 Wilayah Dunia Terancam Kelaparan yang Lebih Parah
PBB Peringatkan 13 Wilayah Dunia Terancam Kelaparan yang Lebih Parah
Pemerintah
Belajar dari Singapura, Ketika Sampah menjadi Peluang Ekonomi
Belajar dari Singapura, Ketika Sampah menjadi Peluang Ekonomi
Pemerintah
238 Batang Kayu Ilegal Disembunyikan di Pabrik Humbang Hasundutan Sumut
238 Batang Kayu Ilegal Disembunyikan di Pabrik Humbang Hasundutan Sumut
Pemerintah
Dampak Perubahan Iklim: Kedelai Bisa Tumbuh Lebih Besar tapi Kurang Bergizi
Dampak Perubahan Iklim: Kedelai Bisa Tumbuh Lebih Besar tapi Kurang Bergizi
Pemerintah
Lestari Summit 2026, Hadirkan Isu Keberlanjutan yang Dekat dengan Masyarakat
Lestari Summit 2026, Hadirkan Isu Keberlanjutan yang Dekat dengan Masyarakat
Swasta
Penggemar Piala Dunia Kini Lebih Pilih Produk Ramah Lingkungan
Penggemar Piala Dunia Kini Lebih Pilih Produk Ramah Lingkungan
Pemerintah
Komitmen Lingkungan Perusahaan Terbesar Dunia Naik Tiga Kali Lipat Sejak 2019
Komitmen Lingkungan Perusahaan Terbesar Dunia Naik Tiga Kali Lipat Sejak 2019
Pemerintah
ISO Rilis Draf Panduan Net Zero untuk Perusahaan Sedunia
ISO Rilis Draf Panduan Net Zero untuk Perusahaan Sedunia
Pemerintah
Tempat Kerja Inklusif dan Berkelanjutan semakin Diperhatikan Korporasi
Tempat Kerja Inklusif dan Berkelanjutan semakin Diperhatikan Korporasi
Swasta
Terbitkan Sustainability Report 2025, TelkomGroup Perkuat Integrasi ESG dalam Transformasi Bisnis
Terbitkan Sustainability Report 2025, TelkomGroup Perkuat Integrasi ESG dalam Transformasi Bisnis
BrandzView
WVI Kampanyekan Water fo Timor, Dekatkan Akses Air Bersih dan Sanitasi di NTT
WVI Kampanyekan Water fo Timor, Dekatkan Akses Air Bersih dan Sanitasi di NTT
LSM/Figur
60 Persen Lembaga Keuangan Terkemuka di Dunia Abaikan Risiko Deforestasi
60 Persen Lembaga Keuangan Terkemuka di Dunia Abaikan Risiko Deforestasi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau