JAKARTA, KOMPAS.com - Pendaftaran Lestari Summit 2026 resmi dibuka melalui Tribun Booking dengan fase early bird pada 10–30 Juni 2026.
Tahun ini, KG Media mengusung tema The Regenerative Pulse: Agile Ideas, Resilient Systems, Disruptive Change yang menegaskan agenda keberlanjutan tidak cukup berhenti pada diskusi tetapi perlu dibentuk, diukur, diperluas skalanya, dan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.
Vice President (VP) Sustainability KG Media, Wisnu Nugroho menjelaskan, Lestari Summit 2026 ingin menghadirkan percakapan keberlanjutan yang semakin dekat dengan persoalan nyata masyarakat.
Baca juga: Lestari Forum 2026: Sustainability Bagian dari Inti Bisnis
“Keberlanjutan bukan hanya isu kebijakan. Ini juga menyangkut bagaimana masyarakat bergerak, menggunakan energi, mengelola mobilitas, dan membangun kota yang lebih layak huni,” kata Wisnu dalam keterangannya, Kamis (18/6/2026).
Lestari Summit 2026 adalah forum keberlanjutan yang mempertemukan para pemimpin, praktisi, dan penggerak perubahan untuk bertukar gagasan, saling menginspirasi, serta membuka peluang kolaborasi dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia.
Melalui tema baru, perhelatan ini menghubungkan isu strategis, mulai dari kebijakan, akuntabilitas, ekonomi berbasis alam, inovasi teknologi, transisi energi, hingga aksi publik.
Wisnu menyampaikan, Lestari Summit 2026 akan menghadirkan pembahasan dalam tiga fokus utama, yakni National Direction & Sustainability Accountability.
Segmen itu membahas arah kebijakan dan akuntabilitas keberlanjutan Indonesia, termasuk posisi regional, inovasi, data, kepatuhan, serta kesiapan pelaporan keberlanjutan.
Kemudian, Nature-Based Economy & Local Impact yang mengangkat potensi alam dan komunitas lokal sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru. Selain itu, menyoroti praktik nyata, local changemakers, blue-green economy, biodiversity economy, serta kolaborasi untuk memperbesar dampak.
Fokus ketiga, Business Transformation, Technology & Public Action yang membahas hubungan antara sustainability, transformasi bisnis, teknologi, transisi energi, kota sirkular, dengan perubahan perilaku masyarakat.
Baca juga: Menanam Mangrove, Menumbuhkan Harapan: Cara Lestari KG Media Melampaui Berita
Wisnu menilai pembahasan lintas tema penting lantaran tantangan keberlanjutan tidak bisa dijawab oleh satu sektor saja. Pemerintah, pelaku bisnis, akademisi, komunitas, dan masyarakat perlu berada dalam ruang yang sama untuk saling memahami tantangan sekaligus membuka peluang kolaborasi.
“Lestari Summit 2026 ingin menjadi ruang temu bagi berbagai perspektif. Ada isu kebijakan, ada praktik bisnis, ada teknologi, dan ada aksi komunitas. Semuanya perlu saling terhubung agar sustainability tidak berhenti sebagai wacana,” beber dia.
Adapun Tiket early bird tersedia dengan harga Rp 175.000. Bagi Anda yang hendak mengikuti Lestari Summit 2026 dapat memanfaatkan periode early bird sebelum penjualan tiket reguler dibuka pada 1–20 Juli 2026 dengan harga Rp 250.000.
Menurut Wisnu, sistem tiket berbayar dihadirkan untuk membangun komitmen peserta yang hadir.
“Melalui sistem tiket, kami ingin memastikan Lestari Summit 2026 menjadi ruang yang dihadiri oleh peserta dengan ketertarikan dan komitmen terhadap isu keberlanjutan,” tutur Wisnu.
Ia menambahkan, komitmen peserta menjadi penting karena Lestari Summit tidak hanya dirancang sebagai forum untuk hadir dan mendengar.
Baca juga: Mendengar Suara Perempuan Penggerak Keberlanjutan di Lestari Summit 2025
“Kami ingin peserta mendapatkan nilai dari forum ini. Bukan hanya datang ke sebuah acara, tetapi juga membawa pulang perspektif, jejaring, dan dorongan untuk ikut mengambil bagian dalam agenda keberlanjutan,” sebut dia.
Pada penyelenggaraan tahun ini, Lestari Summit dirancang dengan format yang lebih tersegmentasi dengan pembahasan berfokus pada kebijakan, serta pembahasan yang lebih dekat dengan aksi komunitas dan masyarakat.
Wisnu menjelaskan, pembagian tersebut disiapkan agar percakapan yang hadir dalam Lestari Summit 2026 dapat saling melengkapi. Satu ruang dapat membahas arah besar kebijakan, sementara ruang lainnya dapat memperlihatkan hal-hal yang bisa dilakukan oleh komunitas, pelaku usaha, maupun masyarakat umum.
“Dua ruang itu akan saling melengkapi. Ada pembahasan yang lebih dekat dengan kebijakan, dan ada pembahasan yang lebih dekat dengan hal-hal yang bisa dilakukan komunitas maupun masyarakat,” ungkap Wisnu.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya