Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Apa itu? Ternyata, pendekatan yang paling berdampak justru yang tampak “kecil” dan mendasar. Misalnya, penguatan kemampuan mengajar guru, pembelajaran berbasis kemampuan aktual siswa, pendidikan anak usia dini berkualitas, dan pelibatan orang tua dalam stimulasi belajar di rumah.
Sebaliknya, intervensi yang tampak “besar”, seperti pengadaan perangkat teknologi mahal atau pembangunan infrastruktur fisik, terbukti paling tidak efisien apabila tidak diimbangi dengan pendekatan mendasar tersebut.
Baca juga: Baru 370 dari 5000 Sekolah di Jakarta Tanamkan Pendidikan Lingkungan
RUU Sisdiknas harus memiliki mekanisme yang memastikan alokasi anggaran diarahkan pada pendekatan yang terbukti paling berdampak, bukan yang paling terlihat.
Karena itu, RUU Sisdiknas bukan sekadar revisi teknis perundang-undangan, melainkan cerminan dari komitmen kita terhadap generasi mendatang.
Dengan memastikan tiga hal ini: tujuan pendidikan yang berorientasi pada pengembangan manusia seutuhnya; rencana jangka panjang yang melampaui siklus politik; dan anggaran yang tepat sasaran; kita tidak hanya memperbaiki sistem pendidikan. Kita sedang memilih masa depan seperti apa yang ingin kita wariskan bagi Indonesia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya