Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 30 Juni 2026, 15:11 WIB
Hotria Mariana,
Agung Dwi E

Tim Redaksi

Iksan melanjutkan, peningkatan PAD memberi ruang fiskal lebih besar bagi pemerintah untuk membangun layanan publik, termasuk pendidikan.

“Tidak hanya dari pemerintah daerah, perusahaannya juga membangun. Jadi, kalau misalnya ada yang tidak terkoneksi dengan pemerintah daerah, dibangun bersama. Kalau misalnya daerah tidak cukup duit, ya dia (perusahaan) ikut bangun juga,” katanya kepada Kompas.com, Kamis (18/6/2026).

Wajah lain dari pertumbuhan

Meski pertumbuhan ekonomi berlangsung pesat, manfaatnya belum sepenuhnya dirasakan secara merata.

Data BPS 2025 menunjukkan, sebanyak 10,38 persen penduduk Morowali masih tergolong miskin. Angka kemiskinan memang terus turun jika dibandingkan 12,58 persen pada 2022, 11,77 persen pada 2023, dan 11,55 persen pada 2024.

Namun, persentasenya masih berada di atas target nasional yang sebesar 9,36 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak serta-merta menghapus seluruh persoalan kesejahteraan di tingkat masyarakat.

Tantangan lain terlihat dari keterlibatan perempuan dalam aktivitas ekonomi. Dominasi sektor industri pengolahan dan pertambangan yang banyak menyerap tenaga kerja laki-laki belum sepenuhnya diikuti peningkatan partisipasi perempuan di pasar kerja.

Data BPS menunjukkan, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan Morowali turun dari 47,84 pada 2020 menjadi 24,21 pada 2023.

Periode 2024-2025 mulai menunjukkan perbaikan dengan angka masing-masing 30,81 dan 36,95. Namun, capaian tersebut masih jauh di bawah rata-rata nasional sebesar 56,63 persen. Bahkan, TPAK perempuan Morowali menjadi yang terendah di Sulawesi Tengah.

Selain kemiskinan dan keterlibatan perempuan dalam dunia kerja, masalah lingkungan juga masih menjadi pekerjaan rumah.

Keberadaan kawasan industri nikel berdampak pada kualitas perairan laut Morowali. Imbasnya, banyak nelayan terpaksa beralih profesi karena kesulitan mencari ikan di perairan dangkal.

Salah satu nelayan yang ditemui tim Kompas.com, Maja, bercerita, sebelum industri nikel berkembang pesat, ikan masih mudah ditangkap di sekitar pesisir Morowali.

Kini, akibat air yang keruh, lalu lintas kapal, dan perubahan kawasan pesisir, ikan pun menjauh dari pesisir. Profesi sebagai nelayan tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Ia akhirnya beralih menjadi pengantar barang dan orang dari kapal yang berada di lautan.

Ketua Perkumpulan Nelayan Morowali Tasdik mengatakan, nelayan kini harus melaut lebih jauh, sekitar 12 mil dari garis pantai untuk mendapatkan ikan. Sebelumnya, ikan sudah bisa diperoleh hanya dengan melaut sekitar 3 hingga 4 mil dari pesisir.

Konsekuensinya, biaya operasional melaut meningkat signifikan. Dulu, biaya melaut berkisar Rp 50.000 hingga Rp 75.000 sekali berangkat. Kini, pengeluaran bisa mencapai Rp 150.000 hingga Rp 200.000.

Perubahan ini menjadi beban berat bagi nelayan tradisional dengan perahu dan mesin yang terbatas. Tasdik mencatat, sekitar 70 persen nelayan di kawasan pesisir Bahodopi kini sudah beralih profesi.

“Sebagian menjadi buruh, tukang, atau bekerja di sektor jasa karena hasil melaut tidak lagi sebanding dengan biayanya,” ucapnya.

Selain nelayan, petani juga merasa terancam lantaran industri nikel berencana mengambil air dari Sungai Karaupa. Padahal, sungai ini merupakan sumber air bagi masyarakat di Kecamatan Bumi Raya dan Witaponda.

Sungai itu juga menjadi tumpuan irigasi bagi lebih dari 2.000 hektare sawah yang tersebar di 13 desa di dua kecamatan tersebut. Ribuan petani bergerak menolak rencana pengambilan air industri dari Sungai Karaupa.

Perwakilan petani Azmi Alatas menekankan bahwa petani bukan anti-investasi. Namun, menurut dia, pelaku industri nikel harus memperhitungkan ruang hidup dan produksi warga yang sudah lebih dulu ada.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
Pemerintah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Pemerintah
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
LSM/Figur
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Swasta
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau