KOMPAS.com - Ketahanan pangan kerap dikaitkan dengan masalah lahan, cuaca, dan hasil panen. Anggapannya sederhana kalau lahannya cukup, harusnya stok pangan juga aman.
Namun, sebuah penelitian terbaru menunjukkan kekhawatiran yang berbeda. Apa jadinya kalau lahannya ada, tapi tidak ada orang yang mau atau bisa mengelolanya?
Pertanyaan itu sekarang makin sulit diabaikan. Angka kelahiran di banyak negara terus menurun. Desa-desa mulai kehilangan penduduknya, dan generasi muda terus meninggalkan daerah pertanian demi mencari pekerjaan di kota.
Melansir Earth, Rabu (17/6/2026) para peneliti mengatakan bahwa pergeseran ini bisa berdampak besar bagi masa depan produksi pangan. Di beberapa belahan dunia, masalah kekurangan petani bisa menjadi sama gawatnya dengan masalah kelangkaan lahan itu sendiri.
Penelitian ini dipimpin oleh Profesor Hyungjun Kim dari Institut Iklim, Lingkungan, dan Energi KI (KAIST) bersama rekan-rekan sejawatnya dari Universitas Tokyo.
Studi mereka mempelajari bagaimana penurunan jumlah pekerja di sektor pertanian bisa memengaruhi ketahanan pangan di masa depan yaitu kemampuan untuk memproduksi dan menyediakan makanan yang cukup secara stabil.
Baca juga: El Nino Godzilla, Ketahanan Pangan Nasional, dan Nasib Petani
Untuk mendalami masalah ini, para peneliti menggunakan lima skenario masa depan berdasarkan Shared Socioeconomic Pathways (SSP) dan Representative Concentration Pathways (RCP).
Keduanya adalah sistem acuan internasional yang biasa digunakan untuk mempelajari kondisi sosial dan iklim di masa depan.
Skenario SSP melihat kemungkinan perubahan pada jumlah penduduk, pertumbuhan ekonomi, dan teknologi. Sementara itu, skenario RCP fokus pada bagaimana tingkat emisi gas rumah kaca dapat memengaruhi kondisi iklim di masa depan.
Perbedaan utama dalam penelitian ini adalah dimasukkannya perkiraan jumlah pekerja di sektor pertanian.
Model prediksi sebelumnya sebagian besar hanya fokus pada ketersediaan lahan dan kebutuhan pangan. Pendekatan baru ini ikut menghitung perkiraan berapa banyak orang yang benar-benar tersedia untuk bertani. Perubahan metode ini menghasilkan temuan yang mengejutkan.
Para peneliti menemukan bahwa kurangnya tenaga kerja dapat mengurangi jumlah lahan pertanian yang benar-benar bisa digarap di berbagai wilayah di dunia.
Di beberapa daerah, masalah kekurangan petani ini bahkan terlihat menjadi penghambat yang lebih besar ketimbang faktor kondisi iklim ataupun kualitas tanah.
Temuan ini menunjukkan bahwa memiliki lahan yang subur dan cocok untuk bertani tidak otomatis menjamin makanan akan langsung tersedia.
Jika jumlah petani terlalu sedikit, sebagian lahan pertanian akan tetap telantar atau tidak terurus, tidak peduli seberapa bagus dan mendukungnya kondisi lingkungan di sana.
Banyak orang mengira bahwa kemajuan teknologi pertanian akan bisa mengatasi masalah kekurangan tenaga kerja ini.
Peralatan modern, otomatisasi, kecerdasan buatan (AI), dan teknik pertanian presisi memang terbukti membuat petani bisa mengelola lahan yang lebih luas dengan pekerja yang lebih sedikit. Alat-alat tersebut juga diperkirakan akan makin canggih di masa depan.
Namun, studi ini menunjukkan bahwa teknologi saja tidak akan cukup untuk menyelesaikan masalah. Seiring berkembangnya ekonomi dan industri, makin banyak orang yang meninggalkan dunia pertanian untuk pindah ke sektor kerja lain.
Hal ini bisa mempercepat penurunan jumlah penduduk di desa dan semakin menguras jumlah pekerja yang mau bertani.
Akibatnya, peningkatan hasil panen berkat teknologi canggih bisa terhambat karena jumlah petani dan pekerja lapangan yang terus menyusut.
Peneliti juga melihat bagaimana peran migrasi antarnegara terhadap ketahanan pangan.
Analisis mereka menemukan bahwa pembatasan aturan imigrasi bisa memicu kelangkaan tenaga kerja baru di negara-negara maju. Di sisi lain, beberapa negara berpenghasilan rendah justru bisa mengalami penumpukan jumlah pekerja tani yang terlalu banyak.
Temuan ini memperlihatkan bagaimana kebijakan imigrasi di suatu negara ternyata bisa memengaruhi sistem pangan global dengan cara yang mungkin tidak kita sadari sebelumnya.
Produksi pangan tidak hanya bergantung pada lahan dan iklim, tetapi juga pada pergerakan orang-orang yang berpindah antarwilayah dan antarnegara.
Baca juga: Studi: Emisi GRK dari Sawah Hampir Dua Kali Lipat sejak 1960-an
Penelitian ini menunjukkan perlunya cara berpikir yang lebih menyeluruh tentang pasokan pangan di masa depan.
Selama ini, ketahanan pangan sering kali hanya dibahas dari sisi kekeringan, banjir, gelombang panas, dan ketersediaan lahan pertanian. Faktor-faktor itu memang tetap penting.
Namun, perubahan jumlah penduduk, ketersediaan tenaga kerja, dan pola migrasi ternyata juga memegang peran yang sangat besar dalam menentukan apakah makanan bisa diproduksi dengan efisien atau tidak.
“Penelitian ini menganalisis masalah pangan di masa depan dengan tidak hanya melihat faktor iklim dan lahan, tetapi juga perubahan pada manusianya,” kata Kim.
“Ini menunjukkan bahwa tantangan sosial yang nyata saat ini, seperti rendahnya angka kelahiran dan sepinya daerah pedesaan, bisa berdampak besar bagi ketahanan pangan serta cara kita menghadapi perubahan iklim di masa depan,” tambahnya.
Pesannya sudah sangat jelas. Masa depan pangan kita tidak hanya bergantung pada seberapa luas lahan pertanian yang tersedia, tetapi juga pada apakah masih ada cukup petani yang mau dan mampu menggarapnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya