Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ancaman Baru Ketahanan Pangan: Petani Minim Regenerasi

Kompas.com, 30 Juni 2026, 16:05 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Ketahanan pangan kerap dikaitkan dengan masalah lahan, cuaca, dan hasil panen. Anggapannya sederhana kalau lahannya cukup, harusnya stok pangan juga aman.

Namun, sebuah penelitian terbaru menunjukkan kekhawatiran yang berbeda. Apa jadinya kalau lahannya ada, tapi tidak ada orang yang mau atau bisa mengelolanya?

Pertanyaan itu sekarang makin sulit diabaikan. Angka kelahiran di banyak negara terus menurun. Desa-desa mulai kehilangan penduduknya, dan generasi muda terus meninggalkan daerah pertanian demi mencari pekerjaan di kota.

Melansir Earth, Rabu (17/6/2026) para peneliti mengatakan bahwa pergeseran ini bisa berdampak besar bagi masa depan produksi pangan. Di beberapa belahan dunia, masalah kekurangan petani bisa menjadi sama gawatnya dengan masalah kelangkaan lahan itu sendiri.

Penelitian ini dipimpin oleh Profesor Hyungjun Kim dari Institut Iklim, Lingkungan, dan Energi KI (KAIST) bersama rekan-rekan sejawatnya dari Universitas Tokyo.

Studi mereka mempelajari bagaimana penurunan jumlah pekerja di sektor pertanian bisa memengaruhi ketahanan pangan di masa depan yaitu kemampuan untuk memproduksi dan menyediakan makanan yang cukup secara stabil.

Baca juga: El Nino Godzilla, Ketahanan Pangan Nasional, dan Nasib Petani

Prediksi jumlah petani di masa depan

Untuk mendalami masalah ini, para peneliti menggunakan lima skenario masa depan berdasarkan Shared Socioeconomic Pathways (SSP) dan Representative Concentration Pathways (RCP).

Keduanya adalah sistem acuan internasional yang biasa digunakan untuk mempelajari kondisi sosial dan iklim di masa depan.

Skenario SSP melihat kemungkinan perubahan pada jumlah penduduk, pertumbuhan ekonomi, dan teknologi. Sementara itu, skenario RCP fokus pada bagaimana tingkat emisi gas rumah kaca dapat memengaruhi kondisi iklim di masa depan.

Perbedaan utama dalam penelitian ini adalah dimasukkannya perkiraan jumlah pekerja di sektor pertanian.

Model prediksi sebelumnya sebagian besar hanya fokus pada ketersediaan lahan dan kebutuhan pangan. Pendekatan baru ini ikut menghitung perkiraan berapa banyak orang yang benar-benar tersedia untuk bertani. Perubahan metode ini menghasilkan temuan yang mengejutkan.

Para peneliti menemukan bahwa kurangnya tenaga kerja dapat mengurangi jumlah lahan pertanian yang benar-benar bisa digarap di berbagai wilayah di dunia.

Di beberapa daerah, masalah kekurangan petani ini bahkan terlihat menjadi penghambat yang lebih besar ketimbang faktor kondisi iklim ataupun kualitas tanah.

Temuan ini menunjukkan bahwa memiliki lahan yang subur dan cocok untuk bertani tidak otomatis menjamin makanan akan langsung tersedia.

Jika jumlah petani terlalu sedikit, sebagian lahan pertanian akan tetap telantar atau tidak terurus, tidak peduli seberapa bagus dan mendukungnya kondisi lingkungan di sana.

Mesin tak bisa gantikan semua orang

Banyak orang mengira bahwa kemajuan teknologi pertanian akan bisa mengatasi masalah kekurangan tenaga kerja ini.

Peralatan modern, otomatisasi, kecerdasan buatan (AI), dan teknik pertanian presisi memang terbukti membuat petani bisa mengelola lahan yang lebih luas dengan pekerja yang lebih sedikit. Alat-alat tersebut juga diperkirakan akan makin canggih di masa depan.

Namun, studi ini menunjukkan bahwa teknologi saja tidak akan cukup untuk menyelesaikan masalah. Seiring berkembangnya ekonomi dan industri, makin banyak orang yang meninggalkan dunia pertanian untuk pindah ke sektor kerja lain.

Hal ini bisa mempercepat penurunan jumlah penduduk di desa dan semakin menguras jumlah pekerja yang mau bertani.

Akibatnya, peningkatan hasil panen berkat teknologi canggih bisa terhambat karena jumlah petani dan pekerja lapangan yang terus menyusut.

Peneliti juga melihat bagaimana peran migrasi antarnegara terhadap ketahanan pangan.

Analisis mereka menemukan bahwa pembatasan aturan imigrasi bisa memicu kelangkaan tenaga kerja baru di negara-negara maju. Di sisi lain, beberapa negara berpenghasilan rendah justru bisa mengalami penumpukan jumlah pekerja tani yang terlalu banyak.

Temuan ini memperlihatkan bagaimana kebijakan imigrasi di suatu negara ternyata bisa memengaruhi sistem pangan global dengan cara yang mungkin tidak kita sadari sebelumnya.

Produksi pangan tidak hanya bergantung pada lahan dan iklim, tetapi juga pada pergerakan orang-orang yang berpindah antarwilayah dan antarnegara.

Baca juga: Studi: Emisi GRK dari Sawah Hampir Dua Kali Lipat sejak 1960-an

Masa depan pangan di tangan petani

Penelitian ini menunjukkan perlunya cara berpikir yang lebih menyeluruh tentang pasokan pangan di masa depan.

Selama ini, ketahanan pangan sering kali hanya dibahas dari sisi kekeringan, banjir, gelombang panas, dan ketersediaan lahan pertanian. Faktor-faktor itu memang tetap penting.

Namun, perubahan jumlah penduduk, ketersediaan tenaga kerja, dan pola migrasi ternyata juga memegang peran yang sangat besar dalam menentukan apakah makanan bisa diproduksi dengan efisien atau tidak.

“Penelitian ini menganalisis masalah pangan di masa depan dengan tidak hanya melihat faktor iklim dan lahan, tetapi juga perubahan pada manusianya,” kata Kim.

“Ini menunjukkan bahwa tantangan sosial yang nyata saat ini, seperti rendahnya angka kelahiran dan sepinya daerah pedesaan, bisa berdampak besar bagi ketahanan pangan serta cara kita menghadapi perubahan iklim di masa depan,” tambahnya.

Pesannya sudah sangat jelas. Masa depan pangan kita tidak hanya bergantung pada seberapa luas lahan pertanian yang tersedia, tetapi juga pada apakah masih ada cukup petani yang mau dan mampu menggarapnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ekonomi Lesu, Rekrutmen Karyawan Keberlanjutan Ternyata Tetap Stabil
Ekonomi Lesu, Rekrutmen Karyawan Keberlanjutan Ternyata Tetap Stabil
Pemerintah
Tanoto Foundation: 'Employability' Mahasiswa Harus Diasah sejak Menempuh Pendidikan Tinggi
Tanoto Foundation: "Employability" Mahasiswa Harus Diasah sejak Menempuh Pendidikan Tinggi
LSM/Figur
Polusi dan Kiriman Sampah Jadi Tantangan Rehabilitasi Mangrove di Jakarta
Polusi dan Kiriman Sampah Jadi Tantangan Rehabilitasi Mangrove di Jakarta
LSM/Figur
Strategi Unilever Bangun Pertumbuhan Berkelanjutan di Tengah Dinamika Pasar
Strategi Unilever Bangun Pertumbuhan Berkelanjutan di Tengah Dinamika Pasar
Swasta
FEM IPB Dorong Solusi Berbasis Alam dan ESG untuk Perkuat Ketahanan Iklim
FEM IPB Dorong Solusi Berbasis Alam dan ESG untuk Perkuat Ketahanan Iklim
Pemerintah
Gelombang Panas Panjang Berisiko Picu Darurat Kesehatan Mental
Gelombang Panas Panjang Berisiko Picu Darurat Kesehatan Mental
LSM/Figur
RI Tetapkan RPPEM Nasional 2026-2055 Jadi Peta Jalan Perlindungan Mangrove
RI Tetapkan RPPEM Nasional 2026-2055 Jadi Peta Jalan Perlindungan Mangrove
LSM/Figur
Pertama Kali, Tesla Tetapkan Target Bebas Emisi pada 2040
Pertama Kali, Tesla Tetapkan Target Bebas Emisi pada 2040
Swasta
Ketika Menjaga Hutan Mampu Membuka Jalan Petani ke Pasar Global...
Ketika Menjaga Hutan Mampu Membuka Jalan Petani ke Pasar Global...
Swasta
Di Balik Pemulihan Pascabencana Sumatera, Ada Upaya Pertamina Membangun Ketangguhan Masyarakat
Di Balik Pemulihan Pascabencana Sumatera, Ada Upaya Pertamina Membangun Ketangguhan Masyarakat
BrandzView
Dampak Perubahan Iklim, Kekeringan di Eropa Diprediksi Kian Parah
Dampak Perubahan Iklim, Kekeringan di Eropa Diprediksi Kian Parah
LSM/Figur
Tantangan Sistem Pendingin Pusat Data: Kenaikan Suhu dan Kelembapan Udara
Tantangan Sistem Pendingin Pusat Data: Kenaikan Suhu dan Kelembapan Udara
Pemerintah
Saat Tambak Tak Lagi Harus Meluas demi Kejar Produksi...
Saat Tambak Tak Lagi Harus Meluas demi Kejar Produksi...
Swasta
EY: Perusahaan di Indonesia Mulai Beralih ke Standar Pelaporan Keberlanjutan IFRS
EY: Perusahaan di Indonesia Mulai Beralih ke Standar Pelaporan Keberlanjutan IFRS
Swasta
Pilihan Makanan Berdasarkan Usia Bisa Pengaruhi Emisi Global, Kok Bisa?
Pilihan Makanan Berdasarkan Usia Bisa Pengaruhi Emisi Global, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau