Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 30 Juli 2026, 09:59 WIB
Hotria Mariana,
Agung Dwi E

Tim Redaksi

Melalui tata kelola seperti itu, berbagai instrumen pembagian manfaat dapat berkembang dari sekadar memenuhi kewajiban administratif menjadi investasi bagi penguatan ekonomi lokal dan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang.

Baca juga: Ketika Industri Nikel Tumbuh Melampaui Kesiapan Infrastruktur

Belajar dari praktik baik BSM di berbagai negara

Sejumlah negara telah lebih dahulu menerapkan mekanisme pembagian manfaat dari pengelolaan sumber daya alam.

Di Peru, misalnya, pemerintah menerapkan Canon Minero, yakni skema menyalurkan sebagian penerimaan dari sektor pertambangan kepada pemerintah daerah di wilayah penghasil. Dana tersebut digunakan untuk membiayai pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan layanan publik lain.

Sementara di Kanada, perusahaan diwajibkan berunding dengan komunitas adat melalui Impact and Benefit Agreements (IBA) sebelum proyek pertambangan, kehutanan, ataupun energi dijalankan.

Kesepakatan tersebut tidak hanya mengatur pembagian manfaat ekonomi, tetapi juga kesempatan kerja, perlindungan lingkungan, hingga pembangunan sosial.

Model BSM lain berkembang di sejumlah negara, seperti Papua Nugini, Peru, Ghana, dan Mozambik. Di negara-negara ini, sebagian manfaat dari kegiatan pertambangan dikelola melalui yayasan atau trust fund yang digunakan untuk membiayai program pembangunan masyarakat dalam jangka panjang.

Meski menggunakan pendekatan yang berbeda, seluruh model tersebut memiliki prinsip yang sama. Manfaat ekonomi dari sumber daya alam tidak berhenti sebagai penerimaan pemerintah atau kewajiban perusahaan, tetapi dikelola secara transparan, melibatkan masyarakat, dan diarahkan untuk memperkuat pembangunan daerah.

Harriz menegaskan, Indonesia tidak perlu menyalin bentuk kelembagaan negara lain. Berbagai model tersebut tidak bisa begitu saja diterapkan di Indonesia.

“Pasalnya, setiap negara memiliki sejarah, sistem hukum, tata kelola pemerintahan, hingga struktur fiskal berbeda. Hal terpenting untuk dipelajari adalah prinsip yang melandasinya,” terangnya.

Prinsip tersebut antara lain adalah memastikan pembagian manfaat berlangsung secara transparan, akuntabel, melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan, serta mampu menjawab kebutuhan daerah penghasil secara berkelanjutan.

“Dengan prinsip tersebut, manfaat industri tidak berhenti sebagai penerimaan negara atau program perusahaan, tetapi menjadi investasi bagi masa depan masyarakat setelah sumber daya alamnya habis,” lanjutnya.

Baca juga: Di Balik Hilirisasi Morowali, Ada Warga yang Ingin Ikut Menentukan Masa Depannya

Membangun warisan setelah nikel habis

Guru Besar Ekonom Universitas Tadulako Prof Ahlis Djirimu menambahkan, pembagian manfaat tidak boleh berhenti pada aspek fiskal ataupun tata kelola.

Menurutnya, manfaat ekonomi dari hilirisasi perlu diterjemahkan menjadi penguatan ekonomi lokal melalui pengembangan rantai pasok, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, perluasan kesempatan kerja bagi masyarakat setempat, hingga pemenuhan kebutuhan dasar serta kompensasi atas berbagai dampak yang ditimbulkan aktivitas industri.

Dengan demikian, pertumbuhan industri akan diikuti peningkatan kualitas hidup masyarakat di daerah penghasil.

Bagi Ahlis, seluruh upaya tersebut merupakan bagian dari kerangka besar BSM yang bertujuan memastikan manfaat ekonomi dari hilirisasi tidak hanya dinikmati selama industri masih beroperasi, tapi juga menjadi modal bagi pembangunan daerah setelah sumber daya alamnya berkurang atau habis.

Pada akhirnya, kata dia, keberhasilan hilirisasi tidak hanya diukur dari besarnya investasi, tingginya pertumbuhan ekonomi, atau banyaknya smelter yang berdiri.

Hal yang lebih penting adalah apakah kekayaan alam itu mampu meninggalkan warisan berupa ekonomi lokal yang lebih kuat, sumber daya manusia yang lebih berkualitas, dan kesejahteraan masyarakat yang tetap bertahan ketika cadangan nikel suatu hari nanti mulai menipis

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of
Baca tentang


Terkini Lainnya
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Pemerintah
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Pemerintah
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
Pemerintah
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Pemerintah
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
LSM/Figur
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
LSM/Figur
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau