KOMPAS.com - Penghijauan di kawasan perkotaan tidak cukup dilakukan dengan menanam pohon secara terpisah. Ruang hijau perlu dirancang sebagai jaringan yang saling terhubung agar dapat memberikan manfaat ekologis sekaligus sosial bagi masyarakat.
Dalam pendekatan ekologi lanskap, taman kota, jalur hijau di sepanjang jalan, bantaran sungai, halaman permukiman, hingga ruang terbuka lainnya dapat menjadi bagian dari satu sistem ekologis perkotaan.
Jaringan tersebut membentuk koridor hijau yang tidak hanya membantu mengurangi panas dan limpasan air hujan, tetapi juga menyediakan ruang hidup bagi keanekaragaman hayati di tengah dominasi kawasan terbangun.
Baca juga: Microsoft Tebus Emisi 7 Juta Ton Karbon Lewat Proyek Penghijauan Hutan
Guru Besar Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) Institut Teknologi Bandung (ITB), Ridwan Sutriadi mengatakan, keberadaan vegetasi di kawasan perkotaan juga berperan dalam menyaring polutan dan mengurangi dampak langsung aktivitas kendaraan bermotor terhadap lingkungan sekitar.
"Vegetasi di perkotaan pun berperan dalam membantu menyaring polutan serta mengurangi dampak langsung aktivitas kendaraan bermotor terhadap lingkungan sekitar," ujar Ridwan, dilansir dari laman resmi ITB, Rabu (12/8/2026).
Menurut dia, pembangunan Bandung ke depan tidak cukup hanya mengukur luas ruang terbuka hijau yang tersedia. Perencanaan juga perlu mempertimbangkan lokasi, kualitas, serta keterhubungan antarruang hijau.
Di tengah kepadatan kawasan Bandung, pohon yang berada di tepi jalan, taman, halaman rumah, maupun bantaran sungai memiliki fungsi yang lebih besar daripada sekadar mempercantik kota.
Bagi kawasan yang berada dalam bentang Cekungan Bandung, keberadaan pohon dan ruang hijau merupakan bagian dari infrastruktur alami yang membantu menghadapi peningkatan suhu, limpasan air hujan, serta penurunan kualitas lingkungan.
Ridwan menjelaskan, ketika kawasan yang sebelumnya ditutupi vegetasi berubah menjadi bangunan, jalan, dan permukaan beton, kemampuan lingkungan dalam menyerap air dan menahan panas ikut berkurang.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan kerentanan kawasan perkotaan terhadap urban heat island atau fenomena pulau panas perkotaan.
"Karena itu, menanam dan mempertahankan pohon bukan sekadar urusan estetika. Di Bandung, keberadaan pohon berkaitan langsung dengan kenyamanan dan ketahanan kawasan perkotaan," tutur Ridwan.
Kanopi pohon, misalnya, dapat memberikan keteduhan bagi pejalan kaki dan masyarakat yang beraktivitas di ruang publik. Sementara vegetasi yang terhubung antara taman, tepi jalan, permukiman, dan bantaran sungai dapat membentuk koridor hijau di tengah kepadatan kota.
Konsep tersebut menjadi semakin penting ketika masyarakat didorong untuk berjalan kaki dan menggunakan transportasi publik.
Menurut Ridwan, kota yang ramah pejalan kaki tidak cukup hanya menyediakan trotoar. Jalur pejalan kaki juga perlu nyaman, teduh, aman, dan terhubung dengan ruang publik lainnya.
Dengan demikian, pohon seharusnya dipandang sebagai bagian dari fasilitas perkotaan, sebagaimana elemen fisik kota lainnya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya