"Ruang hijau juga menyediakan tempat bagi masyarakat untuk berinteraksi, berolahraga, bermain, atau sekadar beristirahat dari kepadatan aktivitas sehari-hari. Dalam konteks tersebut, taman dan ruang publik hijau memiliki fungsi sosial sekaligus ekologis," ucapnya.
Kebutuhan membangun jaringan ruang hijau semakin penting karena Kota Bandung merupakan bagian dari bentang Cekungan Bandung. Persoalan lingkungan di kawasan ini tidak berdiri sendiri dan saling terhubung antara wilayah hulu, perkotaan, hingga hilir.
Topografi berbentuk cekungan menyebabkan aliran air dari kawasan yang lebih tinggi, termasuk Bandung bagian utara dan wilayah sekitarnya, bergerak menuju kawasan yang lebih rendah.
Ketika semakin banyak lahan tertutup beton dan semakin sedikit kawasan yang mampu menyerap air, limpasan permukaan akan meningkat. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memperbesar risiko genangan.
Baca juga: Perusahaan Asal RI Bakal Terlibat Proyek Penghijauan Gurun Arab Saudi
Di sinilah pohon, taman kota, tanah terbuka, dan kawasan bervegetasi memiliki peran penting. Permukaan tanah yang tidak sepenuhnya tertutup material keras memberikan ruang bagi air hujan untuk meresap ke dalam tanah.
"Artinya, ketika satu pohon dipertahankan atau sebuah kawasan hijau dijaga, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan di sekitarnya. Dalam skala yang lebih luas, ruang hijau ikut menjaga fungsi ekologis Cekungan Bandung," ujar Ridwan.
Karena itu, penyelesaian persoalan lingkungan di Cekungan Bandung tidak dapat hanya dibatasi berdasarkan wilayah administratif Kota Bandung. Diperlukan pendekatan regional yang memperhitungkan hubungan antara kawasan hulu, perkotaan, hingga hilir.
Menurut Ridwan, menjaga Cekungan Bandung tidak selalu harus dilakukan melalui proyek berskala besar. Masyarakat dapat mengambil bagian melalui berbagai langkah sederhana yang relatif murah dan cepat diterapkan.
Di tingkat lingkungan, misalnya, masyarakat dapat mengembangkan kebun komunitas di fasilitas umum RT/RW, mempertahankan dan menambah pohon di pekarangan, membuat lubang biopori, serta memanfaatkan lahan kosong sebagai *pocket park* atau taman saku.
Lorong permukiman juga dapat dibuat lebih teduh dengan tanaman merambat pada pagar atau pergola. Sementara sistem penampungan air hujan dapat diterapkan di bangunan publik maupun lingkungan permukiman untuk membantu pengelolaan air.
Upaya tersebut juga dapat menjadi ruang kolaborasi antargenerasi. Pengetahuan warga senior mengenai tanaman lokal, misalnya, dapat dipadukan dengan kemampuan generasi muda dalam pemanfaatan teknologi dan pengelolaan informasi.
Generasi muda juga memiliki peluang untuk berkontribusi melalui pendekatan berbasis teknologi.
Salah satunya dengan melakukan pemetaan partisipatif menggunakan perangkat yang mudah dijangkau untuk mengidentifikasi titik-titik yang terasa lebih panas, kawasan dengan dominasi tutupan beton, serta kondisi pohon dan vegetasi perkotaan.
"Sensor suhu dan kelembapan sederhana juga dapat digunakan untuk membangun data mengenai kondisi mikroklimat di tingkat lingkungan," tutur Ridwan.
Menurut dia, pemanfaatan teknologi membuat gerakan penghijauan tidak berhenti pada kegiatan menanam pohon.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya