Penulis
KOMPAS.com - Upaya perlindungan hiu dan pari memasuki babak baru. Lebih dari 70 spesies hiu dan pari mendapat perlindungan lebih usai negara-negara di dunia menyepakati aturan baru.
Keputusan ini diambil pada konferensi perdagangan satwa liar Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) di Uzbekistan, Jumat (28/11/2025) lalu.
Baca juga:
“Ini adalah kemenangan bersejarah, dan kemenangan ini milik para pihak yang memperjuangkan perlindungan ini. Negara-negara di Amerika Latin, Afrika, Pasifik, dan Asia bersatu dalam menunjukkan kepemimpinan dan solidaritas yang kuat, dengan menyetujui setiap usulan perlindungan hiu dan ikan pari," kata Direktur Konservasi Hiu dan Ikan Pari di Wildlife Conservation Society, Luke Warwick, dilansir dari AP, Rabu (3/12/2025).
Keputusan itu lahir dari kekhawatiran besar, khususnya terkait penangkapan berlebihan dan krisis iklim yang membuat banyak spesies hiu dan pari berada di ambang kepunahan.
Untuk itu, negara-negara di dunia sepakat memperketat perdagangan global yang selama ini mendorong penurunan populasi sangat cepat.
Dunia menyepakati perlindungan baru bagi 70 jenis hiu, ada yang dilarang dan ada pula yang diperketat perdagangannya. Simak selengkapnya.Dalam konferensi tersebut, terdapat kesepakatan bahwa perdagangan whitetip sharks (hiu putih laut), manta, devil rays, serta whale sharks (hiu paus) dilarang.
Tidak hanya itu, regulasi untuk untuk gulper sharks (hiu gulper), smoothhound sharks (hiu smoothhound), dan tope sharks (hiu tope) diperketat. Artinya, mereka dapat diperdagangkan, tapi harus ada bukti bahwa sumbernya legal, berkelanjutan, dan dapat dilacak.
Para delegasi juga menyetujui zero-annual export quotas untuk beberapa jenis guitarfish dan wedgefish.
Kebijakan ini membuat perdagangan internasional yang legal untuk spesies itu hampir sepenuhnya berhenti.
Baca juga:
Dunia menyepakati perlindungan baru bagi 70 jenis hiu, ada yang dilarang dan ada pula yang diperketat perdagangannya. Simak selengkapnya.Dari sisi konservasi global, keputusan itu menegaskan perubahan besar cara dunia melihat hiu.
Senior Program Manager di International Fund for Animal Welfare, Barbara Slee menyebut keputusan tersebut sebagai "kemenangan bersejarah".
"Ini adalah kemenangan bersejarah bagi hiu, sesuatu yang kami sangat harapkan. Data ilmiah secara jelas menunjukkan bahwa hiu perlu diperlakukan sebagai isu konservasi, bukan sebagai sumber daya perikanan," kata Slee, dilansir dari AFP.
Slee menambahkan, selama berabad-abad, hiu sudah diburu manusia untuk diambil sirip dan dagingnya.
"Orang mungkin takut pada hiu, tapi kenyataannya kita jauh lebih berbahaya bagi mereka, dengan lebih dari 100 juta hiu dibunuh setiap tahun," ucap dia.
Perlindungan baru ini, lanjutnya, akan membantu mengubah keseimbangan tersebut, sekaligus mengakui serta menghormati hiu-hiu ini sebagai lebih dari sekadar komoditas perikanan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya